Liputan6.com, Jakarta - Harga emas melonjak ke level tertinggi lebih dari tiga bulan pada perdagangan Senin, 24 Agustus 2026 (Selasa pagi Jakarta). Kenaikan harga emas dunia didorong oleh aksi beli secara teknikal di tengah tren kenaikan harga yang dipicu oleh pengumuman pembelian kembali atau buyback oleh Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) baru-baru ini . Selain itu, dolar AS yang tertekan menjelang rilis data inflasi dan Simposium Jackson Hole pekan ini.
Mengutip CNBC, Selasa (25/8/2026), harga emas spot naik 0,7% menjadi US$ 4.635,39 per ons, mencapai level tertinggi sejak 14 Mei. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember naik 0,4% dan ditutup pada level US$ 4.697,80 per ons.
Advertisement
“Faktor fundamental dan teknikal tampak selaras mendukung tren kenaikan (bullish) bagi pasar emas pada awal pekan perdagangan ini,” Analis American Gold Exchange, Jim Wykoff.
Ia menuturkan, imbal hasil obligasi telah stabil, bahkan sedikit turun sehingga turut memberikan dukungan untuk harga emas.
Dengan tren harga yang cenderung naik, Wyckoff menyatakan, arah pergerakan emas yang paling mungkin terjadi "akan terus bergerak mendatar hingga naik" dalam beberapa minggu mendatang, kecuali jika muncul sinyal pembalikan arah secara teknikal.
Pekan lalu, harga emas berhasil menembus level rata-rata pergerakan (moving average) 200 hari, yang semakin memperkuat momentum kenaikan harga.
Menurut World Gold Council, ETF yang didukung emas juga mencatat arus masuk sebesar 46,7 metrik ton (senilai US$ 6,4 miliar atau Rp 113,40 triliun, asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 17.720 ) pada pekan lalu, angka permintaan mingguan tertinggi dalam 10 bulan terakhir, dengan dana yang terdaftar di Amerika Utara dan Eropa memimpin arus masuk tersebut.
Fokus Pasar
Harga emas batangan naik lebih dari 5% pekan lalu setelah rencana dukungan pembelian kembali oleh Departemen Keuangan AS menekan nilai dolar ke level terendah dalam beberapa bulan, sehingga membuat emas batangan yang dihargai dalam dolar AS menjadi lebih murah bagi pembeli asing.
Fokus pasar juga tertuju pada pidato kebijakan yang akan disampaikan pekan ini di Amerika Serikat dan Jepang.
Pelaku pasar menantikan rilis indeks harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditure atau PCE), indikator inflasi yang menjadi acuan utama Federal Reserve pada Rabu, serta pidato perdana Ketua Kevin Warsh di Simposium Jackson Hole pada Jumat, guna memantau prospek suku bunga.