Ada Pidato Prabowo, Rupiah Hari Ini Dibuka Menguat ke 17.873

Ekonom prediksi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak di kisaran 17.825-17.950 per dolar AS pada Jumat, (14/8/2026).

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 14 Agustus 2026, 10:15 WIB
Sentimen internal dan eksternal mempengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Jumat, (14/8/2026).(Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) naik tipis pada perdagangan Jumat, (14/8/2026). Ekonom prediksi, pergerakan rupiah terhadap dolar AS dipengaruhi data ekonomi AS yakni rilis Producer Price Index (PPI).

Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan naik empat poin atau 0,02% menjadi 17.873 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.877 per dolar AS.

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai sentimen rupiah dipengaruhi rilis Producer Price Index (PPI) AS yang lebih rendah dari perkiraan.

"Secara bulanan, PPI meningkat menjadi 0,0 persen MoM (month on month) dari -0,1 persen MoM, namun berada di bawah konsensus sebesar 0,2 persen MoM," tutur Josua dikutip dari Antara.

Adapun secara tahunan, PPI melandai menjadi 4,7% year on year (yoy) dari 5,5% yoy, juga lebih rendah dari ekspektasi sebesar 4,9% yoy.

Data PPI yang lebih rendah dari perkiraan memberikan sinyal tekanan inflasi yang berasal dari energi terus mereda, sehingga memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) berikutnya.

"Berdasarkan FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga pada September 2026 turun menjadi 34,8 persen," ujar Josua.

Melihat sentimen domestik, investor tengah fokus investor terhadap pidato Presiden Indonesia Prabowo Subianto dan pengumuman Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2027.

Berdasarkan faktor-faktor itu , rupiah diprediksi berkisar bergerak di kisaran 17.825-17.950 per dolar AS.

Rupiah Ditutup Stabil, Efek MSCI Mulai Memudar

Tumpukan mata uang Rupiah, Jakarta, Kamis (16/7/2020). Bank Indonesia mencatat nilai tukar Rupiah tetap terkendali sesuai dengan fundamental. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup stabil pada perdagangan Kamis (13/8/2026). Rupiah bertahan di level 17.877 per dolar AS, sama seperti posisi penutupan sehari sebelumnya.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia menunjukkan pelemahan tipis. JISDOR tercatat berada di 17.882 per dolar AS, turun dibandingkan posisi sebelumnya 17.876 per dolar AS.

Meski tidak mengalami perubahan, pergerakan rupiah tetap menjadi perhatian pelaku pasar karena dipengaruhi sentimen domestik dan global yang masih beragam.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai stabilnya rupiah terjadi setelah euforia pasar terhadap hasil evaluasi indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) mulai mereda.

“Rupiah pada perdagangan hari ini yang ditutup stabil lebih dipengaruhi oleh memudarnya euforia rilis MSCI dan fokus pelaku pasar mencermati calon Deputi Gubernur BI,” ucapnya dikutip dari Antara. 

 

 

Sentimen Rupiah Lainnya

Pegawai menunjukkan mata uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (5/1/2023). Nilai tukar rupiah ditutup di level Rp15.616 per dolar AS pada Kamis (5/1) sore ini. Mata uang Garuda melemah 34 poin atau minus 0,22 persen dari perdagangan sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

MSCI sendiri mengumumkan hasil MSCI Equity Indexes August 2026 Index Review pada 12 Agustus 2026 waktu Central European Summer Time (CEST). Perubahan tersebut akan berlaku pada penutupan perdagangan 31 Agustus 2026 dan efektif mulai 1 September 2026.

Dalam pengumuman itu, MSCI mengeluarkan dua saham Indonesia dari MSCI Global Standard Index dan tidak memasukkan saham Indonesia baru ke dalam indeks tersebut.

Selain itu, MSCI juga menyesuaikan komposisi MSCI Global Small Cap Index untuk saham Indonesia dengan memasukkan satu saham dan mengeluarkan sembilan saham dari indeks tersebut.

Perubahan komposisi indeks global tersebut sempat memengaruhi sentimen investor terhadap aset keuangan Indonesia, termasuk pergerakan rupiah dan pasar saham.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya