Liputan6.com, Beijing - Hewan peliharaan virtual berbasis kecerdasan buatan (AI) semakin populer di China. Selain menjadi teman digital, hewan peliharaan ini dimanfaatkan sejumlah pekerja muda untuk melampiaskan frustrasi di tempat kerja hingga menjadi sarana mengenang hewan peliharaan yang telah mati.
Dikutip dari South China Morning Post, Rabu (19/8/2026), konsep hewan peliharaan virtual sebenarnya telah muncul sejak awal 2000-an. Saat itu, hewan virtual biasanya berada di layar komputer dan berinteraksi secara sederhana dengan pengguna ketika mereka menjelajahi internet, mengobrol, atau menonton video.
Advertisement
Perkembangan teknologi AI kemudian mengubah konsep tersebut. Hewan peliharaan virtual kini dapat memberikan respons yang lebih interaktif dan disesuaikan dengan keinginan pemiliknya.
Berbeda dengan hewan peliharaan digital generasi sebelumnya yang hanya memiliki sejumlah perilaku bawaan, hewan peliharaan berbasis AI dapat dimodifikasi dari segi penampilan maupun responsnya. Pengguna yang ingin melakukan penyesuaian dapat membayar mulai dari 9,9 yuan atau sekitar Rp26 ribu hingga ratusan yuan.
Pada awal Agustus 2026, seorang pengguna internet bernama Jiuyuechushi membuat hewan peliharaan desktop berbasis AI yang menyerupai Elon Musk. Ia menggunakan karakter tersebut untuk menunjukkan bagaimana sosok yang dianggap sebagai atasan dapat diubah menjadi teman virtual di layar komputer.
Hewan peliharaan tersebut dapat diprogram melakukan berbagai tindakan, termasuk bersujud, menampar dirinya sendiri, hingga menyajikan teh. Pengguna juga dapat membuatnya bereaksi seolah-olah kesulitan ketika diseret menggunakan kursor dan merangkak di sepanjang tepi halaman web.
Pengguna lain bernama Miss Reese Loves to Dream membagikan cara membuat seseorang yang tidak disukainya menjadi hewan peliharaan virtual. Karakter tersebut kemudian dapat dibuat merangkak melintasi layar, berlutut, dan mengucapkan kalimat, “Aku salah.”
Sebagian pengguna bahkan membuat hewan peliharaan virtual yang terinspirasi dari atasan mereka. Karakter tersebut diprogram untuk mengucapkan kalimat seperti “tidak ada lagi lembur” atau “kenaikan pangkat dan gaji”.
Tidak hanya atasan, sejumlah pengguna juga menciptakan karakter yang menyerupai teman atau pasangan mereka. Karakter tersebut kemudian ditampilkan di sudut layar dan dapat dibuat seolah-olah sedang berbincang atau bergosip.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana AI mulai mengubah fungsi hewan peliharaan virtual dari sekadar hiburan menjadi bentuk interaksi digital yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan emosional dan sosial penggunanya.
Masalah dan Penggunaan Lain
“Atasanku bikin stres pagi tadi, jadi aku balas dendam dengan avatar desktopnya sore harinya,” gurau seorang pengguna. Pengguna lain juga ada yang berkata bahwa mereka tak berani untuk membalik meja dan mengundurkan diri, tapi mereka bisa klik mouse untuk membalas.
Namun, para ahli hukum telah memperingatkan bahwa mengubah orang sungguhan menjadi hewan peliharaan desktop berbasis AI dapat menyebabkan risiko hukum. Menggunakan kemiripan seseorang tanpa izin, terutama untuk tujuan yang merendahkan, dapat melanggar hak potret mereka.
Selain untuk meredakan stres, hewan peliharaan virtual AI juga mulai muncul sebagai sumber pendamping emosional.
Seorang karyawan di bidang internet bernama Xiaolong mengubah kucing British Shorthair berwarna keemasan miliknya menjadi hewan peliharaan virtual di desktop yang mengingatkannya untuk minum air dan beristirahat. “Ketika pekerjaan terasa sangat membebani, melihat kucingku memberiku ketenangan. Hal ini juga menjadi pengganti karena aku tak bisa membawa hewan peliharaan ke kantor,” tuturnya kepada media INK.
Bagi sebagian pemilik yang kehilangan hewan peliharaannya, teknologi ini menawarkan cara untuk tetap merasakan kehadiran hewan yang telah tiada.
Contohnya, pengguna internet bernama Wild Amiao membuat replika kucingnya, Tiaoge, yang meninggal lima tahun lalu. Ia memprogramkan gerakan-gerakan yang familiar seperti menjilati cakarnya dan meregangkan tubuh. Tak lupa dengan kalimat-kalimat seperti: “Aku belum makan makanan kaleng hari ini” dan “Aku juga merindukanmu.”
Yang lain berkomentar: “Mungkin ada yang menganggapnya hanya rangkaian kode, tapi untuk mereka yang pernah kehilangan hewan peliharaan, cinta lah yang menghidupkannya. Ini arti pembelajaran AI bagi saya.”