BMKG Akhiri Peringatan Dini Tsunami Akibat Gempa NTT

Peringatan dini tsunami akibat gempa NTT Magnitudo 7,7 dengan pemutakhiran M7,0 yang dikelurkan BMKG dinyatakan telah berakhir.

oleh Ahmad ApriyonoDiterbitkan 15 Agustus 2026, 07:42 WIB
Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 mengguncang wilayah Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pagi.

Liputan6.com, Jakarta - Peringatan dini tsunami akibat gempa NTT Magnitudo 7,7 dengan pemutakhiran M7,0 yang dikelurkan BMKG dinyatakan telah berakhir.

"Peringatan dini tsunami yang disebabkan oleh gempa M7,7 dinyatakan telah berakhir," tulis BMKG.

Peringatan dini tsunami dinyatakan berakhir pada pukul 07.31.30 WIB. 

Sebelumnya gempa bumi berkekuatan M7,7 mengguncang wilayah Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pagi. Gempa tersebut memicu tsunami yang terdeteksi di sejumlah wilayah di Indonesia. Peringatan dini tsunami dari BMKG telah keluar pada pukul 04.58.24 WIB.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gelombang tsunami terdeteksi di Sikka, Labuan Bajo, dan Dompu.

Gempa NTT tersebut menyebabkan kerusakan yang masif dan memakan korban jiwa. Hingga saat ini belum ada catatan pasti mengenai jumlah korban jiwa. 

 

 

Daftar Daerah Berstatus Waspada

BMKG kemudian mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk wilayah NTT, Sulawesi Selatan (Sulsel), Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Sulawesi Tenggara (Sultra).

"Peringatan Dini Tsunami di NTT,SULSEL,NTB,SULTRA," jelas BMKG.

Dari wilayah yang masuk dalam pemodelan peringatan dini tsunami, 14 daerah berstatus Waspada. Wilayah tersebut tersebar di NTT, NTB, Sulsel, dan Sultra.

Dalam kondisi status "Waspada" diharap memperhatikan dan segera mengarahkan masyarakat untuk menjauhi pantai dan tepian sungai. 

Di NTT, wilayah berstatus Waspada meliputi Pulau Ende, Pulau Sikka, dan Flores Timur bagian utara. Estimasi waktu tiba tsunami masing-masing pukul 05.03 WIB, 05.07 WIB, dan 05.15 WIB.

Kemudian di NTB, wilayah yang masuk status Waspada yakni Bima Pulau Sangiang, Bima Pulau Gili, Kota Bima bagian utara, dan Dompu bagian utara. Estimasi waktu tiba masing-masing pukul 05.09 WIB, 05.12 WIB, 05.14 WIB, dan 05.19 WIB.

Sementara di Sulawesi Tenggara, Kota Bau-Bau masuk status Waspada dengan estimasi waktu tiba pukul 05.40 WIB.

Adapun di Sulawesi Selatan, terdapat enam wilayah berstatus Waspada, yakni Takalar, Bone, Wajo, Luwu bagian timur, Luwu bagian utara, dan Kota Palopo.

Estimasi waktu tiba tsunami di Takalar tercatat pukul 05.43 WIB, Bone pukul 05.54 WIB, Wajo pukul 06.01 WIB, Luwu bagian timur pukul 06.36 WIB, Luwu bagian utara pukul 06.39 WIB, dan Kota Palopo pukul 06.41 WIB.

Selain 14 wilayah tersebut, BMKG juga menetapkan sejumlah daerah dalam status Siaga, yakni Manggarai bagian utara, Ngada bagian utara, Manggarai Barat bagian utara, Selayar, Ende bagian utara, Sikka bagian utara, Jeneponto, dan Bantaeng.

BMKG menyatakan gempa M 7,7 tersebut berpotensi tsunami dan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi.

Daftar 14 daerah berstatus Waspada:

  • Pulau Ende – NTT
  • Pulau Sikka – NTT
  • Bima Pulau Sangiang – NTB
  • Bima Pulau Gili – NTB
  • Kota Bima bagian utara – NTB
  • Flores Timur bagian utara – NTT
  • Dompu bagian utara – NTB
  • Kota Bau-Bau – Sultra
  • Takalar – SulselBone – Sulsel
  • Wajo – Sulsel
  • Luwu bagian timur – Sulsel
  • Luwu bagian utara – Sulsel
  • Kota Palopo – Sulsel 

Sudah Wanti-Wanti Para Ahli Bencana

Gempa merusak yang terjadi di Kolombia kemarin menjadi alarm tanda bahaya bagi Indonesia. Aktivitas gempa besar di seputar Cincin Api Pasifik selama 2026, hingga Agustus ini, menunjukkan konsentrasi seismisitas gempa signifikan global yang sangat tinggi. Hal itu setidaknya diungkapkan Daryono, yang juga anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), kepada Liputan6.com, Rabu (12/8/2026). 

"Hanya dalam kurun waktu kurang dari delapan bulan, telah terjadi 10 peristiwa gempa dengan Magnitudo di atas 7," katanya.

Lebih lanjut Daryono mengatakan, dari rentetan aktivitas di sputar cincin api pasifik itu, sebagian besar episentrum gempa tersebar secara eksklusif di sepanjang tepi Pasific, yang merupakan zona subduksi paling aktif di dunia akibat interaksi konvergensi antar-lempeng tektonik utama dunia.

Secara distribusi spasial, wilayah Asia Pasifik mendominasi rentetan gempa bumi besar ini, dimulai dari Gempa Utara Sabah Malaysia (M7,1 pada 22 Februari), Laut Maluku Indonesia (M7,3 pada 1 April), Japan (M7,4 pada 20 April), hingga Filipina yang mencatatkan magnitudo terbesar dalam seri ini yaitu M7,8 pada 7 Juni. Wilayah Pasifik Selatan juga menunjukkan pelepasan energi tektonik yang intensif, sebagaimana terekam pada kejadian gempa Tonga (M7,5 pada 24 Maret) dan Vanuatu (M7,3 pada 30 Maret).

Sementara itu, aktivitas seismik di sepanjang pantai barat benua Amerika memuncak pada pertengahan tahun, yang diawali oleh guncangan di Meksiko (M7,3 pada 17 Juli), disusul dua peristiwa gempa besar berturut-turut di Venezuela (M7,2 dan M7,5 pada 24 Juni).

"Kejadian paling mutakhir adalah gempa bermagnitudo M7,4 di Kolombia pada 10 Agustus 2026, yang menegaskan tingginya akumulasi stres pada Lempeng Nazca dan Lempeng Amerika Selatan," katanya.

Secara seismologi, frekuensi 10 kali gempa M7+ hingga bulan Agustus mencerminkan fase pelepasan energi tektonik global yang sangat dinamis pada batas-batas lempeng aktif. Tingginya magnitudo di atas M7,0 pada seluruh titik lokasi ini membawa implikasi risiko bencana yang signifikan, mulai dari potensi kerusakan struktural masif di daratan hingga ancaman pembangkitan tsunami lokal maupun regional di kawasan pesisir Samudra Pasifik.

"Rangkaian fenomena seismik global di atas memberikan alarm nyata bagi Indonesia, yang secara geografis berada tepat di persimpangan lempeng-lempeng tektonik utama Cincin Api Pasifik," katanya.

Kehadiran beberapa zona kekosongan gempa di zona sumber gempa (seismic gap) dan tingginya akumulasi stres pada segmen-segmen megathrust, seperti di lepas pantai Sumatera, selatan Jawa, hingga kawasan timur Indonesia, menuntut penguatan mitigasi bencana secara berkelanjutan dan terstruktur.

"Peningkatan kewaspadaan publik, evaluasi keandalan infrastruktur tahan gempa, serta penguatan pemahaman akan simulasi evakuasi mandiri dan sistem peringatan dini menjadi kunci mutlak dalam meminimalkan dampak potensi guncangan kuat di masa mendatang," katanya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya