Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mendorong percepatan pemanfaatan teknologi di sektor pertanian dan peternakan. Menurut dia, ketergantungan terhadap pola produksi konvensional membuat biaya menghasilkan komoditas pangan di Indonesia masih relatif tinggi.
Hal itu disampaikan Zulhas saat menghadiri Halaqah Kebangsaan Ekonomi Bisnis Pesantren 2026 di Aula Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang.
Advertisement
Zulhas menyoroti kesenjangan biaya produksi pangan Indonesia dengan sejumlah negara lain. Ia menyebut ongkos produksi beras di Indonesia berada di kisaran Rp 12.000 per kilogram. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan biaya produksi beras di China, India, Thailand, dan Vietnam yang disebut hanya sekitar Rp 3.800 per kilogram.
Kondisi serupa terjadi pada komoditas gula. Zulhas menyebut biaya produksi gula pasir di Indonesia mencapai sekitar Rp 14.000 per kilogram. Sementara di sejumlah negara pembanding, biaya produksinya berada di kisaran Rp 3.700 hingga Rp 3.800 per kilogram.
"Orang lebih kaya mengeluarkan lebih sedikit biaya produksi, kita lebih susah mengeluarkan lebih banyak," kata Zulhas.
Perbaiki Cara Produksi
Menurutnya, persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan hanya dengan meningkatkan volume produksi. Indonesia juga harus memperbaiki cara produksi melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Zulhas bahkan mengaitkan rendahnya efisiensi produksi dengan lemahnya kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi terhadap perkembangan zaman.
"Ini hukuman kalau kita tidak bersyukur, hukuman karena kita tidak belajar. Itu ada ilmunya semua yang harus kita pelajari," ujarnya.
Artikel Zulhas Ungkap Biaya Produksi Beras RI Lebih Mahal Dibanding China dan Vietnam menyita perhatian pembaca di Kanal Bisnis Liputan6.com. Ingin tahu artikel terpopuler lainnya di Kanal Bisnis Liputan6.com. Berikut tiga artikel terpopuler di Kanal Bisnis Liputan6.com yang dirangkum pada Sabtu, (29/8/2026):
1. Zulhas Ungkap Biaya Produksi Beras RI Lebih Mahal Dibanding China dan Vietnam
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mendorong percepatan pemanfaatan teknologi di sektor pertanian dan peternakan. Menurut dia, ketergantungan terhadap pola produksi konvensional membuat biaya menghasilkan komoditas pangan di Indonesia masih relatif tinggi.
Hal itu disampaikan Zulhas saat menghadiri Halaqah Kebangsaan Ekonomi Bisnis Pesantren 2026 di Aula Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang.
Zulhas menyoroti kesenjangan biaya produksi pangan Indonesia dengan sejumlah negara lain. Ia menyebut ongkos produksi beras di Indonesia berada di kisaran Rp 12.000 per kilogram. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan biaya produksi beras di China, India, Thailand, dan Vietnam yang disebut hanya sekitar Rp 3.800 per kilogram.
Kondisi serupa terjadi pada komoditas gula. Zulhas menyebut biaya produksi gula pasir di Indonesia mencapai sekitar Rp 14.000 per kilogram. Sementara di sejumlah negara pembanding, biaya produksinya berada di kisaran Rp 3.700 hingga Rp 3.800 per kilogram.
"Orang lebih kaya mengeluarkan lebih sedikit biaya produksi, kita lebih susah mengeluarkan lebih banyak," kata Zulhas.
2. Mendag Ingin Harga Daging Ayam Stabil di Rp 40 Ribu per Kg
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso ingin menjaga harga daging ayam ras di tingkat ideal sekitar Rp 40 ribu per kilogram agar peternak tetap berproduksi dan konsumen memperoleh harga yang terjangkau.
Budi menyebut harga rata-rata daging ayam ras secara nasional mencapai sekitar Rp 41 ribu per kilogram per 26 Agustus 2026. Pemerintah menilai harga tersebut perlu dikendalikan agar tidak kembali melonjak maupun jatuh terlalu rendah.
“Termasuk ayam, ayam sekarang Rp 41 ribu. Idealnya nanti kita komunikasikan dengan teman biar menjadi Rp 40 ribu maksimal,” kata Budi dalam konferensi pers Kick Off Road to Hari Belanja Nasional (Harbolnas) 2026 di Kementerian Perdagangan, Kamis (27/8/2026).
Budi mengatakan harga daging ayam sebelumnya sempat anjlok hingga berada jauh di bawah harga acuan. Kondisi tersebut membuat peternak kesulitan menutup biaya produksi karena harga pakan dan biaya operasional tetap harus dibayar.
Berita selengkapnya baca di sini
3. Rusun Subsidi Meikarta Belum Dijual, Masih Tunggu Proses Hibah di Kemenkeu
Chairman Lippo Group, James Riady mengatakan rumah susun (rusun) subsidi belum akan dijual dalam waktu sekat. Lantaran, masih ada proses legalitas yang perlu diselesaikan. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) masih memproses hibah lahan seluas 31,3 hektare di kawan Meikarta, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat untuk lokasi pembangunan rusun subsidi. Kendati begitu, James menyebut belum ada rencana penjualan unitnya.
"Belum, belum. Karena proses legalitasnya dan proses hukumnya di (kementerian) Keuangan, lalu ke DPR masih berlangsung," ujar James, ditemui di sela-sela Danantara Housing Expo, di NICE PIK, Tangerang, Banten, dikutip Jumat (28/8/2026).
Adapun, dia menargetkan proses pembangunan rusun subsidi seperti finalisasi atap atau topping off dilakukan akhir 2026 ini. "Topping off direncanakan akhir tahun ini," singkatnya.
Sebelumnya, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait mengungkap keunggulan rumah susun (rusun) subsidi yang akan dibangun di lahan Meikarta di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat. Rusun bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) itu hanya butuh 10 menit ke pusat ekonomi.
Berita selengkapnya baca di sini