Hacker Korea Utara Pakai AI untuk Curi Kripto Rp 11 Triliun

TRM Labs melaporkan hacker Korea Utara mencuri kripto senilai US$ 643 juta pada semester I 2026 dengan bantuan teknologi AI generatif.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 11 Agustus 2026, 06:05 WIB
Ilustrasi peretas atau cyber hacker internet atau kripto. (Foto by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Kelompok peretas yang terkait dengan Korea Utara dilaporkan semakin memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan operasi pencurian aset kripto mereka.

Dikutip dari CoinMarketCap, Selasa (11/8/2026), laporan terbaru dari perusahaan intelijen blockchain TRM Labs menyebutkan bahwa hacker Korea Utara mencuri US$ 643 juta atau sekitar Rp 11 triliun (kurs Rp 17.756 per dolar AS) dalam bentuk mata uang kripto selama semester pertama 2026.

Nilai tersebut setara dengan 66% dari seluruh kerugian aset digital akibat peretasan di dunia pada periode yang sama.

Secara global, TRM Labs mencatat terdapat 207 insiden peretasan yang menyebabkan kerugian sekitar US$ 972 juta atau sekitar Rp 17 triliun sepanjang enam bulan pertama 2026.

Temuan ini menunjukkan semakin besarnya peran aktor yang didukung negara dalam ekosistem aset digital.

Penelitian perusahaan keamanan siber Korea Selatan Genians mengungkap bahwa Kimsuky, kelompok yang berada di bawah Reconnaissance General Bureau Korea Utara, mulai mengintegrasikan AI generatif ke dalam strategi peretasannya.

Investigasi tersebut menemukan penggunaan platform large language model (LLM) seperti Ollama, GPT4All, dan Msty, serta teknologi retrieval-augmented generation (RAG) untuk mendukung serangan siber yang lebih canggih.

Sebelumnya, kelompok peretas Korea Utara dikenal sering menargetkan kalangan diplomat, akademisi, dan profesional keamanan melalui email yang tampak berasal dari kontak resmi atau terpercaya.

 

Materi Phishing Lebih Meyakinkan

Ilustrasi peretas atau cyber hacker internet atau kripto. (Foto by AI)

Dalam modus tradisionalnya, dokumen berbahaya sering disamarkan sebagai laporan riset, undangan acara, atau komunikasi keuangan untuk mengelabui korban.

Namun, Genians menemukan bahwa Kimsuky kini sedang menguji berbagai alat AI generatif untuk kampanye baru mereka. Kelompok tersebut membangun model bahasa lokal dan lingkungan pengembangan berbasis AI guna membuat materi phishing yang lebih meyakinkan sekaligus mengotomatisasi sebagian alur kerja serangan.

“Analisis ini menunjukkan bahwa kelompok peretas yang didukung negara meningkatkan kemampuan serangannya dengan membangun LLM lokal dan lingkungan pengembangan AI untuk mengintegrasikan AI ke dalam kerangka serangan nyata.”

Bukti yang ditemukan menunjukkan bahwa peretas Korea Utara tidak lagi hanya mengandalkan phishing sederhana, tetapi mulai mengadopsi otomatisasi yang lebih luas berbasis AI.

Peneliti menemukan penggunaan alat bantu pemrograman berbasis AI, sistem speech-to-text, dan dokumen yang dibuat AI agar tampak seperti dokumen keuangan atau dokumen perusahaan kripto yang sah.

Genians juga menyebut Kimsuky menggunakan Cursor AI untuk membantu pengembangan kode, lalu menyembunyikan kode berbahaya dengan encoding Base64 dan teknik obfuscation khusus agar sulit dideteksi sistem keamanan.

Serangan biasanya dimulai melalui file ZIP berbahaya yang dikirim lewat email dan berisi shortcut LNK yang disamarkan sebagai dokumen resmi atau permintaan riset.

 

Social Engineering

Ilustrasi peretas atau cyber hacker internet atau kripto. (Foto by AI)

Perusahaan keamanan blockchain CertiK memperkirakan aktor Korea Utara mencuri US$ 2,06 miliar atau sekitar Rp 33,5 triliun aset digital sepanjang 2025, setara dengan 60% dari seluruh pencurian kripto yang diketahui pada tahun tersebut.

Insiden terbesar adalah serangan terhadap Bybit pada 2025 yang menyebabkan kerugian sekitar US$ 1,5 miliar, menjadikannya pencurian kripto terbesar dalam sejarah.

CertiK menilai pencurian kripto telah menjadi salah satu sumber pendanaan utama negara Korea Utara. Secara total, negara tersebut dilaporkan meraup sekitar US$ 6,75 miliar atau sekitar Rp 109,7 triliun melalui 263 aksi peretasan antara 2016 hingga 2026.

Menurut CertiK, rekayasa sosial (social engineering) masih menjadi inti dari sebagian besar operasi tersebut, biasanya dengan memanipulasi korban agar secara sukarela membuka akses awal bagi penyerang.

Perusahaan itu memperingatkan bahwa penggunaan AI untuk rekayasa sosial, penargetan terhadap profesional TI, dan teknik pencucian uang berbasis kripto diperkirakan akan terus berkembang sepanjang 2026.

Untuk mengurangi risiko, CertiK merekomendasikan wawancara video dengan verifikasi identitas langsung, penerapan kebijakan zero-trust bagi pekerja jarak jauh, periode pendinginan sebelum penarikan dana, serta pengamanan infrastruktur kritis.

TRM Labs mencatat bahwa sejak Januari 2026, hacker telah mencuri lebih dari US$ 900 juta aset digital di seluruh dunia. Meski jumlah insiden meningkat, total nilai yang dicuri sebenarnya menurun dibandingkan semester pertama 2025 yang mencapai sekitar US$ 2,3 miliar.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya