Liputan6.com, Jakarta - Harga emas batangan yang dijual oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam) melonjak pada perdagangan Selasa (11/8/2026). Harga emas Antam hari ini naik Rp 20.000 menjadi Rp 2.710.000 per gram dari Senin kemarin di angka Rp 2.690.000 per gram.
Sementara itu, harga buyback atau beli kembali emas Antam melonjak lebih tinggi mencapai Rp 35.000. Harga buyback emas Antam hari ini dibanderol Rp 2.546.000 per gram.
Advertisement
Sebagai informasi, harga buyback merupakan harga yang berlaku apabila pemilik emas menjual kembali logam mulianya kepada Antam. Adapun harga emas yang tercantum di awal merupakan harga jual resmi kepada konsumen.
Perlu diketahui, harga emas Antam bersifat fluktuatif dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti dinamika pasar.
Sebagai catatan, harga emas Antam pernah mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada Kamis (29/1/2026), yakni mencapai Rp 3.168.000 per gram, dengan harga buyback berada di level Rp 2.989.000 per gram.
Seluruh informasi harga emas tersebut mengacu pada situs resmi Logam Mulia, unit bisnis PT Aneka Tambang Tbk.
Rincian Harga Emas Antam
- 0,5 gram: Rp 1.405.000
- 1 gram: Rp 2.710.000
- 2 gram: Rp 5.360.000
- 3 gram: Rp 8.015.000
- 5 gram: Rp 13.325.000
- 10 gram: Rp 26.595.000
- 25 gram: Rp 66.362.000
- 50 gram: Rp 132.645.000
- 100 gram: Rp 265.212.000
- 250 gram: Rp 662.765.000
- 500 gram: Rp 1.325.320.000
- 1.000 gram: Rp 2.650.600.000.
Harga Emas Dunia Dekati Level Tertinggi 7 Pekan
Harga emas dunia bergerak menguat tipis pada perdagangan Senin dan bertahan di dekat level tertinggi dalam tujuh pekan terakhir. Kenaikan tersebut ditopang momentum beli yang masih kuat serta kekhawatiran investor tertinggal reli harga emas atau fear of missing out (FOMO).
Mengutip CNBC, Selasa (11/8/2026), harga emas spot naik 0,4% menjadi US$ 4.356,79 per ounce. Pada perdagangan Jumat lalu, emas sempat menyentuh US$ 4.371,63 per ounce, level tertinggi sejak 17 Juni 2026, setelah data ketenagakerjaan nonpertanian (nonfarm payrolls) Amerika Serikat menunjukkan penurunan tak terduga.
Sementara itu, kontrak emas berjangka AS juga naik 0,4% menjadi US$ 4.416,00 per ounce.
Analis menilai pergerakan teknikal emas masih menunjukkan tren yang positif. Senior Market Strategist StoneX, Bob Haberkorn, mengatakan dorongan kenaikan harga masih cukup kuat.
“Momentum teknikal saat ini cukup kuat untuk emas secara keseluruhan,” kata Haberkorn.
Menurut dia, pelaku pasar masih berhati-hati karena mempertimbangkan pembelian emas oleh China serta rilis data inflasi konsumen dan produsen AS pekan ini.
“Perdagangan masih cenderung berhati-hati, dengan adanya pembelian dari China, serta laporan CPI dan PPI Juli pekan ini, ditambah kekhawatiran tertinggal jika harga kembali bergerak di atas US$ 4.500 untuk sementara waktu,” ujarnya.
Sentimen pembelian dari China menjadi salah satu faktor penting yang menopang harga emas dalam beberapa hari terakhir.
Pembelian Emas China Jadi Penopang Harga
Bank sentral China diketahui meningkatkan pembelian emas pada Juli 2026. Data resmi yang dirilis pekan lalu menunjukkan tambahan cadangan emas tersebut menjadi yang terbesar sejak Oktober 2023.
Langkah China menambah cadangan bullion dipandang sebagai sinyal bahwa permintaan emas dari sektor resmi masih tetap kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Di sisi lain, perhatian investor kini tertuju pada data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis dalam pekan ini. Data Consumer Price Index (CPI) dijadwalkan keluar pada Rabu, sedangkan Producer Price Index (PPI) akan diumumkan Kamis.
Ekonom yang disurvei memperkirakan inflasi konsumen AS pada Juli naik 3,4% secara tahunan, sedikit lebih rendah dibandingkan 3,5% pada Juni 2026.
Market Analyst American Gold Exchange, Jim Wyckoff, menilai data CPI akan menjadi penentu arah pergerakan emas berikutnya.
“Data CPI akan menjadi sangat penting. Inflasi mulai sedikit mendingin, dan pasar memperkirakan laporannya tidak akan menunjukkan lonjakan inflasi yang terlalu panas, sehingga emas berpotensi bergerak mendatar hingga menguat dalam jangka pendek,” kata Wyckoff.
Ekspektasi bahwa tekanan inflasi mulai mereda membuat investor semakin memperhatikan kemungkinan perubahan arah kebijakan moneter Federal Reserve.