Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri berharap Jawa Timur kembali menjadi Kandang Banteng, dengan target perolehan kursi setidak-tidaknya menyamai capaian partainya pada Pemilu 2019.
Hal ini disampaikannya saat memberikan pengarahan dalam Konsolidasi PDI Perjuangan Jawa Timur di Surabaya, Minggu 23 Agustus 2026.
Advertisement
Megawati menyinggung militansi kader PDIP di Jawa Timur telah teruji dalam perjalanan sejarah, termasuk ketika menghadapi tekanan politik pada masa Orde Baru.
"Ingat, ketika menghadapi tekanan Orde Baru pun, Jawa Timur hadir sebagai kekuatan pendobrak. Pandegiling dan Sukolilo menjadi bukti militansi arek-arek Banteng Jawa Timur," kata dia.
Megawati meminta seluruh simpatisan, anggota, dan kader PDIP menjaga semangat perjuangan dalam menghadapi berbagai tantangan. Ia menekankan pentingnya menjadikan PDIP sebagai salah satu kekuatan politik utama di Pulau Jawa.
Megawati juga meminta kader menjadikan pemikiran dan perjuangan Bung Karno sebagai landasan untuk menggembleng diri dalam menjalankan tugas-tugas kepartaian.
"Sebab Bung Karno sendirilah yang mengatakan bahwa Surabaya adalah Dapurnya Nasionalisme. Artinya, di sini menjadi tempat penggodokan, penggemblengan, bagi lahirnya pejuang dan patriot-patriot bangsa yang tangguh," ungkap dia.
Megawati menekankan pentingnya kekuatan ide, imajinasi, strategi, dan militansi dalam berpolitik. Ia mengingatkan kader agar tidak menjadikan uang dan kekuasaan sebagai ukuran utama dalam perjuangan politik.
Menurutnya, kekuatan utama PDIP terletak pada ideologi, semangat juang, serta kedekatan dengan rakyat di akar rumput. Karena itu, Megawati meminta seluruh jajaran PDIP Jawa Timur memperkuat basis dan kerja politik di tengah masyarakat melalui konsolidasi tersebut.
"Perkuatlah akar rumput. Jadikan spirit penggemblengan Bung Karno sebagai sumber energi, khususnya di Jawa Timur," jelas dia.
Dapur Nasionalisme
Megawati menegaskan Jawa Timur, khususnya Surabaya, memiliki posisi penting dalam sejarah perjuangan dan pembentukan pemikiran Presiden Pertama RI Soekarno atau Bung Karno. Menurutnya, Bung Karno bahkan menyebut Surabaya sebagai dapur nasionalisme.
"Dalam perspektif ideologis dan historis, Jawa Timur sangat penting. Karena Bung Karno lahir, dibesarkan, dan menggembleng diri di Jawa Timur ini. Surabaya, Mojokerto, dan Blitar penuh dengan rekam jejak sejarah perjuangan Bung Karno. Beliau sendiri menyebutkan Surabaya merupakan dapurnya nasionalisme," ungkapnya.
Megawati mengatakan Surabaya menjadi salah satu tempat penting bagi Bung Karno dalam menempa pemikiran intelektual dan gagasan perjuangannya. Di kota itu, Bung Karno menamatkan pendidikan di HBS (Hoogere Burgerschool) sekaligus berguru kepada HOS Tjokroaminoto.
Menurut Megawati, Bung Karno sempat tinggal di sebuah ruangan sempit tanpa jendela dengan penerangan lampu teplok. Meski dalam keterbatasan, ia terus membaca dan berdialog secara intelektual melalui buku-buku karya berbagai tokoh dunia, mulai dari Thomas Jefferson, George Washington, William Gladstone, Karl Marx, Sun Yat-sen, Mustafa Kemal Atatürk, hingga Jean-Jacques Rousseau.
"Surabaya dengan demikian menjadi tempat di mana Bung Karno menggembleng diri menjadi patriot yang tangguh. Dari usia yang begitu muda, 16 tahun, beliau telah berimajinasi dan kemudian berjuang untuk Indonesia Merdeka," urai Megawati.
Megawati mengatakan generasi muda saat ini dapat belajar dari Bung Karno tentang kekuatan pemikiran, imajinasi, keberanian, dan semangat perjuangan. Menurutnya, Bung Karno menjadi contoh anak muda yang hidup dalam keterbatasan, tetapi memiliki visi besar dan pandangan jauh ke depan bagi masa depan bangsa.
"Surabaya pada tahun 1916 sudah menjadi pusat kapitalisme global. Namun Bung Karno bisa membuktikan bahwa kekuatan kolonialisme terbesar di dunia, yakni Hindia Belanda, bisa dikalahkan melalui kemerdekaan Indonesia. Jadikan ini sebagai pembelajaran bagi anak-anak muda untuk berani bermimpi. Bung Karno berjuang dari sosok pemuda miskin, namun punya cita-cita besar dan berjuang bagi cita-citanya," jelas dia.