Liputan6.com, Pyongyang - Kim Yo Jong, adik perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un sekaligus salah satu pejabat berpengaruh di negara itu, mengaku sama sekali tidak tahu soal klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bahwa dirinya baru-baru ini berkomunikasi dengan Kim Jong Un.
Kim Yo Jong mengakui bahwa kakaknya memiliki hubungan yang sangat baik dengan Trump dan secara pribadi menyimpan kenangan serta kesan yang baik terhadap presiden AS tersebut. Namun, dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah pada Rabu (19/8/2026), ia tidak membenarkan klaim Trump soal adanya komunikasi baru-baru ini.
Advertisement
Trump mengatakan kepada wartawan pada Senin (17/8) bahwa Kim Jong Un telah menanggapi permintaannya untuk berbicara. Pernyataan itu disampaikan tak lama setelah Trump meminta agar skala latihan militer gabungan dengan Korea Selatan, sekutu dekat AS sejak lama, dikurangi.
Trump tidak menjelaskan lebih jauh bentuk komunikasi tersebut. Pada Rabu, ia mengatakan pula berniat bertemu Kim Jong Un pada akhir tahun ini, tetapi tidak memberikan rincian. Trump tidak mau menjawab apakah dirinya dan pemimpin Korea Utara itu telah saling berkirim surat.
Menanggapi kabar soal "komunikasi" antara Trump dan kakaknya, Kim Yo Jong seperti dilaporkan CNN mengatakan, "Saya sama sekali tidak mengetahuinya. Mungkin itu satu-satunya hal yang tidak saya ketahui terkait kebijakan luar negeri kepemimpinan tertinggi kami."
Pernyataan Kim Yo Jong menarik perhatian karena ia merupakan salah satu orang kepercayaan utama Kim Jong Un. Ia kerap terlihat mendampingi pemimpin Korea Utara tersebut dan sering menyampaikan pernyataan penting mewakili pemerintahan Pyongyang yang dikenal tertutup.
Latihan militer gabungan AS dan Korea Selatan sejak lama menjadi sumber ketegangan dengan Korea Utara. Kim Yo Jong mengatakan pengurangan skala latihan tidak mengubah sifat provokatif dan ofensif kegiatan tersebut, meski Washington dan Seoul berulang kali menegaskan latihan itu bersifat defensif.
Ia menegaskan bahwa pengurangan skala latihan tersebut tidak seharusnya dianggap sebagai langkah iktikad baik.
Latihan gabungan tahunan itu biasanya berlangsung selama 10 hari. Namun, atas permintaan Washington, latihan tahun ini hanya digelar selama lima hari.
Juru bicara Pasukan AS di Korea mengatakan pekan lalu bahwa latihan tersebut dirancang untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan kemampuan Korea Utara. Latihan mencakup skenario menghadapi drone, gangguan GPS, dan serangan siber.
Skala Latihan Dikurangi secara Mendadak
Sejumlah analis memperingatkan bahwa keputusan Trump mengurangi skala latihan militer dengan Korea Selatan justru berisiko bertentangan dengan tujuannya sendiri, yakni mendorong Seoul mengambil tanggung jawab lebih besar atas pertahanannya.
Latihan tersebut juga mencakup persiapan agar Korea Selatan dapat mengambil alih kendali operasional atas pasukan gabungan Korea Selatan-AS jika perang pecah. Menurut para analis, Seoul belum memegang kewenangan tersebut sejak Perang Korea dimulai pada 1950.
Para analis menilai pengalihan kendali tersebut merupakan tujuan penting bagi kedua negara. Jika Seoul mampu menunjukkan kesiapan memikul tanggung jawab itu, Washington dapat mengambil peran yang lebih terbatas dalam konflik di masa depan. AS tetap dapat memberikan dukungan militer, tetapi sebagian besar tanggung jawab dan biaya pertahanan akan ditanggung Korea Selatan.
Permintaan Trump untuk mengurangi skala latihan muncul pada hari pertama latihan gabungan dimulai, meski persiapannya telah berlangsung berbulan-bulan.
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung secara terbuka menyambut permintaan Trump. Ia kembali menegaskan dukungannya terhadap dialog dengan Korea Utara sekaligus keinginannya agar Korea Selatan memikul tanggung jawab lebih besar atas pertahanannya sendiri.
"Kami memahami tekad dan upaya Presiden Trump untuk menciptakan kondisi bagi dialog guna membangun tatanan perdamaian di Semenanjung Korea, meskipun hal itu berarti mengurangi skala latihan militer gabungan Korea Selatan-AS dan latihan lapangan baru-baru ini. Kami menghargai keputusan tersebut," kata Lee melalui X pada Rabu malam.
Lee menyatakan dirinya sepenuhnya setuju dengan Trump bahwa Korea Selatan harus bertanggung jawab atas keamanan di Semenanjung Korea, sambil membangun kemampuan yang memadai untuk mempertahankan semenanjung secara mandiri dengan meningkatkan belanja pertahanan secara cepat hingga mencapai 3,5 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Saat meminta skala latihan dikurangi, Trump menyinggung hubungannya yang baik dengan Kim Jong Un. Ia menyinggung pula tidak adanya bantuan dari Seoul dalam perang di Iran.
"Saya memiliki hubungan yang baik dengannya," kata Trump kepada wartawan pada Rabu.
"Dan Anda tahu? Fakta bahwa saya memiliki hubungan yang baik dengannya adalah hal yang baik."
Trump bertemu Kim Jong Un sebanyak tiga kali untuk membahas denuklirisasi selama masa jabatan pertamanya sebagai presiden. Namun, perundingan tersebut pada akhirnya tidak membuahkan hasil, sementara program senjata nuklir Korea Utara terus berkembang sejak saat itu.
Pada Kamis (20/8), Menteri Pertahanan Korea Selatan memperkirakan Korea Utara kini memiliki antara 80 hingga 120 hulu ledak nuklir. Jumlah itu jauh lebih tinggi dibandingkan angka yang baru-baru ini disampaikan Trump, yakni 57 senjata nuklir.
Trump pernah mengambil langkah serupa untuk mengurangi latihan bersama dengan Korea Selatan pada masa jabatan pertamanya.
Pada Maret 2019, kedua negara mengumumkan bahwa latihan militer tahunan berskala besar mereka akan diubah dan digelar dalam skala yang lebih kecil.