Liputan6.com, Bangkok - Kapal induk USS Abraham Lincoln milik Amerika Serikat (AS) akan singgah di Thailand setelah menjalani penugasan panjang dan berat di Timur Tengah. Demikian disampaikan pejabat Thailand pada Rabu (26/8/2026).
Abraham Lincoln sebelumnya dikerahkan dalam perang Iran. Dalam penugasan tersebut, kapal induk itu mencatat rekor berada di laut selama lebih dari 250 hari tanpa jeda.
Advertisement
Lamanya penugasan Abraham Lincoln memicu kekhawatiran terhadap kondisi awak kapal. Sejumlah laporan menyebut kesehatan mental sebagian awak memburuk, sementara persediaan sejumlah kebutuhan, termasuk makanan dan perlengkapan kebersihan, juga sempat menipis.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Thailand Surasant Kongsiri mengatakan Abraham Lincoln akan singgah di Thailand pekan depan agar para awak dapat beristirahat sebelum kembali ke pangkalannya di AS.
"Persinggahan di Thailand memberi kesempatan bagi para awak untuk turun ke darat dan beristirahat," kata Surasant dalam konferensi pers di Bangkok seperti dilaporkan Associated Press.
Angkatan Laut Kerajaan Thailand pada Selasa (25/8) mengatakan tiga kapal dari kelompok tempur kapal induk Angkatan Laut AS dijadwalkan singgah di wilayah timur Thailand. Tidak ada latihan militer yang akan digelar selama kunjungan tersebut.
Penugasan kapal induk dalam waktu lama dapat memberi tekanan besar bagi para personel yang harus berbulan-bulan jauh dari rumah. Masa operasi yang panjang juga menambah beban pada kapal dan berbagai peralatannya.
Meski pertempuran terbaru antara AS dan Iran mereda dalam beberapa pekan terakhir, Angkatan Laut AS masih memberlakukan kembali blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di Selat Hormuz. Pemerintahan Presiden Donald Trump juga belum menjelaskan bagaimana konflik tersebut akan diakhiri. Pekan ini, perang Iran memasuki bulan keenam.
Akui Kendala Pasokan di USS Abraham Lincoln
Secara terpisah pada Rabu, Kepala Operasi Angkatan Laut AS Laksamana Daryl Caudle mengatakan perang terhadap Iran dimulai dengan operasi yang dirancang secara mendadak demi menjaga unsur kejutan. Karena itu, Angkatan Laut AS membutuhkan waktu untuk menata sistem pengiriman perbekalan ke kapal-kapal yang tetap beroperasi di laut.
Menurut Caudle, persoalan di Abraham Lincoln bukan kekurangan makanan berprotein atau sayuran, melainkan barang-barang seperti perlengkapan kebersihan, minuman energi, dan minuman bersoda yang biasanya diharapkan tersedia oleh para pelaut selama penugasan panjang.
Ia menjelaskan, suku cadang, makanan, dan berbagai kebutuhan tambahan memiliki jalur pasokan yang berbeda sehingga masing-masing perlu ditata agar pengirimannya berjalan lancar.
"Kami harus memastikan semua jalur itu berjalan dengan baik," tutur Caudle.
Ia mengakui Angkatan Laut AS sempat menghadapi sejumlah kendala dalam sistem pengisian perbekalan di laut.
"Wajar jika ada kritik bahwa pada awal Epic Fury ada sejumlah kendala sampai kami berhasil membenahi sistem tersebut," kata Caudle, merujuk pada nama sandi perang itu. "Saya rasa sekarang sistemnya sudah berjalan dengan baik."
Kedutaan Besar AS di Bangkok belum menanggapi permintaan komentar mengenai rencana persinggahan Abraham Lincoln di Thailand. Angkatan Laut AS juga menolak berkomentar.