Harga Minyak Hari Ini Menguat Tersengat Sikap Iran Soal Selat Hormuz

Pergerakan harga minyak masih dipengaruhi negosiasi Amerika Serikat dan Iran terkait Selat Hormuz.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 19 Agustus 2026, 08:04 WIB
Seorang pekerja mengumpulkan oli mesin saat bekerja di stasiun degassing di ladang minyak Zubair, yang operasinya telah dikurangi karena perang Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran, dekat Basra, Irak, Sabtu, 28 Maret 2026. (AP Photo/Leo Correa)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak menguat pada perdagangan Selasa, 18 Agustus 2026 (Rabu pagi Jakarta) mencatat kenaikan selama tiga hari berturut-turut. Kenaikan harga minyak dunia ini di tengah pernyataan Iran akan mengambil sikap lebih ofensif dan Selat Hormuz akan tetap ditutup. Selain itu, pergerakan harga minyak di tengah keputusan Washington untuk tidak memperpanjang gencatan senjata.

Mengutip CNBC, Rabu (19/8/2026), kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 15 sen, dan ditutup ke level US$ 91,02 per barel. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 44 sen dan menetap di US$ 84,94 per barel. Sebelumnya pada sesi perdagangan itu, kontrak-kontrak ini sempat diperdagangkan pada level tertinggi dalam tiga minggu terakhir.

Kemajuan dalam perundingan damai dan dimulainya kembali lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz yang strategis tampaknya telah terhenti, sehingga mengancam akan memperpanjang konflik yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.

Iran akan tetap menutup selat tersebut sampai AS memenuhi ketentuan kesepakatan sementara yang ditandatangani pada Juni, demikian disampaikan oleh negosiator utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, dalam pernyataan yang dipublikasikan oleh media pemerintah pada Selasa.

Trump, yang sebelumnya menyebut kesepakatan itu sudah "berakhir", mengatakan pada Selasa kalau tidak ada perundingan yang sedang berlangsung maupun yang dijadwalkan antara Washington dan Teheran, namun Selat Hormuz dalam keadaan terbuka. Komentarnya tersebut ditanggapi dengan reaksi pasar yang minim.

"Apa yang kita lihat hari ini adalah kejenuhan terhadap berita utama (headline fatigue). Pernyataan Trump bahwa tidak ada perundingan sama sekali tidak mengubah situasi riil di lapangan, karena sejak awal memang tidak ada perundingan yang nyata dan kondisi fisik di lapangan tidak mengalami perubahan berarti dalam dua minggu terakhir," ujar Ekonom Senior di NinjaTrader, Tracy Shuchart.

 

 

Prediksi Ekonom

Harga Minyak Dunia. Foto: Freepik/Atlascompany

Pernyataan Qalibaf muncul setelah seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters pada Senin kalau Iran akan beralih ke postur militer yang "sepenuhnya ofensif" karena upaya menuju pengakhiran perang secara permanen telah menemui jalan buntu.

Ekonom di perusahaan pialang Jefferies, Mohit Kumar mengatakan, kedua negara belum mencapai titik kritis yang akan mendorong Iran atau AS untuk menyepakati sebuah perjanjian.

"Oleh karena itu, kami memperkirakan akan ada dampak buruk lebih lanjut dalam waktu dekat serta tekanan kenaikan pada harga minyak," kata Kumar.

Kendati demikian, sejumlah minyak masih bisa melintasi Selat Hormuz, meskipun jumlah kapal yang melintas hanya dalam kisaran satu digit. Saudi Aramco telah melanjutkan kembali pemuatan minyak dari wilayah di dalam Selat Hormuz dan menawarkan kargo untuk dimuat melalui metode transfer antar-kapal (ship-to-ship) di lepas pantai Fujairah, Uni Emirat Arab.

"Iran kemungkinan memiliki kemampuan untuk menghentikan sepenuhnya arus minyak yang keluar dari Selat Hormuz kapan pun mereka anggap perlu," ujar analis SEB, Bjarne Schieldrop.

 

Iran Runding Kesepakatan dengan Oman

Harga Minyak Dunia. Foto: Freepik/wirestock

Secara terpisah, Iran sedang merundingkan kesepakatan dengan Oman mengenai pengelolaan Selat Hormuz dan menyatakan bahwa kesepakatan tersebut sudah hampir tercapai. Namun, Trump menanggapi perundingan itu dengan ancaman untuk mengebom Oman, yang merupakan mitra keamanan lama Amerika Serikat.

Di wilayah lain Timur Tengah, kelompok Houthi Yaman meluncurkan rudal dalam serangan terhadap kapal-kapal yang mereka sebut sebagai kapal militer Saudi dan empat kapal pengawal di Laut Merah; hal ini disampaikan oleh juru bicara militer mereka, Yahya Saree, melalui Telegram.

Kemudian, Uni Emirat Arab mengeluarkan peringatan singkat di platform X yang menyatakan sistem pertahanan udaranya mendeteksi adanya ancaman rudal, sebelum akhirnya mengeluarkan pemberitahuan melalui telepon yang menyatakan situasi saat ini aman dan aktivitas dapat kembali berjalan normal.

Sementara itu di Rusia, empat sumber mengungkapkan kepada Reuters negara tersebut sedang mengalihkan rute ekspor minyak mentah Kazakhstan dari pelabuhan Ust-Luga di Laut Baltik ke pelabuhan Novorossiysk di Laut Hitam.

Langkah ini bertujuan membebaskan kapasitas agar Rusia dapat meningkatkan ekspor minyaknya sendiri dari wilayah Baltik di tengah meningkatnya risiko keamanan di Laut Hitam.

Langkah tersebut memungkinkan Rusia mengganti volume minyak Kazakhstan di Ust-Luga dengan ekspor minyak mentah miliknya sendiri, di saat serangan pesawat nirawak (drone) Ukraina menyulitkan eksportir Rusia untuk mendapatkan kapal tanker bagi keperluan pemuatan di Laut Hitam.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya