Raksasa Ritel AS Ini Raup Untung Rp 17,76 Triliun dari Pengembalian Tarif Trump

Raksasa ritel Amerika Serikat (AS) Target menjadi salah satu perusahaan yang mendapatkan pengembalian tarif Trump.

oleh Thurfah Mahira AhnafDiterbitkan 20 Agustus 2026, 19:30 WIB
Gerai Target di Amerika Serikat (Foto: AP/Ellen Schmidt)

Liputan6.com, Jakarta - Target, raksasa ritel Amerika Serikat (AS), menerima hampir US$ 1 miliar atau sekitar Rp 17,76 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 17.770) , dalam bentuk pengembalian tarif dari pemerintah AS, sehingga meningkatkan keuntungan terbaru peritel tersebut.

Dilansir dari BBC, Kamis, (20/8/2026), Target mengungkapkan telah menerima penggantian dana sebelum pajak sebesar US$ 994 juta atau Rp 17,69 triliun, yang berdampak pada pendapatan operasional kuartal kedua yang berlipat ganda menjadi US$ 2,6 miliar atau Rp 46,19 triliun dari US$ 1,3 miliar atau Rp 23,09 triliun tahun lalu.

Target merupakan perusahaan terbaru dari sekian banyak bisnis yang mendapatkan potongan pajak atas barang-barang yang diimpor ke AS, menyusul putusan Mahkamah Agung yang menyatakan gelombang tarif impor Presiden AS Donald Trump adalah ilegal.

Namun, Trump terus memberlakukan bea masuk pada barang-barang yang masuk ke AS melalui berbagai cara hukum, sehingga banyak perusahaan masih mendapatkan pajak tambahan.

Pada Selasa, 18 Agustus 2026, Trump mengumumkan penundaan pemberlakuan sejumlah pajak impor baru untuk berbagai barang Kanada selama tiga hari sementara negosiasi mengenai kesepakatan perdagangan terus berlanjut. Ia mengancam akan mengenakan bea masuk 50% pada impor senilai hampir US$ 20 miliar  atau Rp 355,32 triliun dari Kanada. Kedua belah pihak tidak menemukan jalan tengah pada beberapa hal, termasuk tarif AS untuk mobil dan larangan penjualan alkohol Amerika di banyak provinsi Kanada.

Trump menggunakan dan mengancam pemberlakuan tarif terhadap puluhan negara sejak ia kembali ke Gedung Putih tahun lalu. Ia berpendapat bahwa kebijakan perdagangan akan meningkatkan manufaktur dan lapangan kerja AS.

Para ekonom telah memperingatkan konsumen harga dapat meningkat karena perusahaan membebankan biaya tambahan pajak barang impor kepada pelanggan.

Investasi Harga oleh Target

Gerai Target di Amerika Serikat (Foto: AP/Ellen Schmidt)

Awal bulan ini, pejabat bea cukai mengajukan berkas pengadilan yang mengungkapkan pemerintahan Trump telah mengembalikan US$ 100 miliar atau Rp 1.776 triliun dalam bentuk pengembalian tarif "Hari Pembebasan" kepada berbagai bisnis.

Jumlah tersebut mewakili sekitar 60% dari seluruh pendapatan tarif yang dikumpulkan oleh pemerintah berdasarkan kebijakan tersebut, dengan jumlah yang masih harus dikembalikan.

Dikutip dari BBC, ketika ditanya bagaimana Target akan menggunakan pengembalian tarif, Chief Financial Officer (CFO) Target,  Jim Lee tidak memberikan rincian. "Kami telah dan akan terus berinvestasi dalam harga," ujar dia.

Tahun lalu perusahaan itu memangkas proyeksi kinerja yang mereka salahkan pada "lingkungan yang sangat menantang" di tengah penerapan tarif saat itu.

 

Kurangi Ketergantungan pada China

Ilustrasi bendera Republik Rakyat China (AP/Mark Schiefelbein)

Target menyatakan akan berupaya mengurangi ketergantungan pada China untuk pengadaan produk. Produk terlaris mereka adalah barang-barang non-esensial seperti furnitur rumah dan produk kecantikan, yang sebagian besar dipasok dari China. Bahkan, 30% barang dengan merek toko sendiri berasal dari negara tersebut, menurun sejak 2017 yaitu 60%.

Saat ini, peritel tersebut menjalankan rencana pemulihan dengan memangkas harga lebih dari 10.000 item selama setahun terakhir.

"Meski masih ada pekerjaan penting yang harus dilakukan, kami optimis dengan capaian kami dan tetap fokus untuk menjalankan tugas secara disiplin," kata Chief Executive Michael Fiddelke.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya