Perkuat Industri Komponen, IKM Lokal Bisa Tembus Rantai Pasok Molinas

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) membuka peluang lebih besar bagi industri kecil dan menengah (IKM), untuk menjadi bagian dari rantai pasok motor listrik

oleh Arief AszhariDiterbitkan 21 Agustus 2026, 18:42 WIB
Peluncuran Motor Listrik Nasional Beserta Ekosistem Pendukung, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, pada Kamis, (13/8/2026).

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) membuka peluang lebih besar bagi industri kecil dan menengah (IKM), untuk menjadi bagian dari rantai pasok motor listrik nasional (Molinas). Langkah ini dilakukan agar pertumbuhan kendaraan listrik, tidak hanya mendorong penjualan produk akhir, tetapi juga memperkuat industri komponen dalam negeri sekaligus menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, pembinaan terhadap IKM kini diarahkan agar pelaku usaha mampu memenuhi standar sebagai pemasok industri besar.

Menurutnya, target pemerintah bukan sekadar memperbanyak IKM yang dibina, melainkan memastikan mereka dapat masuk ke rantai pasok dan memperoleh pesanan secara berkelanjutan.

"Target kami bukan sekadar semakin banyak IKM yang mendapatkan pembinaan, tetapi juga memenuhi persyaratan industri, karena IKM harus mampu memenuhi kualifikasi sebagai pemasok, masuk ke dalam rantai pasok, dan pada akhirnya memperoleh pesanan secara berkelanjutan," kata Agus Gumiwang, dalam keterangan resmi, Jumat (21/8/2026).

Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Dua IKM binaan Kemenperin, yakni PT Kannindo Metal Industri dan PT Multikon Rekatama Industri, kini telah menjadi bagian dari ekosistem pendukung Molinas.

Keduanya memproduksi komponen boks baterai dan bracket baterai untuk Molinas Alva, yang berada di bawah PT Electra Mobilitas Indonesia.

Pembinaan Dimulai dari Kebutuhan Industri

Untuk mempercepat keterlibatan IKM, Kemenperin menerapkan pendekatan supplier development dengan menjadikan kebutuhan industri besar dan original equipment manufacturer (OEM) sebagai titik awal pembinaan.

Melalui skema tersebut, kemampuan IKM dipetakan, disesuaikan dengan kebutuhan komponen, lalu menjalani asesmen yang mencakup aspek teknologi, kualitas, kapasitas produksi, engineering, sertifikasi, produktivitas, biaya, hingga ketepatan pengiriman.

Agus menilai pola pembinaan berbasis kebutuhan pasar menjadi kunci agar IKM memiliki orientasi yang jelas.

"Pembinaan IKM harus dimulai dari kebutuhan pasar. OEM dan Tier-1 menyampaikan kebutuhan serta standar yang harus dipenuhi, kemudian pemerintah melakukan pembinaan agar IKM mampu menutup kesenjangan tersebut melalui penguatan teknologi, SDM, kualitas produk, standardisasi, serta akses pengujian," tegas Agus.

Bidik Komponen Bernilai Tambah Tinggi

Ke depan, Kemenperin juga ingin memperluas peluang IKM untuk memproduksi komponen kendaraan listrik dengan nilai tambah lebih tinggi.

Pada tahap awal, peluang terbuka untuk komponen berbasis logam, plastik, karet, jok, bracket, housing, sheet metal, fastener, wiring harness, serta komponen pendukung lainnya.

Sementara bagi IKM yang memiliki kemampuan engineering dan manufaktur lebih maju, pembinaan diarahkan untuk memproduksi battery housing, motor housing, precision machining, komponen kelistrikan, hingga komponen pendukung battery pack dan power electronics.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menambahkan, penguatan kemitraan dengan industri besar, OEM, dan Tier-1 menjadi salah satu instrumen penting agar IKM semakin cepat masuk ke rantai pasok.

"Melalui program business matching yang disertai penyampaian spesifikasi komponen, supplier assessment, pengembangan prototipe, pengujian, hingga kualifikasi pemasok, pemerintah berharap semakin banyak IKM yang berhasil menjadi qualified supplier dan memperoleh kontrak industri secara berkelanjutan," tukas Reni.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya