Harga Minyak Hari Ini Melambung Setelah Selat Hormuz Belum Bakal Dibuka

Harga minyak WTI dan Brent kompak menguat usai ada sinyal Selat Hormuz tidak akan dibuka hingga syarat-syarat dari Iran dipenuhi.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 12 Agustus 2026, 08:25 WIB
Tampak foto yang menunjukkan sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Aral di Bochum, Jerman, pada Rabu 4 Maret 2026. (Ina FASSBENDER/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia naik pada Selasa, 11 Agustus 2026 (Rabu pagi Jakarta) setelah seorang pejabat senior Iran menyatakan Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali sampai syarat-syarat Teheran dipenuhi oleh Washington.

Mengutip CNBC, Rabu (12/8/2026), kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 1,3% dan ditutup pada harga US$ 83,20 per barel. Minyak mentah Brent, yang merupakan acuan internasional, menguat 1,36% dan menetap di level US$ 88,91 per barel. Harga telah naik lebih dari 6% minggu ini seiring memudarnya harapan akan tercapainya kesepakatan untuk meningkatkan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz.

Menurut Reuters, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menuntut AS untuk mencairkan dana Iran yang dibekukan di luar negeri sebagai syarat pembukaan kembali Selat Hormuz.

Pasar minyak pada Selasa sedang mencermati sinyal-sinyal yang saling bertentangan mengenai apakah AS dan Iran berada di ambang kesepakatan.

Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, mengatakan kepada Bloomberg News, "situasi kembali mengarah pada kemungkinan adanya kesepakatan damai atau perjanjian." Islamabad sebelumnya memediasi kesepakatan sementara antara AS dan Iran pada Juni, tetapi  kesepakatan itu dengan cepat gagal dan memicu kembali pertempuran di Selat Hormuz.

Presiden Donald Trump meningkatkan retorikanya minggu ini dengan menuntut Iran membayar ganti rugi kepada AS. Seminggu yang lalu, Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan kepada CNBC kesepakatan baru mengenai Selat Hormuz mungkin akan segera tercapai, namun hingga kini kesepakatan tersebut belum juga terwujud.

Lalu lintas kapal yang melintasi Selat Hormuz tetap sangat rendah pada hari Senin, dengan hanya delapan kapal yang melintasi selat tersebut, menurut data dari perusahaan intelijen perdagangan Kpler. Sebagai perbandingan, lebih dari 130 kapal melintasi Selat Hormuz sebelum serangan AS dan Israel pada 28 Februari.

 

Ekspor Minyak

Harga Minyak Dunia. Foto: Freepik/wirestock

Menteri Energi Chris Wright mengatakan pada Selasa, ekspor minyak melalui Selat Hormuz telah mencapai rata-rata pergerakan tujuh hari sebesar 9 juta barel per hari berkat kehadiran militer AS. Total aliran minyak dari kawasan Teluk rata-rata mencapai sekitar 15 juta barel per hari jika ekspor melalui pipa juga diperhitungkan, ujar Wright.

Sementara itu, pada Senin, Trump memperpanjang penangguhan undang-undang pelayaran yang dikenal sebagai Jones Act, yang membatasi pengangkutan barang antar-pelabuhan Amerika hanya boleh dilakukan oleh kapal-kapal AS. Ia mempersempit cakupan pengecualian aturan tersebut sehingga hanya berlaku bagi kapal-kapal yang mengangkut sumber daya energi tertentu.

Menurut data Departemen Energi yang dirilis pada Senin, cadangan minyak di Cadangan Minyak Strategis AS telah turun hingga di bawah 300 juta barel, mencapai tingkat terendah dalam lebih dari empat dekade. Trump memerintahkan pelepasan 172 juta barel pada Maret untuk meredakan gangguan yang disebabkan oleh perang Iran.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya