Liputan6.com, Jakarta - Didi, orang utan jantan Solo Safari, kembali ke kandang setelah sempat kabur ke permukiman dan mampir ke warung ayam pada Selasa sore, 18 Agustus 2026. Satwa ini dievakuasi tim dalam sekitar 30 menit dan kini berkumpul lagi dengan istrinya, Tori (25), serta anaknya, Dito (3), di area kandang pulau.
Manajemen Solo Safari menjelaskan, insiden terjadi saat Didi keluar dari area penangkaran dan berjalan menuju lingkungan warga, termasuk ke sebuah warung makan. Setelah proses evakuasi selesai, Didi dikembalikan ke exhibit atau kandang pulau.
Advertisement
Rabu (19/8) siang, Didi tampak keluar dari persembunyiannya. Dia berjalan sekitar 15 meter menuju tanah lapang, duduk beberapa menit, lalu menuju meja makan beton yang telah disiapkan tumpeng, sayuran, dan makanan kesukaannya. Didi kemudian melahap hidangan tersebut.
Reuni Keluarga: Didi, Tori, dan Dito
Setelah Didi muncul lebih dulu, Tori dan Dito menyusul tak lama kemudian. Keduanya tidak langsung mendekati Didi. Tori terlihat bermain bersama anaknya, sesekali mengambil makanan. Sementara Didi lebih banyak berdiam diri dan bersembunyi di bawah meja beton.
"Mungkin anak istrinya lagi ngambek ditinggal keluar kemarin. Jadi mereka berjauh jahan," kelakar Bakti, pemandu wisata Solo Safari, Rabu (19/8/2026).
Dia menyebutkan makanan kesukaan Didi.
"Didi ini paling suka buah duren. Ini disediakan tumpeng dan sayur setelah kemarin pergi," ujar Bakti.
Berdasarkan pemeriksaan tim dokter, kondisi Didi dinyatakan sehat. Keterangan tersebut juga disampaikan pemandu wisata.
"Kondisinya sehat setelah dicek kemarin. Ini kumpul sama istrinya Tori dan anaknya Dito," kata Bakti.
Manajemen Buka Suara
General Manager Solo Safari, Miyana Harikna, mengatakan lepasnya orang utan jantan tersebut murni terkait perilaku alamiah dan kecerdasan satwa primata yang sangat tinggi. Dia menekankan keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama saat penanganan insiden.
"Yang pertama kami utamakan keselamatan masyarakat pastinya. Dan ini menjadi pembelajaran bagi kami. Orang utan itu kuriusnya sangat tinggi. Dia sangat ingin tahunya sangat tinggi sekali," kata General Manager Solo Safari, Miyana Harikna.
Menindaklanjuti kejadian ini, pihak pengelola Solo Safari akan mengintensifkan monitoring dan mengevaluasi barrier. Miyana menambahkan, evaluasi terhadap primata dilakukan setiap hari, bukan hanya saat terjadi insiden.
"Kami mohon maaf atas kejadian ini. Tapi sekali lagi kami berterima kasih ke masyarakat yang sangat kooperatif membantu Didi. Ini pembelajaran bagi kami juga untuk meminimalkan kejadian serupa," tutupnya.