Direktur CIA Terbang Diam-diam ke Rusia, Trump hingga Kremlin Buka Suara

Direktur CIA John Ratcliffe terbang diam-diam ke Moskow, Rusia memicu beragam spekulasi.

oleh Septian DenyDiterbitkan 27 Agustus 2026, 14:00 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Ruang Oval, Gedung Putih. (Dok. AP/Alex Brandon)

Liputan6.com, Washington - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump buka suara terkait kunjungan Direktur CIA John Ratcliffe ke Moskow. Dia menyebut kunjungan tersebut sebagai sesuatu yang 'semi-rutin'.

Kunjungan rahasia itu sebelumnya memicu berbagai spekulasi mengenai alasan kedatangannya ke ibu kota Rusia.

Ratcliffe dilaporkan terbang ke Moskow pada Selasa menggunakan pesawat transportasi pemerintah. Ia berangkat dari Pangkalan Angkatan Udara Andrews di Maryland, dalam sebuah kunjungan yang tergolong jarang dilakukan.

Gedung Putih, CIA, Pentagon, dan Angkatan Udara AS menolak memberikan komentar mengenai kunjungan tersebut. 

Dikutip dari The Guardian, Kamis (27/8/2026), dalam wawancara dengan pembawa acara radio konservatif Glenn Beck, Trump membantah spekulasi bahwa Ratcliffe datang ke Moskow karena kekhawatiran Presiden Rusia Vladimir Putin sedang berencana “menguji keteguhan NATO”.

Trump juga menepis dugaan bahwa kepala CIA itu berada di Rusia untuk mendapatkan kerja sama Moskow dalam memperkuat sanksi AS terhadap Iran.

“Tidak satu pun dari itu,” kata Trump menanggapi Beck, yang menyebut berbagai spekulasi tersebut sebagai sesuatu yang 'gila'.

Menurut Trump, kunjungan Ratcliffe bersifat “sangat, semacam semi-rutin”. Ia mengatakan Amerika Serikat ingin melihat perang di Ukraina berakhir.

Trump juga memuji Ratcliffe sebagai sosok yang luar biasa. Ia menegaskan bahwa kepala CIA tersebut tidak berada di Moskow untuk alasan-alasan yang disebutkan dalam spekulasi, meskipun menurutnya masih mungkin ada sesuatu yang muncul dari kunjungan tersebut.

“Kami bekerja sangat keras untuk mengakhiri perang itu,” ujar Trump.

Ia menambahkan bahwa saat ini kedua pihak juga ingin melihat perang tersebut berakhir.

 

 

Dikaitkan dengan Peringatan kepada Rusia

Presiden Donald Trump menyambut Presiden Rusia Vladimir Putin. (Dok. AP/Julia Demaree Nikhinson)

Pada Rabu, Wall Street Journal melaporkan, dengan mengutip orang-orang yang mendapat pengarahan mengenai kunjungan tersebut, bahwa tujuan perjalanan mendadak Ratcliffe adalah memperingatkan Rusia agar tidak menyerang negara-negara NATO.

Kunjungan Ratcliffe menjadi kunjungan pertama seorang direktur CIA ke Moskow sejak pendahulunya, Bill Burns, melakukan perjalanan ke ibu kota Rusia pada November 2021. Saat itu, Burns memperingatkan Putin mengenai konsekuensi jika Rusia menyerang Ukraina.

Rusia tetap melancarkan serangan pada Februari tahun berikutnya.

Upaya Trump untuk mengakhiri perang di Ukraina, yang sebelumnya pernah ia janjikan akan diselesaikan pada 'hari pertama' masa jabatan keduanya, sejauh ini belum berhasil, meskipun ia memiliki hubungan personal yang bersahabat dengan Putin.

Washington dan Moskow kini berada di sisi yang berseberangan setelah keputusan Trump pada Februari lalu untuk berperang dengan Iran. Teknologi satelit Rusia disebut telah digunakan untuk membantu pasukan Iran melakukan penargetan secara presisi terhadap pangkalan AS dan sekutunya di kawasan Teluk serta wilayah lainnya.

Di tengah kebuntuan dalam konflik militer tersebut, Departemen Keuangan AS pada pekan ini memperkenalkan program baru perang ekonomi terhadap rezim Teheran. Program itu mencakup sanksi sekunder terhadap negara-negara yang melakukan perdagangan dengan Iran.

Menurut para ahli, agar langkah tersebut efektif, Amerika Serikat membutuhkan kerja sama negara-negara yang menjadi sekutu Iran, seperti Rusia dan China.

Ratcliffe Tak Bertemu Putin

Keberadaan Ratcliffe di Moskow dikonfirmasi pada Rabu oleh juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov.

Dia mengatakan Ratcliffe tidak bertemu dengan Putin selama berada di Moskow.

Peskov tidak menjelaskan alasan kunjungan Ratcliffe. Namun, ia menyebut perkiraan bahwa perjalanan tersebut akan membawa peningkatan hubungan AS-Rusia sebagai sesuatu yang prematur, menurut laporan Washington Post.

Peskov mengatakan bahwa kontak melalui jalur badan intelijen pada dasarnya merupakan hal positif. Menurutnya, komunikasi semacam itu kerap tetap berlangsung bahkan ketika hubungan bilateral berada dalam kondisi paling sulit.

Namun, ia menilai masih terlalu dini untuk mengatakan apakah kontak tersebut akan berdampak pada upaya membawa hubungan AS-Rusia keluar dari krisis mendalam yang tengah mereka hadapi.

Di tengah perkembangan diplomatik tersebut, situasi di lapangan tetap tegang. Dalam beberapa hari terakhir, Ukraina menargetkan infrastruktur energi Rusia dan fasilitas ritel daring melalui serangan jarak jauh.

Pada saat yang sama, Rusia meningkatkan serangan drone dan rudal terhadap Kyiv.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya