DOGE Klaim Hemat Rp 1.958 Triliun, Lembaga Pengawas Ini Temui Kejanggalan

Lembaga pengawas GAO menyoroti penghematan yang dilakukan DOGE hingga mencapai Rp 1.958 triliun.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 09 Agustus 2026, 07:00 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berbicara dalam konferensi pers bersama Elon Musk di Ruang Oval Gedung Putih, Washington, AS. (Foto AP/Evan Vucci, Arsip)

Liputan6.com, Jakarta - Salah satu lembaga pengawas menemukan beberapa perkiraan yang dibuat oleh Department of Government Efficiency (DOGE), badan yang bertugas mengurangi belanja pemerintah Amerika Serikat (AS), mengenai penghematan miliaran dolar AS ternyata tidak akurat atau tidak didukung oleh bukti yang memadai.

Mengutip BBC, ditulis Minggu (9/8/2026),  laporan yang dirilis pada Kamis pekan ini oleh Government Accountability Office (GAO) menyajikan tinjauan mendalam atas klaim DOGE terkait apa yang disebut Wall of Receipts atau dinding bukti penghematan, yang melaporkan penghematan sebesar US$ 110 miliar atau Rp 1.958 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.800) dari berbagai kontrak, hibah dan perjanjian sewa.

"Ada beberapa masalah yang membatasi transparansi dan keandalan angka penghematan yang dilaporkan itu,” demikian disebutkan dalam laporan itu.

Saat dimintai komentar, seorang pejabat Gedung Putih menyatakan, pemerintah telah memberi tahu GAO kalau seluruh pegawai diwajibkan menyelesaikan pelatihan etika dan mematuhi ketentuan pelaporan keuangan.

DOGE bukanlah departemen pemerintah resmi. Badan ini diluncurkan pada awal masa jabatan kedua Presiden Amerika Serikat Donald Trump tetapi ditutup bulan lalu. Wall of Receipts merupakan sarana daring untuk menampilkan klaim penghematan uang pembayar pajak yang dilakukan.

Miliarder sekaligus CEO Tesla Elon Musk sempat memimpin DOGE tetapi mundur pada Mei 2025, awalnya berjanji akan menghemat hingga US$ 2 triliun per tahun melalui langkah-langkah seperti pemangkasan lapangan kerja federal dan penutupan program pemerintah.

Bahkan menurut estimasi Doge sendiri, target tersebut tidak tercapai, karena situs web mereka hanya mencatat estimasi penghematan sebesar US$ 214 miliar atau Rp 3.809 triliun.

"Meskipun DOGE memberikan sejumlah informasi mengenai estimasi penghematan, terdapat beberapa masalah yang membatasi transparansi dan keandalan angka penghematan yang dilaporkan tersebut," ungkap laporan GAO.

 

DOGE Tidak Transparan

Elon Musk menyimak saat Presiden AS Donald Trump berbicara dalam konferensi pers di Kantor Oval Gedung Putih, 30 Mei 2025, di Washington. (Foto AP/Evan Vucci, Arsip)

Laporan itu menyebutkan Doge tidak transparan mengenai metode penghitungan penghematan yang digunakan, serta menyoroti badan tersebut "tidak memberikan informasi yang memadai untuk memverifikasi metode yang digunakan dalam menghitung 96% dari total penghematan yang dilaporkan DOGE".

Salah satu temuan spesifiknya adalah bahwa 108 dari 264 perjanjian sewa yang diidentifikasi DOGE untuk diakhiri sebenarnya sudah dalam proses pengakhiran sebelum badan tersebut dibentuk.

Angka tersebut mencakup sekitar US$ 15,3 juta atau Rp 272,35 miliar dari total US$ 53,5 juta atau Rp 952,35 miliar penghematan yang diklaim oleh Doge.

"Wall of Receipts tidak menyertakan penjelasan mengenai bagaimana penghematan dari perjanjian sewa yang diakhiri tersebut dihitung," ujar GAO.

Terdapat pula klaim mengenai penghematan yang sebenarnya tidak terealisasi, seperti penghematan sebesar US$ 1,7 miliar atau Rp 30,26 triliun dari pengakhiran kontrak layanan TI dengan Departemen Pertahanan. Namun, menurut laporan badan pengawas Kongres, kontrak tersebut tidak pernah diputus sehingga tidak ada penghematan yang tercapai.

"Meskipun 'Wall of Receipts' (Dinding Bukti Pengeluaran) memuat sejumlah informasi mengenai data dan sumber yang mendasari laporan penghematan, hal itu tidak cukup mengungkapkan keterbatasan yang memengaruhi kualitas data," demikian penilaian laporan tersebut.

Audit GAO, yang dilakukan atas permintaan Senator dari Partai Demokrat Gary Peters dan Richard Blumenthal, mencakup data penghematan yang dilaporkan dari 20 Januari 2025 hingga 7 Juli 2026.

"Semua pihak mendukung upaya pemberantasan pemborosan, penipuan, dan penyalahgunaan wewenang di pemerintahan federal, namun Doge merupakan upaya yang dilakukan secara serampangan dan menyesatkan; inisiatif ini memperdaya rakyat Amerika sekaligus merusak kemampuan pemerintah dalam melayani mereka," ujar Senator Peters dalam sebuah pernyataan pada Kamis.

 

DOGE Dorong Pengurangan Besar-besaran

Mata Elon Musk tampak lebam saat dia bertemu Presiden Donald Trump di Gedung Putih, Jumat (30/5/2025). (Dok. AFP)

Di bawah kepemimpinan Musk, DOGE mendorong pengurangan besar-besaran jumlah pegawai federal, serta penutupan berbagai program dan bahkan badan pemerintah seperti Badan Pembangunan Internasional AS (USAID).

Beberapa langkah DOGE memicu sengketa hukum atau dibatalkan kembali. Ketika upaya pemangkasan biaya yang dilakukan kelompok tersebut menyebabkan pemecatan pejabat penanganan flu burung di Departemen Pertanian AS, pemerintahan Trump berupaya mempekerjakan mereka kembali beberapa hari kemudian.

Dalam sebuah unggahan media sosial bulan lalu yang mengumumkan penutupannya, Doge menyatakan: "Meskipun misi resmi Doge telah berakhir, misi untuk menghapuskan pemborosan, penipuan, dan penyalahgunaan wewenang akan terus berlanjut. Pengelolaan dana pembayar pajak yang bijak dan pemerintahan yang akuntabel bukanlah inisiatif yang bersifat sementara."

Angka tersebut naik sebesar 345.000 dibandingkan tahun sebelumnya dan telah meningkat sekitar 50% dalam satu dekade terakhir, dari 6,72 juta pada 2016.

Tingkat partisipasi kerja untuk kelompok usia tersebut tercatat sebesar 59,5%, menyamai rekor tertinggi tahun lalu, seiring dengan terus bertambahnya populasi lansia. Jumlah warga Korea berusia 55 hingga 79 tahun mencapai 17,02 juta jiwa, meningkat 570.000 dibandingkan tahun sebelumnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya