Liputan6.com, Jakarta - Perum Bulog memastikan pasokan beras untuk wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) tetap aman. Selain stok yang tersedia, Bulog menyiapkan tambahan cadangan melalui mobilisasi nasional (Move Nas) sebanyak 67.446 ton.
Tambahan stok tersebut tidak langsung dikirim seluruhnya ke NTT. Bulog menerapkan pola distribusi secara bertahap agar penyaluran lebih efektif sekaligus menghindari penumpukan beras di gudang yang memiliki kapasitas terbatas.
Advertisement
Pasokan tambahan tersebut berasal dari sejumlah wilayah di Indonesia. Rinciannya, 3.000 ton dari Jakarta, 20.646 ton dari Jawa Timur, 8.850 ton dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, serta 35.250 ton dari Nusa Tenggara Barat (NTB).
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menjelaskan, stok tersebut akan didistribusikan mengikuti kebutuhan masing-masing wilayah. Daerah dengan tingkat konsumsi lebih tinggi akan menjadi prioritas untuk mendapatkan pasokan tambahan.
"Jadi Move Nas yang kami laporkan totalnya 67.000 lebih kurang. Jadi yang 67.000 ini ya, bergerak sesuai dengan kebutuhan," ungkap Ahmad Rizal dalam konferensi pers Update Penanggulangan Bencana Alam di Nusa Tenggara Timur, di kantor pusat Perum Bulog, Minggu (23/8/2026).
Ahmad Rizal mencontohkan, ketika stok di wilayah seperti Manggarai atau daerah lain dengan permintaan tinggi mulai menipis, Bulog akan segera mengirim pasokan dari wilayah terdekat.
"Begitu ini mau habis, ini sudah kira-kira tinggal 3/4 gitu atau setengahnya, ini sudah bergerak, yang dari Jawa Timur atau dari NTB yang terdekat," tegasnya.
Kapasitas Gudang Bulog Terbatas
Selain Jawa Timur dan NTB, Bulog juga menyiapkan dukungan distribusi dari DKI Jakarta, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Selatan. Pengiriman akan disesuaikan dengan kebutuhan di setiap wilayah NTT.
Rizal mengatakan distribusi bertahap dilakukan karena kapasitas gudang Bulog di NTT hanya sekitar 50.400 ton.
"Jadi nanti takutnya kalau ini tidak bisa tempatnya tidak cukup. Jadi menyesuaikan dengan kebutuhan, kita manajemen sedemikian rupa, supaya sesuai dengan kebutuhan yang diharapkan oleh masyarakat," tutupnya.
Kebutuhan Beras untuk Warga Terdampak
Bulog memperkirakan kebutuhan beras selama masa tanggap darurat untuk 150.576 warga terdampak mencapai sekitar 1.890 ton selama 14 hari.
Namun, Bulog juga mengantisipasi kemungkinan masa tanggap darurat diperpanjang hingga 10 kali. Dengan skenario tersebut, kebutuhan beras untuk penanganan bencana diproyeksikan mencapai sekitar 18.500 ton.
Di luar kebutuhan darurat, Bulog turut menyiapkan distribusi Bantuan Pangan Presiden untuk periode Agustus, September, dan Oktober 2026.
Sebanyak 852.631 penerima bantuan akan mendapatkan masing-masing 10 kilogram beras setiap bulan. Dengan demikian, total kebutuhan beras untuk program tersebut mencapai sekitar 25.578 ton.