BRIN Beberkan 6 Teknologi Prioritas, dari AI hingga Nuklir

BRIN memprioritaskan pengembangan AI, semikonduktor, genomik, kuantum, nuklir, dan antariksa untuk mendukung Indonesia Emas 2045.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 06 Agustus 2026, 19:15 WIB
Suasana ruang kerja Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang berada pada lantai dua Gedung BRIN di Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menetapkan pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), semikonduktor, genomik, teknologi kuantum, nuklir, dan antariksa sebagai fokus utama riset nasional dalam dua hingga tiga dekade mendatang. Langkah ini ditempuh untuk memperkuat daya saing Indonesia sekaligus mendukung terwujudnya visi Indonesia Emas 2045.

Kepala BRIN Arif Satria mengatakan penguasaan teknologi maju menjadi faktor penentu bagi sebuah negara untuk bersaing di masa depan. Karena itu, Indonesia perlu membangun kemampuan teknologi sendiri, bukan hanya menjadi pengguna hasil inovasi negara lain.

"BRIN akan fokus pada teknologi maju yang akan menentukan daya saing negara dalam dua hingga tiga dekade ke depan," ujar Arif Satria saat memberikan laporan kepada Presiden Prabowo Subianto dalam Pertemuan Presiden RI dengan 150 Periset BRIN di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (6/8/2026).

Menurut Arif, pengembangan semikonduktor bertujuan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap chip impor. Sementara itu, riset AI diharapkan mampu melipatgandakan produktivitas nasional.

Di bidang genomik, BRIN ingin memperkuat kemampuan nasional dalam menghasilkan benih unggul, obat-obatan, hingga pengembangan bioindustri. Adapun teknologi kuantum diproyeksikan menjadi fondasi baru bagi sistem keamanan dan komputasi masa depan.

 

Riset Nuklir dan Antariksa

Ruang kerja Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang berada pada lantai dua Gedung BRIN di Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selain empat teknologi tersebut, BRIN juga terus mengembangkan riset nuklir dan antariksa sebagai bagian dari strategi memperkuat kedaulatan Indonesia di sektor energi, kesehatan, pangan, hingga pengawasan wilayah.

"Penguasaan teknologi-teknologi inilah yang akan menentukan apakah Indonesia menjadi pengguna teknologi atau pemilik teknologi kita ke depan," kata Arif.

Untuk mendukung arah tersebut, BRIN bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi telah menyusun Peta Jalan dan Agenda Riset Strategis Nasional 2026-2045. Dokumen tersebut menjadi panduan agar pengembangan ilmu pengetahuan selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), Asta Cita, dan target Indonesia Emas 2045.

Arif menjelaskan, BRIN juga didukung berbagai infrastruktur riset strategis, mulai dari reaktor nuklir, observatorium terbesar di Asia Tenggara, stasiun bumi satelit, laboratorium genomik, hingga pusat komputasi berkinerja tinggi yang masuk jajaran Top 500 dunia.

Menurutnya, fasilitas tersebut menjadi modal penting agar Indonesia mampu menghasilkan inovasi sendiri, mempercepat hilirisasi hasil riset, serta meningkatkan daya saing industri nasional di tingkat global.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya