BMKG Ungkap Waktu Musim Hujan Dimulai

BMKG mengungkap kondisi kemarau dan prediksi musim hujan mendatang.

oleh Delvira HutabaratDiterbitkan 20 Agustus 2026, 17:37 WIB
Ilustrasi Hujan.. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menyatakan, musim kemarau masih terus terjadi di mayoritas Indonesia, sementara musim hujan baru akan datang pada pertengahan Oktober 2026.

"Ini relatif kering dan masih berpotensi berlanjut di wilayah-wilayah tersebut. Kalau dari prediksi BMKG, diperkirakan pada pertengahan Oktober musim hujan baru mulai datang," ujar Teuku di rapat Komisi V DPR, Jakarta, Kamis (20/8/2026). 

Teuku mengungkapkan, dari analisis titik panas ada empat provinsi yang menjadi prioritas saat ini, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Papua Selatan, dan Kalimantan Timur. 

Selain itu, Teuku menyebut pihaknya akan menyiapkan modifikasi cuaca di Jakarta dalam rangka mengatasi polusi udara.

"Tapi kami sampaikan, hujan kemarin itu secara alami. Itu ada pertemuan massa udara basah dari Samudra Hindia dan Pasifik ya, karena sehari sebelumnya untuk OMC kita hentikan sementara. Karena kita yakin bahwa potensi hujan dapat turun dengan sendirinya di kemarin pada saat kita RDP," pungkasnya.

Hujan di Tengah Kemarau

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) angkat bicara mengenai hujan yang tiba-tiba mengguyur Jakarta pada Rabu siang (19/8/2026), di tengah musim kemarau.

Sekretaris Utama BMKG Guswanto memastikan hujan tersebut merupakan fenomena alam dan bukan hasil Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

“Bukan, itu bukan hasil modifikasi cuaca. Itu adalah hujan alami,” ujar Guswanto kepada Liputan6.com, Rabu (19/8/2026).

Guswanto menjelaskan, hujan yang terjadi sekitar pukul 12.30 hingga 14.30 WIB dipicu pertemuan massa udara basah dari Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.

Selain itu, terdapat sirkulasi siklonik di Laut Jawa yang memperkuat pertumbuhan awan hujan. Kondisi atmosfer yang memiliki kelembapan sekitar 96 persen turut mendukung terbentuknya hujan.

“Selain itu, ada sirkulasi siklonik di Laut Jawa yang memperkuat pertumbuhan awan hujannya. Kelembapan atmosfer kita juga sekitar 96 persen, sehingga memicu terjadinya hujan,” jelasnya.

Menurut Guswanto, hujan tersebut tidak hanya terjadi di Jakarta. Sejumlah wilayah di sekitar Jakarta, seperti Pandeglang, Bogor, dan Depok, juga diguyur hujan.

“Hujan bukan hanya di Jakarta saja, tapi sampai ke Pandeglang, Bogor, hingga Depok. Sekarang saja di tempat saya di Citayam juga sedang hujan,” katanya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya