Sehari Bersama Caregiver: Nyaris Tak Pernah Pulang dari Rumah Sakit

Pengalaman merawat sang ibu yang menderita gagal ginjal selama sembilan tahun membentuk Angie menjadi sosok yang terbiasa mendampingi orang sakit.

oleh Winda NelfiraDiterbitkan 10 Agustus 2026, 06:00 WIB
Angie menjalani pekerjaan sebagai seorang caregiver. (Liputan6.com/Winda Nelfira)

Liputan6.com, Jakarta - Jarum jam menunjukkan pukul 19.00 WIB. Hari itu, Rabu (5/8/2026) di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita, Jakarta Barat. Angie menyambut kedatangan suami dan anaknya. 

Mereka datang membawakan pakaian bersih, sekaligus mengambil pakaian kotor milik Angie. Sudah hampir sebulan, sejak 13 Juli 2026, Angie lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Menjalankan pekerjaannya sebagai caregiver.

Caregiver adalah seseorang yang menyediakan jasanya untuk menemani dan merawat pasien di Rumah Sakit. Perannya semakin dibutuhkan di tengah keluarga yang diliputi kesibukan dan terkurung dalam rutinitas pekerjaan. Sehingga tak bisa menjaga keluarganya di RS.

Angie, perempuan berusia 35 tahun itu tengah menjalani tugasnya menemani seorang pasien lanjut usia (lansia) selama 18 jam sehari. Jam kerjanya dimulai pukul 21.00 WIB dan berakhir pukul 15.00 WIB. 

Meski tugasnya baru dimulai pukul 21.00 WIB, Angie memilih datang lebih awal. Sekitar pukul 19.00 WIB, sekedar untuk mendapatkan tempat di ruang tunggu HCU (High Care Unit) dan ICU (Intensive Care Unit) RS Harapan Kita yang dipadati anggota keluarga pasien lain.

“Kalau enggak nanti sudah enggak dapat tempat (untuk menunggu),” kata Angie kepada Liputan6.com.

Di ruang tunggu HCU dan ICU RSJPD, Angie meletakkan ransel dan barang-barangnya di kursi besi. Sebagian keluarga pasien lain memilih menggelar alas di lantai untuk beristirahat sambil menunggu kabar dari dalam ruang perawatan intensif.

Di sela menunggu, Angie berbagi cerita. Dia hampir tak pernah pulang selama menjaga pasiennya. Waktu jeda selepas jam kerja berakhir, sering kali hanya cukup digunakan untuk mandi, berganti pakaian, lalu kembali lagi ke rumah sakit.

“Makanya aku jarang pulang karena jam 7 harus standby di sini. Kadang sih pulang, bisa selonjoran kaki di rumah. Tapi setelah itu balik lagi, karena kalau telat ya enggak dapat tempat,” ujarnya.

Pasien yang saat ini didampingi Angie bukan orang baru. Lansia berusia sekitar 70 tahun itu pernah menggunakan jasanya saat dirawat di rumah sakit lain beberapa bulan sebelumnya. Ketika kondisinya kembali memburuk akibat penyakit jantung, keluarga kembali menghubungi Angie.

Di RSJPD, Angie dituntut peka dan teliti. Dia harus bersiap saat mendengar imbauan dari petugas. Petugas kesehatan biasanya rutin melakukan pendataan hingga meminta anggota keluarga untuk menebus obat.

Jika mendapat izin petugas, Angie diperbolehkan masuk menemani pasien. Biasanya, di dalam ruang ICU, Angie membantu menyuapi makanan, mengajak berbincang, sekaligus memperhatikan kondisi kesehatan pasien di layar monitor atau yang disebut patient monitor.

Dia mencatat tekanan darah, saturasi oksigen, suhu tubuh hingga kebutuhan perlengkapan seperti popok dan tisu basah. Semuanya itu disampaikan kepada keluarga.

“Aku sambil catat tensinya berapa, saturasinya berapa, terus lihat pampers atau tisu basahnya habis apa enggak. Nanti aku laporin ke keluarga supaya mereka datang sudah siap bawa kebutuhannya. Aku juga tanya ke suster hasil darahnya bagaimana, tindakan apa yang akan dilakukan. Jadi keluarga tinggal melanjutkan saja,” ucap Angie.

Angie menjalani pekerjaan sebagai seorang caregiver. (Liputan6.com/Winda Nelfira)

Seperti Merawat Orang Tua Sendiri

Bagi Angie, kedekatan dengan pasien dan keluarga menjadi alasannya menjalani jadwal yang melelahkan. Selama lebih dari tiga pekan, Angie menyaksikan bagaimana tiga saudara lansia itu saling bergantian menjaga.

Kakak pasien yang juga sudah berusia lebih dari 70 tahun berjalan tertatih-tatih setiap datang ke rumah sakit. Sedangkan adik laki-lakinya mulai mengalami gangguan jantung akibat kelelahan dan tekanan mental. Tidak mudah menjalani hari-hari di tengah kondisi orang sakit.

“Aku ikhlas. Soalnya kasihan mereka semua sudah lansia. Yang paling kuat itu adiknya, tapi sekarang malah mulai sakit juga. Jangan sampai adiknya ikut sakit karena dia yang paling banyak ngurus kakaknya sehari-hari,” ujarnya.

Angie belum mengetahui sampai kapan pendampingannya terhadap pasien RSJPD akan berakhir. Pasalnya, kondisi pasien terus naik turun, sementara keluarga memilih tetap memberikan perawatan terbaik.

Angie menceritakan pengalamannya merawat sang ibu yang menderita gagal ginjal selama sembilan tahun dan ibu mertua yang mengalami stroke selama setahun. Kondisi ini membentuknya menjadi sosok yang terbiasa mendampingi orang sakit.

Kini, setiap kali duduk di ruang tunggu HCU, mendengar panggilan dari pengeras suara, atau menyampaikan perkembangan kondisi pasien kepada keluarga, ia merasa seolah sedang kembali merawat orang tuanya sendiri.

“Aku tuh ngerasa bisa ngurusin orang tua lagi. Walaupun bukan orang tua kandung, tapi kayak orang tua asuh. Dulu aku ngerasa belum puas ngurusin orang tuaku. Jadi sekarang setiap jagain pasien lansia, aku ngerasa bisa melakukan itu lagi,” tutur Angie.

Angie menjalani pekerjaan sebagai seorang caregiver. (Liputan6.com/Winda Nelfira)

Tarif Caregiver

Sarjana Pendidikan ini menerapkan tarif jasa caregiver berdasarkan durasi pendampingan yang dipilih keluarga pasien. Angie memasang tarif bukan untuk mencari keuntungan. Sekadar untuk menghargai jasanya.

Untuk layanan pendampingan enam jam tarif yang dipatok Rp 150 ribu, dibanderol Rp 250 ribu untuk 12 jam dan Rp 450 ribu untuk jasa pendampingan pasien selama 24 jam.

Sementara itu, Tine (71) keluarga pasien yang memakai jasa Angie merasa bersyukur menemukan layanan caregiver. Pasalnya, keluarga juga memikul beban dan tekanan batin yang berat saat melihat orang yang dicintai terus merasakan sakit. Sedangkan keluarga tak bisa berbuat banyak.

Bagi Tine, kehadiran caregiver Angie bukan sekadar membantu menjaga pasien, tetapi juga memberi ruang bagi keluarga untuk bernapas sejenak di tengah kelelahan yang terus menumpuk.

“Ketika dia kesakitan kita tidak bisa ngapa-ngapain kan. Kita merasa tertekan. Nah itu yang membuat kita pakai jasa caregiver. Pertama pakai dia 12 jam, sekarang ditambah 18 jam,” ujar Tine.

Menurut Tine, keputusan tersebut menjadi salah satu yang paling membantu selama proses perawatan adiknya. Kehadiran Angie membuat keluarga dapat bergantian memulihkan tenaga, sementara pasien tetap mendapat pendampingan yang layak.

Tak hanya itu, Tine memandang profesi caregiver yang dijalankan Angie sebagai bentuk pelayanan kemanusiaan yang dijalankan dengan ketulusan. Tine kerap menitipkan pesan kepada Angie agar terus merawat pasien dengan sepenuh hati.

“Saya bilang ke Angie, lakukanlah dengan hati. Ketika kita melakukan dengan hati berkat itu akan datang dengan sendirinya. Kamu menolong orang nanti ada saja balasan Tuhan untuk kamu,” pesan Tine.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya