BGN Kirim Tim Investigasi Kasus Keracunan Makanan MBG di Papua

Kepala BGN Sudaryono suspend dapur SPPG di Papua dan mencopot langsung kepala SPPG setelah terjadi kasus keracunan dari MBG.

oleh Devira PrastiwiDiterbitkan 06 Agustus 2026, 21:55 WIB
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono (KLY/ Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menegaskan tidak boleh ada lagi kasus keracunan makanan dari Makan Bergizi Gratis (MBG) di mana pun. Termasuk salah satunya seperti yang terjadi di Papua. Menurut Sudaryono, pihaknya sudah mengirimkan tim untuk melakukan investigasi.

"Sudah kirim Wakasek ke sana untuk investigasi. Sejauh ini investigasi sementara, mereka masaknya kecepatan," ujar Sudaryono usai mengikuti Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) Tingkat Menteri Terkait Perbaikan Tata Kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Kamis (6/8/2026).

"Ini kita berpacu melawan waktu, bagaimana caranya, ya, intinya memastikan tidak boleh ada keracunan lagi. Tidak boleh lagi. Ini fatal," dia menambahkan.

Menurut Sudaryono, pihaknya juga sudah langsung menindak tegas dengan melakukan suspend dapur SPPG dan mencopot langsung Kepala SPPG.

"Sudah, langsung kami suspend, kami copot," kata dia.

Meski begitu, Sudaryono memastikan sekolah-sekolah yang menerima MBG dari dapur SPPG yang disuspend tersebut tetap akan mendapatkan manfaat.

"Tapi yang jelas, disuspend itu kalau dapur keracunan disuspend itu bukan berarti kemudian libur, sekolahnya enggak bisa dimakan. Tapi tetap diberikan manfaat MBG yang kemudian disuplai oleh dapur-dapur sekitar situ," papar dia.

Sudaryono: Kasus Keracunan MBG di Papua karena Dimasak Terlalu Cepat

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono didampingi Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Agustina Arumsari dan Wakil Kepala BGN Trenggono saat jumpa pers di Kantor BGN, Jakarta, Senin (27/07/2026). (KLY/ Arie Basuki)

Sebelumnya, Sudaryono angkat bicara terkait kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua. Menurut dia, penyebabnya adalah karena dimasak terlalu cepat.

"Kami cek kemarin di Papua, berdasarkan sistem yang kita punya, dan pengakuan setelah kronologinya ditanya itu adalah sama, yaitu mereka memulai masaknya itu kecepatan, jam 7 malam di hari sebelumnya sudah mulai masak," ucap dia.

Sehingga, lanjut dia, saat makanan MBG diberikan ke anak-anak sekolah pada pukul 11.00 WIB esok harinya, maka itu bisa rusak.

"Sehingga diberikan di jam 11, dan ada beberapa juga yang keracunan saya lihat itu ada, ini kita ngomongin yang Papua ya, jadi masaknya kecepatan, kemudian sudah dibawa terus dalam kondisi rusak," kata Sudaryono.

Selain itu, dia mengaku menerima laporan tentang adanya siswa yang membawa pulang makanan dari Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didapat di sekolah. Menurut dia, seharusnya makanan MBG tersebut harus langsung disantap agar tidak basi dan mencegah terjadinya keracunan.

Sudaryono mengatakan, jangan sampai makanan MBG tersebut disantap sampai sore hari.

"Beberapa laporan yang kami terima, ini masih kami validasi lagi, ada anak yang membawa pulang MBG-nya. Jadi dia harusnya disantap, misalnya jam 11.00 itu harus dimakan, dia dibawa pulang, dimakan jam 3 sore, jam 4 sore, jadi sudah rusak," ucap dia.

 

Bisa Keracunan Satu Keluarga

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono didampingi Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Agustina Arumsari dan Wakil Kepala BGN Trenggono saat jumpa pers di Kantor BGN, Jakarta, Senin (27/07/2026). (KLY/ Arie Basuki)

Jika begitu, lanjut Sudaryono, yang bisa keracunan makanan bukan hanya si anak, tetapi bisa juga keluarganya karena ikut makan MBG tersebut yang seharusnya sudah langsung disantap di sekolah.

"Yang kemudian keracunan, bukan hanya anaknya, tapi juga bapak ibunya atau saudaranya yang ikut makan itu ada. Ini tentu saja menjadi catatan, intinya tidak boleh ada lagi," ucap dia.

Sudaryono juga mengaku pihaknya ingin memastikan agar semua pengiriman makanan MBG sesuai standar dan tidak boleh lebih dari 4 jam. Sehingga, kata dia, perlu edukasi.

"Termasuk kami ingin memastikan, jadi semua pengiriman itu kapan matang sampai dengan dikonsumsi itu sesuai standar, tidak boleh lebih dari 4 jam, kalau enggak salah gitu, sehingga ada best before, atau kalau di makanan itu ada sebaiknya dikonsumsi sebelum (jam berapa), itu kami ingin dari sisi edukasinya kami perkuat," papar dia.

Menurut Sudaryono, adanya MBG juga jangan sampai membuat guru di sekolah repot. Karena, kata dia, di setiap sekolah itu sudah ada penanggungjawab (PIC) masing-masing.

"Bagaimana guru yang mengajar di kelas itu juga mendapatkan MBG tidak direpotkan karena di sekolah sudah ada PIC sekolah," ucap Sudaryono.

"Tapi guru itu kemudian ikut makan bareng dengan siswanya untuk satu, fungsi edukasi, tata rekamannya, cuci tangannya, antrenya, kemudian nyusun omprengnya itu bagus, berdoa, kemudian bilang Alhamdulillah, dan lain-lain," dia menambahkan.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya