IBMA Bidik Bursa Mineral untuk Perkuat Ekosistem Emas

IBMA kaji peran bursa mineral untuk memperluas akses produk emas ke pasar bursa sekaligus memperkuat ekosistem bullion nasional.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 20 Agustus 2026, 14:30 WIB
Ilustrasi harga emas dunia. (Gambar by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia Bullion Market Association (IBMA) tengah mengkaji peran bursa mineral guna memperluas akses produk emas ke pasar bursa sekaligus memperkuat ekosistem bullion di Indonesia.

Sekretaris Jenderal IBMA, Anton Sukarna, menjelaskan bahwa studi ini dilakukan untuk memetakan posisi bursa mineral, produk Exchange Traded Fund (ETF) emas, serta para pelaku industri dalam satu ekosistem yang terintegrasi.

"Terkait bursa mineral, kami sedang mempelajari peran bursa ETF, industri emas, dan keseluruhan ekosistemnya secara menyeluruh," ujar Anton dalam konferensi pers peluncuran IBMA, Kamis (20/8/2026).

Anton menambahkan, instrumen emas yang sudah resmi masuk ke pasar modal saat ini adalah ETF beraset dasar (underlying) emas yang diluncurkan sepekan lalu.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum IBMA Selfi Dewiyanti menilai hadirnya ETF emas merupakan sebuah terobosan penting. Ke depan, pergerakan IBMA berpotensi memicu lahirnya lebih banyak produk berbasis emas di bursa, termasuk melalui bursa komoditas.

"Di bursa kita sudah punya ETF berbasis emas dan ini terobosan besar. Ketika IBMA bergerak, tentunya akan lebih banyak produk menarik yang masuk ke bursa, termasuk dari sisi komoditas," jelas Selfi.

Saat ini, IBMA masih melanjutkan kajian mendalam untuk menentukan bentuk keterlibatan bursa mineral sebelum menyampaikan arah pengembangannya secara resmi kepada publik.

IBMA Inventarisasi Industri Emas RI, Siapkan Usulan ke Pemerintah

Ilustrasi harga emas dunia hari ini (Foto By AI)

Indonesia Bullion Market Association (IBMA) akan menginventarisasi seluruh pelaku industri emas secara detail. Langkah ini dilakukan untuk memetakan para pelaku industri berdasarkan sektornya, menghimpun aspirasi mereka, sekaligus merumuskan usulan kebijakan kepada pemerintah. 

Sekretaris Jenderal IBMA, Anton Sukarna, menjelaskan bahwa pemetaan ini menjadi fondasi awal sebelum asosiasi mengajak para pelaku industri untuk bergabung.

"Kami akan menginventarisasi semua pelaku industri secara detail, lalu mengajak mereka masuk ke dalam asosiasi. Ketika semua sudah berkumpul, berbagai kepentingan akan lebih mudah dikumpulkan dan dianalisis untuk menghasilkan usulan prioritas kepada pemerintah," ujar Anton dalam konferensi pers peluncuran IBMA, Kamis (20/8/2026).

Selain pemetaan industri, Anton menegaskan bahwa IBMA juga mengintegrasikan prinsip syariah sejak dini dalam pengembangan asosiasi maupun ekosistem bullion di Indonesia.

Pelibatan aspek syariah dari awal ini bertujuan untuk memastikan seluruh produk dan aktivitas industri emas yang bernaung di bawah IBMA tetap menjunjung tinggi prinsip-prinsip syariah.

"Pelibatan sejak awal terkait dengan konsep aspek syariah IBMA sudah berjalan, sehingga produk dan berbagai kegiatan nantinya sudah memiliki perhatian terhadap aspek syariah sejak awal," kata Anton.

Dorong Bisnis Bullion, Menko Airlangga Resmikan IBMA

Indonesia Bullion Market Association (IBMA) resmi diluncurkan pada Kamis (20/8/2026) untuk memperkuat integrasi ekosistem emas nasional sekaligus mendorong pertumbuhan bisnis bullion melalui Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia (BSI) secara double digit. 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan pemerintah melihat potensi besar dari 1.800 ton emas yang masih tersimpan di masyarakat dengan nilai mencapai US$ 252 miliar. Pemerintah menilai pengalihan sebagian emas tersebut ke instrumen keuangan dapat memperluas sumber pembiayaan dan memperkuat ekosistem bullion nasional.

"Pemerintah berharap dua engine untuk bullion bank ini, yaitu Pegadaian dan BSI, bisa tumbuh double digit," kata Airlangga saat peluncuran IBMA, Kamis (20/8/2026).

Airlangga menyampaikan bahwa Pegadaian telah menghimpun sekitar 153 ton emas setelah layanan bullion diresmikan pemerintah. Sementara itu, BSI juga berhasil menghimpun sekitar 20 ton emas melalui pengembangan layanan serupa.

Ia menilai potensi emas di masyarakat jauh lebih besar dibandingkan jumlah yang telah masuk ke sistem keuangan saat ini. Pemindahan sekitar 20% dari total 1.800 ton emas tersebut ke instrumen keuangan diyakini mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang signifikan.

"Kalau 1.800 ton itu nilainya luar biasa, US$ 252 miliar. Mungkin 20%-nya saja pindah dari bawah bantal ke instrumen keuangan, perbankan syariah, maupun Pegadaian, ini akan menjadi pertumbuhan yang luar biasa," ujar Airlangga.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya