Pelukan Batin untuk Korban Gempa di Tenda Pengungsian

Polwan menghibur dan memberikan trauma healing kepada korban gempa NTT

oleh Ola KedaDiterbitkan 18 Agustus 2026, 12:18 WIB
Polwan menghibur dan memberikan trauma healing kepada korban gempa NTT

Liputan6.com, Jakarta - Debu belum sepenuhnya hilang dari reruntuhan rumah-rumah warga di Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, NTT. Di antara puing-puing yang masih menampakkan jejak gempa 7,7 M, wajah-wajah warga masih menyimpan ketakutan yang belum pudar. Anak-anak masih terlihat menatap kosong ke arah bangunan yang dulu menjadi tempat berlindung. Orang dewasa berusaha tegar, namun mata mereka bercerita tentang ketakutan yang masih membekas.

Di tengah suasana yang berat itulah, para personel Polwan Polres Manggarai Timur hadir. Bukan dengan seragam yang kaku dan tegas, melainkan dengan senyum, sapaan hangat, dan kehadiran yang menenangkan. Pada Senin, 17 Agustus 2026, mereka datang bukan sekadar untuk menjaga keamanan, tetapi untuk mendengarkan, menemani, dan memulihkan sebuah kegiatan trauma healing yang menjadi pelukan batin bagi warga yang baru saja diguncang bencana dahsyat.

Bagi warga Lamba Leda Utara, gempa bukan sekadar getaran tanah. Ia adalah peristiwa yang merenggut kedamaian, merobohkan rumah dan menanamkan ketakutan yang mendalam. Ketika guncangan itu datang, banyak warga yang lari tanpa sempat membawa apa pun — termasuk ketenangan jiwa mereka.

Kehadiran Polwan Polres Manggarai Timur di tengah-tengah mereka menjadi hal yang sangat berarti. Mereka duduk bersama warga, berbicara dengan nada lembut, mendengarkan cerita-cerita yang masih bergetar. Kegiatan ini bukan sekadar program rutin, melainkan wujud nyata bahwa kehadiran Polri tidak hanya tentang senjata dan patroli, tetapi juga tentang peduli, mendengar, dan menemani.

"Kami datang bukan untuk memerintah, melainkan untuk hadir. Di saat warga merasa takut, kami ingin mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian," ujar salah satu personel yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

Melalui pendekatan yang humanis dan penuh kehangatan, para Polwan membantu warga terutama anak-anak untuk mulai melepaskan ketegangan yang menumpuk di dada. Melalui percakapan sederhana, sentuhan lembut, dan kehadiran yang tulus, mereka membantu membangun kembali rasa percaya diri dan semangat yang sempat runtuh bersama bangunan tempat tinggal mereka.

 

 

Polwan menghibur dan memberikan trauma healing kepada korban gempa NTT

Plh Kabid humas Polda NTT Kombes Pol Sajimin menegaskan kegiatan seperti ini adalah bagian tak terpisahkan dari tugas Polri. Bukan hanya menjaga keamanan fisik, tetapi juga menjaga ketenangan jiwa masyarakat yang dilayani.

"Polri akan terus hadir di tengah masyarakat, tidak hanya dalam menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga memberikan dukungan serta pendampingan ketika masyarakat menghadapi situasi yang membutuhkan perhatian dan penguatan secara psikologis," katanya.

Pendekatan yang humanis dan persuasif, menurut Sajimin, adalah jembatan yang menghubungkan Polri dengan masyarakat. Ketika masyarakat merasa didengar dan dipahami, rasa aman itu lahir bukan karena takut, melainkan karena percaya.

"Melalui kegiatan trauma healing ini, kami berharap masyarakat dapat merasakan bahwa Polri selalu hadir, peduli, dan siap memberikan pelayanan terbaik. Sinergi serta komunikasi yang baik antara kepolisian dan masyarakat merupakan bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan kondusif," terangnya.

Di Lamba Leda Utara, hari itu berakhir dengan suasana yang sedikit lebih ringan. Anak-anak mulai terlihat tersenyum lagi. Orang dewasa mulai berbicara dengan nada yang lebih tenang. Bukan berarti luka bencana itu sudah hilang, ia masih ada. Tetapi kini, warga tahu satu hal yang sangat berharga: mereka tidak berjuang sendirian.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya