Tradisi Maulid Nabi di Berbagai Negara, dari Pawai Meriah hingga Gunungan Khas Jawa

Beragam cara dilakukan umat Muslim untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW melalui tradisi yang dipengaruhi budaya lokal.

oleh Alfareza RamadhaniDiterbitkan 25 Agustus 2026, 10:30 WIB
Sebuah masjid dihiasi dengan lampu-lampu untuk menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW di Karachi, Pakistan, Jumat, 13 September 2024. (AP Photo/Fareed Khan)

Liputan6.com, Jakarta - Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi salah satu peringatan penting yang dirayakan umat Islam di berbagai penjuru dunia. Peringatan yang berlangsung setiap 12 Rabiul Awal dalam kalender Islam tersebut menjadi momentum untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW, sosok yang menjadi teladan bagi umat Muslim.

Maulid Nabi diakui sebagai hari libur nasional di sebagian besar negara dengan mayoritas penduduk Muslim di dunia, seperti Indonesia, Brunei, Mesir, Yordania, Kuwait, Lebanon, Maladewa, Maroko, Nigeria, Oman, Pakistan, dan Tunisia.

Selain dirayakan di hampir semua negara Islam, beberapa negara lain yang memiliki populasi Muslim yang signifikan, seperti Etiopia, India, Britania Raya, Rusia, dan Kanada, juga merayakan hari ini sebagai hari libur nasional.

Setiap negara memiliki perayaan Maulid Nabi yang berbeda-beda. Kegiatan keagamaan seperti pembacaan Al-Qur’an, selawat, ceramah mengenai kehidupan Nabi, pembacaan syair, serta pemberian makanan dan sedekah pada masyarakat menjadi tradisi di sejumlah wilayah.

Pakistan termasuk ke dalam negara yang memiliki perayaan Maulid Nabi dengan suasana semarak. Peringatan di ibu kota negara diawali dengan 31 kali tembakan penghormatan, sedangkan ibu kota provinsi menggelar 21 kali tembakan.

Masjid hingga jalanan dihiasi lampu, bendera, dan spanduk yang berkaitan dengan peringatan tersebut, melansir Muslim Mate, Senin, 24 Agustus 2026. Pawai menjadi salah satu kegiatan yang banyak menarik perhatian masyarakat Pakistan.

Peserta berkumpul di sejumlah titik sambil melantunkan naat atau syair pujian pada Nabi Muhammad SAW. Replika tempat-tempat suci dalam sejarah Islam, termasuk Masjid Nabawi, turut ditampilkan di beberapa kawasan.

Tradisi Maulid Nabi di India, Tunisia, dan Lebanon

Kemeriahan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar kaum Sufi di Sidon, Lebanon (30/11). Maulid Nabi Muhammad SAW ini selalu diperingati pada tanggal 12 Rabiul Awal kalender Hijriah. (AFP Photo/Mahmoud Zayyat)

Beberapa komunitas di India menjalankan ritual Sandal yang berkaitan dengan simbol jejak kaki Nabi Muhammad SAW yang terukir pada batu. Mumbai dan Lucknow menjadi lokasi berlangsungnya pawai yang membawa berbagai representasi tempat suci di Makkah dan Madinah.

Di Tunisia, Maulid Nabi Muhammad SAW ditetapkan sebagai hari libur nasional sehingga sekolah, bank, dan pasar tidak beroperasi. Keluarga memanfaatkan momen tersebut untuk berkumpul dan menikmati hidangan khas bernama assida, makanan manis yang menjadi bagian dari tradisi setempat.

Rangkaian kegiatan keagamaan di Tunisia berpusat di Masjid Oqba Ibn Nafaa, Kairouan. Upacara tersebut dihadiri tokoh agama dan sejumlah pejabat. Pembacaan Al-Qur'an, serta ceramah dari ulama menjadi bagian dari kegiatan yang berlangsung dalam suasana khidmat.

Di kota Sidon, Lebanon Selatan, umat Muslim Sufi menusuk pipi mereka dengan tusuk sate dalam sebuah ritual untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Para derwis yang berputar tampil di kota Tripoli, Lebanon utara, sambil berputar seperti planet mengelilingi matahari, sehingga mengubah tarian menjadi suatu bentuk ibadah.

Tradisi Maulid Nabi di Indonesia Berpadu dengan Budaya Lokal

Warga Banyuwangi gelar endhog-endhogan peringati maulid Nabi Muhammad SAW

Indonesia pun memiliki ragam tradisi Maulid Nabi yang memperlihatkan pertemuan antara nilai keagamaan dan budaya lokal. Jawa menjadi salah satu wilayah dengan berbagai bentuk perayaan yang telah berkembang di tengah masyarakat dari generasi ke generasi.

Masyarakat di wilayah Jawa Barat menjalankan ritual tertentu sebagai simbol penyucian diri dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Jawa Tengah memiliki tradisi membawa enam gunungan berbentuk kerucut dari Keraton Kasunanan Surakarta menuju Masjid Agung.

Gunungan tersebut terlebih dahulu didoakan oleh para ulama sebelum dibagikan kepada masyarakat. Tradisi lain melibatkan anak-anak yang telah menyelesaikan khataman Al-Qur’an.

Mereka mengenakan pakaian khusus dan mengikuti prosesi bersama keluarga, teman, serta warga di sekitar tempat tinggal. Beberapa anak bahkan mengikuti arak-arakan dengan menaiki kuda sebagai bagian dari kemeriahan acara.

Menelusuri Sejarah dan Makna di Balik Perayaan Maulid Nabi

maulid nabi adalah ©Ilustrasi dibuat AI

Catatan mengenai kegiatan untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW bermunculan dalam berbagai periode sejarah Islam. Tradisi tersebut kemudian berkembang dengan bentuk yang berbeda sesuai dengan lingkungan sosial dan budaya masing-masing wilayah.

Salah satu perayaan formal yang tercatat dalam sejarah berlangsung di Arbela, Irak, pada 1207 Masehi. Kegiatan tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam perkembangan tradisi Maulid. Perayaan kemudian berkembang ke wilayah lain, termasuk Mesir dan Makkah, dengan bentuk kegiatan yang semakin beragam.

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW menduduki posisi yang kokoh dalam kehidupan keagamaan masyarakat. Kegiatan Maulid umumnya berisi pembacaan Al-Qur'an, selawat, ceramah mengenai kehidupan Nabi Muhammad SAW, serta pembahasan mengenai ajaran Islam.

Pembagian makanan dan pemberian bantuan pada masyarakat kurang mampu juga menjadi bagian dari praktik yang ditemukan dalam berbagai komunitas.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya