Liputan6.com, Jakarta - Gempa merusak yang terjadi di Kolombia baru-baru ini membuktikan, seismisitas aktivitas gempa besar di seputar Cincin Api Pasifik selama 2026, hingga Agustus ini, menunjukkan konsentrasi seismisitas gempa signifikan global yang sangat tinggi. Hal itu setidaknya diungkapkan Daryono, yang juga anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), kepada Liputan6.com, Rabu (12/8/2026).
"Hanya dalam kurun waktu kurang dari delapan bulan, telah terjadi 10 peristiwa gempa dengan Magnitudo di atas 7," katanya.
Advertisement
Lebih lanjut Daryono mengatakan, dari rentetan aktivitas di sputar cincin api pasifik itu, sebagian besar episentrum gempa tersebar secara eksklusif di sepanjang tepi Pasific, yang merupakan zona subduksi paling aktif di dunia akibat interaksi konvergensi antar-lempeng tektonik utama dunia.
Secara distribusi spasial, wilayah Asia Pasifik mendominasi rentetan gempa bumi besar ini, dimulai dari Gempa Utara Sabah Malaysia (M7,1 pada 22 Februari), Laut Maluku Indonesia (M7,3 pada 1 April), Japan (M7,4 pada 20 April), hingga Filipina yang mencatatkan magnitudo terbesar dalam seri ini yaitu M7,8 pada 7 Juni. Wilayah Pasifik Selatan juga menunjukkan pelepasan energi tektonik yang intensif, sebagaimana terekam pada kejadian gempa Tonga (M7,5 pada 24 Maret) dan Vanuatu (M7,3 pada 30 Maret).
Sementara itu, aktivitas seismik di sepanjang pantai barat benua Amerika memuncak pada pertengahan tahun, yang diawali oleh guncangan di Meksiko (M7,3 pada 17 Juli), disusul dua peristiwa gempa besar berturut-turut di Venezuela (M7,2 dan M7,5 pada 24 Juni).
"Kejadian paling mutakhir adalah gempa bermagnitudo M7,4 di Kolombia pada 10 Agustus 2026, yang menegaskan tingginya akumulasi stres pada Lempeng Nazca dan Lempeng Amerika Selatan," katanya.
Secara seismologi, frekuensi 10 kali gempa M7+ hingga bulan Agustus mencerminkan fase pelepasan energi tektonik global yang sangat dinamis pada batas-batas lempeng aktif. Tingginya magnitudo di atas M7,0 pada seluruh titik lokasi ini membawa implikasi risiko bencana yang signifikan, mulai dari potensi kerusakan struktural masif di daratan hingga ancaman pembangkitan tsunami lokal maupun regional di kawasan pesisir Samudra Pasifik.
"Rangkaian fenomena seismik global di atas memberikan alarm nyata bagi Indonesia, yang secara geografis berada tepat di persimpangan lempeng-lempeng tektonik utama Cincin Api Pasifik," katanya.
Kehadiran beberapa zona kekosongan gempa di zona sumber gempa (seismic gap) dan tingginya akumulasi stres pada segmen-segmen megathrust, seperti di lepas pantai Sumatera, selatan Jawa, hingga kawasan timur Indonesia, menuntut penguatan mitigasi bencana secara berkelanjutan dan terstruktur.
"Peningkatan kewaspadaan publik, evaluasi keandalan infrastruktur tahan gempa, serta penguatan pemahaman akan simulasi evakuasi mandiri dan sistem peringatan dini menjadi kunci mutlak dalam meminimalkan dampak potensi guncangan kuat di masa mendatang," katanya.