Liputan6.com, Labuan Bajo - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk atau Telkom bersama operating company TelkomGroup telah menyalurkan bantuan kemanusiaan senilai Rp1,3 miliar bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Bantuan tersebut di luar dukungan konektivitas yang diberikan di wilayah terdampak.
Penyaluran dilakukan secara bertahap ke lebih dari 10 wilayah untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat pada masa tanggap darurat dan pemulihan pascabencana.
Advertisement
Sejak penyaluran bantuan pertama, TelkomGroup berkoordinasi dengan Danantara, BP BUMN, BNPB, BPBD setempat, Kementerian Kesehatan, serta sejumlah pihak terkait. Koordinasi dilakukan untuk memetakan kebutuhan masyarakat, cakupan wilayah terdampak, serta menentukan mekanisme penyaluran bantuan agar dapat diberikan secara tepat sasaran.
SGM Social Responsibility Telkom Hery Susanto menyampaikan bahwa, kehadiran TelkomGroup dalam situasi bencana merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk membantu masyarakat bangkit dan kembali menjalankan aktivitasnya.
“TelkomGroup berkomitmen untuk selalu hadir di tengah masyarakat, khususnya ketika terjadi situasi darurat dan bencana. Bantuan yang kami salurkan merupakan bentuk kepedulian sekaligus upaya untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak. Kami berharap dukungan ini dapat meringankan beban saudara-saudara kita di NTT dan menjadi bagian dari proses pemulihan mereka. Dalam penyaluran bantuan ini, TelkomGroup terus berkoordinasi dan bersinergi dengan berbagai pihak terkait untuk memahami kebutuhan masyarakat di lapangan dan mengidentifikasi dukungan yang dapat diberikan TelkomGroup secara tepat dan optimal,” pungkas Hery.
3,65 Ton Bantuan Disalurkan dari Posko BNPB Halim
Melalui Posko BNPB Halim, TelkomGroup menyalurkan bantuan pada 18 dan 20 Agustus 2026 yang mencakup paket sembako, logistik rumah tangga, perlengkapan bayi dan anak, obat-obatan, serta kebutuhan kebersihan. Dari kedua tahap tersebut, secara keseluruhan sebanyak 3,65 ton bantuan telah didistribusikan dan dimanfaatkan masyarakat, terutama di titik-titik pengungsian.
Dukungan kemudian diperluas ke sejumlah wilayah, antara lain Nagekeo, Reo, Ruteng, Maumere, Bima, Lewur, dan Lambelada Selatan. Penyaluran dilakukan melalui koordinasi dengan BPBD setempat dan posko pengungsian untuk memastikan bantuan dapat menyesuaikan kebutuhan di lapangan.
Untuk menjangkau masyarakat di wilayah terisolir seperti Londar Pesisir Utara, Desa Sarae Naru, Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat, TelkomGroup turut menyalurkan bantuan melalui BPBD Ruteng via jalur laut.
Dapur Umum hingga Layanan Kesehatan Disiapkan
Selain bantuan logistik, TelkomGroup juga memenuhi kebutuhan masyarakat di lokasi pengungsian melalui dukungan dapur umum, layanan kesehatan, dan penyediaan air bersih. Di Kecamatan Wae Rii, Kabupaten Manggarai, TelkomGroup mendukung operasional dapur umum bagi sekitar 1.100 jiwa, serta posko kesehatan dan obat-obatan di Desa Golo Mendo.
Sementara di Desa Wudi, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, Telkom mendukung operasional dapur umum sekaligus suplai air bersih yang menjadi kebutuhan utama. Untuk memperkuat layanan kesehatan, TelkomGroup juga menyiapkan bantuan melalui Kementerian Kesehatan berupa alat laboratorium dan unit sanitasi portable yang rencana akan didistribusikan pada 27 Agustus 2026.
Bagi TelkomGroup, dukungan terhadap masyarakat terdampak bencana tidak berhenti pada masa tanggap darurat, tetapi berlanjut seiring kebutuhan masyarakat memasuki fase pemulihan. Melalui koordinasi dan kolaborasi dengan berbagai pihak, TelkomGroup terus mengarahkan dukungan pada kebutuhan yang relevan di lapangan, mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar hingga dukungan terhadap layanan kesehatan dan operasional dapur umum.
Sejalan dengan semangat “Bersama Jadi Bisa”, TelkomGroup akan terus hadir mendampingi masyarakat NTT dalam proses pemulihan pascabencana. Lebih dari sekadar bantuan dalam situasi darurat, langkah ini menjadi bagian dari upaya TelkomGroup untuk menguatkan semangat, menumbuhkan optimisme, dan menjaga harapan masyarakat NTT di tengah proses pemulihan pascabencana.
(*)