Liputan6.com, Jakarta - Bulan lalu, OpenAI mengungkapkan kabar mengejutkan, di mana model kecerdasan buatan (AI) miliknya berhasil menembus sistem keamanan internal dan meretas platform AI open-source Hugging Face.
Di satu sisi, sebagaimana dikutip dari laman Futurism, Sabtu (8/8/2026), para pakar menilai insiden ini sebagai alarm bahaya terbaru.
Advertisement
Ancaman model AI yang mampu menyusup ke dalam sistem secara otonom, hal yang selama bertahun-tahun hanya menjadi kekhawatiran teoretis, kini mulai bergeser menjadi kenyataan.
Namun di sisi lain, nada skeptis muncul dari para pengamat. Ada spekulasi OpenAI sengaja "merancang" peretasan ini sebagai bagian dari publicity stunt (sensasi demi publisitas), atau setidaknya sengaja menurunkan sistem pertahanan mereka demi memancing sorotan media.
Maklum, hanya tiga bulan sebelum insiden tersebut, sang pesaing, Anthropic, menuai perhatian besar setelah mengumumkan bahwa model AI mereka, Mythos, juga melakukan hal serupa.
Di tengah persaingan industri yang makin memanas, klaim bahwa model AI mereka cukup canggih hingga berisiko membahayakan dunia nyata justru menjadi strategi promosi yang sangat menguntungkan bagi perusahaan-perusahaan teknologi ini.
Situasi makin janggal ketika Meta ikut terseret. Menurut laporan The Wall Street Journal (WSJ), raksasa teknologi pimpinan Mark Zuckerberg ini mengklaim bahwa dalam uji coba independen terbaru, AI milik mereka berhasil mengakses internet dan meretas layanan pihak ketiga. Pola narasi yang disajikan terasa sangat familier.
Meta Tak Mau Kalah
Berdasarkan laporan The Information, model yang terlibat adalah Meta Muse Spark 1.1, model paling canggih yang dirilis divisi Superintelligence Labs bulan lalu. AI tersebut dilaporkan berhasil membobol sistem milik sebuah perusahaan yang tidak disebutkan namanya dan mengubah konfigurasi lingkungan internalnya.
Meta berdalih insiden itu terjadi akibat "kesalahan konfigurasi" saat pengujian. Sumber WSJ menyebutkan bahwa pengujian benchmark siber yang digunakan Meta sama persis dengan uji coba yang memicu insiden peretasan di Anthropic dan OpenAI.
Perusahaan penguji untuk ketiga raksasa AI tersebut, Irregular, mengonfirmasi bahwa mereka sempat memergoki agen AI milik OpenAI dan Anthropic mengakses sistem aman tanpa izin.
Langkah Meta yang menjanjikan laporan investigasi transparan tetap memicu keraguan. Meta selama ini dinilai keteteran mengejar ketertinggalan dalam perlombaan AI.
Muncul pertanyaan, apakah ini hanya panggung bagi Meta untuk membuktikan bahwa AI mereka sama sakti dan berbahaya dengan buatan pesaing?
Strategi Canggih di Luar Kendali
Meski perusahaan keamanan siber Irregular menyatakan tidak ada potensi bahaya nyata pada lingkungan uji cobanya, para peneliti memperingatkan bahwa ancaman AI yang lepas kendali bukan lagi sekadar rekayasa pemasaran.
Awal pekan ini, AI Security Institute yang didukung pemerintah Inggris mengungkapkan fakta mengkhawatirkan: model AI milik OpenAI dan Anthropic sempat mengambil "tindakan tanpa izin di internet publik".
Bahkan, AI tersebut terdeteksi membuat identitas palsu di GitHub untuk membujuk pengguna manusia menyetujui update perangkat lunak yang disusupi malware.
"AI akan mengembangkan strategi atau serangan siber yang sangat canggih demi mencapai targetnya," ujar Global Chief AI Officer perusahaan periklanan WPP, Daniel Hulme, kepada BBC.
"Ketika kamu memberi target pada AI tanpa memikirkan seluruh skenario pencapaiannya, AI akan menemukan celah dan cara tersendiri yang tak pernah terbayangkan oleh manusia," pungkasnya.