Liputan6.com, Jakarta - Komisaris Independen PT PLN (Persero), KH Ali Masykur Musa, mengingatkan bahwa Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar. Namun, kepemilikan potensi tersebut tidak akan berarti tanpa adanya langkah nyata dalam pengeksekusiannya.
Advertisement
"Pertanyaannya yang harus kita jawab adalah lebih berdasar yaitu bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi proyek yang siap dibangun memperoleh pembiayaan, selesai tepat waktu, beroperasi secara andal, dan memberikan manfaat keberlanjutan bagi masyarakat," ujar Ali saat menjadi keynote speaker dalam acara Indonesia Hydropower Summit 2026 bertema Hydropower for Energy Security: Akselerasi PLTA sebagai Pilar Keandalan Sistem Kelistrikan dan Transisi Energi Indonesia di Auditorium PLN, Rabu (5/8/2026).
Ali menilai, tema acara tersebut sangat strategis dengan kondisi kelistrikan saat ini. Ia memaparkan tiga alasan utama mendasar terkait pentingnya pengembangan hydropower.
"Yang perlu kita perhatikan pertama, hydropower memanfaatkan sumber daya domestik dan menghasilkan listrik yang rendah emisi," ucap Ali.
Ia menambahkan bahwa pengembangannya dapat memperkuat kemandirian energi serta menekan paparan volatilitas pasar energi domestik.
"Kedua, hydropower bukan hanya menghasilkan energi tetapi juga memberikan nilai keandalan, fleksibilitas operasi dapat membantu memenuhi beban puncak, merespons perubahan beban, mendukung pengaturan fregmensi, dan menjaga kestabilan sistem “ papar Ali.
Selanjutnya, poin ketiga menegaskan peran hydropower yang tidak hanya dipandang sebatas jenis pembangkit energi terbarukan biasa. "Hydropower adalah infrastruktur strategis ketahanan energi dan enabler bagi sistem listrik yang rendah kapasitas,” kata Ali.
Tantangan Mengubah Potensi Energi
Ali menekankan bahwa fokus utama saat ini bukan lagi sekadar mengidentifikasi potensi, melainkan mengubah potensi tersebut menjadi proyek yang benar-benar siap dieksekusi. Meskipun memiliki masa pengembangan dan konstruksi yang panjang, keberadaan hydropower memberikan nilai strategis yang luar biasa bagi keandalan energi jangka panjang.
"Karena itu, percepatan hydropower tidak dapat dilakukan secara parsial, percepatan harus dilaksanakan secara end-to-end dan tahap perencanan hingga operasi harus terukur. Untuk itu, yang perlu kita lakukan pertama adalah memastikan prioritas kesiapan proyek," papar dia.
"Kita membutuhkan pipeline proyek yang jelas, kredibel, dan dapat dipertanggungjawabkan. Yang kedua, menyelaraskan perencanaan sumber daya air, pembangkit, dan penjaminan itu sendiri," sambung Ali.
Ia mengingatkan bahwa hydropower berada di titik temu antara pengelolaan sumber daya air, pembangunan infrastruktur, dan pengoperasian sistem tenaga listrik. Oleh sebab itu, Ali menegaskan pentingnya penguatan koordinasi antara pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan di wilayah setempat.