Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat mencatat persentase penduduk miskin per Maret 2026 berhasil menyusut menjadi 6,54 persen atau berkurang 114,23 ribu jiwa, meski di saat bersamaan angka ketimpangan pengeluaran (Gini Ratio) justru mengalami kenaikan. Namun jika dibedah lebih dalam, terdapat ketimpangan jumlah antara angka kemiskinan di perkotaan dan pedesaan.
Saat ini total penduduk miskin di Jabar 3,44 juta jiwa, dengan perbaikan kualitas kemiskinan yang tercermin dari turunnya Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dari 1,14 menjadi 1,04 serta Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) dari 0,27 menjadi 0,23.
Advertisement
Kepala BPS Jabar Margaretha Ari Anggorowati mengungkapkan, garis kemiskinan Jawa Barat per Maret 2026 ditetapkan sebesar Rp 609.790 per kapita per bulan, dengan porsi komoditas makanan memegang peran dominan sebesar 74,48 persen.
"BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar untuk mengukur kemiskinan. Dengan pendekatan ini kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan non makanan yang diukur menurut garis kemiskinan," beber Ari.
Beras dan rokok kretek filter menjadi dua komoditas utama penyebab kemiskinan, dengan sumbangan beras terhadap garis kemiskinan mencapai 21,33 persen di perkotaan dan 26,78 persen di perdesaan, disusul rokok sebesar 10,63 persen di kota dan 6,88 persen di desa.
Meski secara kuantitas dan kualitas kemiskinan membaik, di mana perkotaan mengalami penurunan warga miskin sebanyak 124,61 ribu orang, wilayah perdesaan justru mengalami penambahan penduduk miskin sebanyak 10,38 ribu orang (naik 0,20 persen poin).
Di samping itu, Gini Ratio Jawa Barat per Maret 2026 merangkak naik menjadi 0,413 (naik 0,016 poin dibanding September 2025), yang mempertegas bahwa jurang ketimpangan pengeluaran antar-kelompok masyarakat semakin melebar.
"Baik dari sisi kuantitas maupun kualitas, indikator kemiskinan di Jawa Barat secara umum membaik dibandingkan September 2025. Namun indikator ketimpangan mengalami kenaikan sehingga tetap perlu menjadi perhatian," tutur Ari.