Donald Trump Batalkan Serangan ke Iran, Harga Minyak Anjlok 4,5%

Presiden AS Donald Trump menyebutkan, pihaknya membatalkan serangan ke Iran karena permintaan Teheran dan negara di Timur Tengah berdampak ke harga minyak.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 03 Agustus 2026, 07:45 WIB
Seorang pekerja mengumpulkan oli mesin saat bekerja di stasiun degassing di ladang minyak Zubair, yang operasinya telah dikurangi karena perang Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran, dekat Basra, Irak, Sabtu, 28 Maret 2026. (AP Photo/Leo Correa)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak turun dalam perdagangan Asia pada Senin pagi, (3/8/2026). Koreksi harga minyak itu seiring investor mengurangi premi risiko geopolitik setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan telah membatalkan rencana serangan terhadap Iran.

Mengutip CNBC, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September turun 4,5% menjadi US$ 80,89 per barel. Kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober turun 4,4% menjadi US$ 84,10 per barel.

Trump menuturkan, pada Minggu pagi, ia telah membatalkan rencana serangan terhadap Iran setelah menerima permintaan dari Teherean dan negara-negara lain di Timur Tengah.

"Kami baru saja diminta oleh Iran, dan negara-negara Timur Tengah lainnya, untuk menunda serangan apa pun karena kerangka kesepakatan telah disepakati," ujar Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social.

Ia mengatakan, usulan kesepakatan tersebut akan mencakup pembukaan Selat Hormuz secara segera, lengkap, dan total, serta berakhirnya ancaman nuklir Iran.

Trump dilaporkan sedang mempertimbangkan putaran serangan lain terhadap Iran di tengah memudarnya prospek penyelesaian diplomatik atas konflik yang bermula pada 28 Februari tersebut.

Teheran menanggapi pengumuman Trump dengan hati-hati.

"Meskipun pernyataan terbaru pihak musuh merupakan bagian dari kampanye perang psikologis dan kognitif, kami menganggap setiap ancaman sebagai hal yang nyata dan menanggapnya dengan serius," kata, pejabat menteri pertahanan Iran, Seyyed Majid Ibn Al-Reza menurut unggahan media pemerintah di X.

Kantor berita internasional Iran, Fars yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam menepis usulan Trump. Dalam unggahan Telegram pada Minggu, tuntutan Trump itu tak lebih dari sekadar "daftar keinginan" semata.

Harga Minyak Dunia Melesat Usai Iran Serang Kapal Tanker

Ilustrasi Harga Minyak Dunia Hari Ini. Foto: AFP

Sebelumnya, harga minyak naik pada Jumat, 31 Juli 2026. Kenaikan harga minyak dunia terjadi setelah Iran mengatakan telah menyerang dua kapal tanker yang sedang melintasi Selat Hormuz.

Mengutip CNBC, Sabtu (1/8/2026), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat lebih dari 1%, dan ditutup ke posisi US$ 84,67 per barel. Harga minyak mentah Brent juga mendaki lebih dari 1%, dan ditutup di US$ 90,12.

Selama sepekan, harga minyak sempat turun lebih dari 5%, setelah aksi jual pada Senin pekan ini yang dipucu oleh harapan meredanya konflik Timur Tengah.

Menurut saluran berita pemerintah PressTV, Korps Garda Revolusi Islam menyatakan telah menghantam kapal-kapal tanker tersebut saat mereka mencoba melintasi Selat Hormuz di bawah pengawalan militer AS. Empat kapal tanker lainnya berbalik arah setelah serangan terjadi, demikian dilaporkan media pemerintah tersebut.

Organisasi keamanan maritim AS dan Inggris yang memantau lalu lintas pelayaran di Timur Tengah belum mengonfirmasi serangan-serangan tersebut.

 

Ancaman terhadap Pasokan Minyak

Harga Minyak Dunia. Foto: Freepik/wirestock

CEO Chevron, Mike Wirth, mengatakan kepada CNBC pada Jumat, ancaman terhadap pasokan minyak di kawasan tersebut telah meluas hingga ke luar wilayah Hormuz. Sementara itu, Wirth menyebutkan bahwa cadangan minyak global sedang menurun.

Kelompok Houthi di Yaman, yang merupakan sekutu Iran, pekan lalu menyatakan embargo maritim terhadap Arab Saudi dan telah menyerang kapal-kapal tanker di Laut Merah. Pekan ini, sebuah serangan pesawat nirawak (drone) merusak dua kapal pengangkut gas alam cair (LNG) di pelabuhan Damietta, Mesir, yang terletak di Laut Tengah. Belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.

"Situasi ini sedang berada dalam tekanan dan saya khawatir kondisi ini akan terus berlanjut," ujar Wirth kepada Becky Quick dari CNBC. "Waktu kita semakin menipis. Setiap hari berlalu, situasi menjadi semakin sulit."

 

 

Jalur Utama Pasokan Dunia

Sebuah kapal kontainer terlihat di Selat Hormuz di lepas pantai Pulau Qeshm, Iran, Sabtu, 18 April 2026. (AP Photo/Asghar Besharati)

CEO Exxon, Darren Woods, mengatakan kepada CNBC Selat Hormuz harus dibuka kembali karena dunia membutuhkan pasokan minyak Timur Tengah yang saat ini tertahan di kawasan tersebut akibat perang.

"Selat ini adalah jalur utama pasokan dunia yang menggerakkan pertumbuhan ekonomi di berbagai tempat, sehingga pada akhirnya minyak tersebut harus bisa mengalir," kata Woods dalam acara "Squawk Box" di CNBC. "Satu-satunya pertanyaan adalah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai penyelesaian agar selat tersebut bisa dibuka kembali dan produksi minyak di Timur Tengah dapat berjalan lagi."

Laba Exxon dan Chevron melonjak pada kuartal kedua seiring dengan kenaikan harga minyak.

Pekan ini, sejumlah kapal tanker juga mengalami serangan di Laut Hitam saat Ukraina menargetkan infrastruktur energi Rusia. Serangan-serangan tersebut mengancam ekspor melalui jalur pipa Kaspia yang diandalkan Kazakhstan untuk menyalurkan minyaknya ke pasar global.

 

Arena Perang Minyak

Dalam foto yang dirilis pada hari Rabu, 2 Agustus 2023 oleh Sepahnews dari Garda Revolusi Iran, speedboat Garda berpartisipasi dalam latihan di Teluk Persia. Militer AS sedang mempertimbangkan untuk menempatkan personel bersenjata di kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz, dalam tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang bertujuan untuk menghentikan Iran dari menyita dan mengganggu kapal-kapal sipil, empat pejabat Amerika mengatakan kepada The Associated Press pada hari Kamis, 3 Agustus 2023. (Sepahnews via AP)

Vice Chairman S&P Globa, Dan Yergin menuturkan, Teluk Persia, Laut Merah, Laut Tengah, Laut Hitam, Laut Baltik, dan Laut Kaspia semuanya telah menjadi arena perang minyak.

"Masalah besarnya terletak pada produk olahan," kata Yergin kepada program "Squawk Box" di CNBC.

Menurut perkiraan S&P, kapasitas kilang sebesar sekitar 6 juta barel per hari saat ini tidak beroperasi. Rusia telah menghentikan ekspor solar akibat serangan Ukraina terhadap sistem kilangnya. Ekspor produk olahan dari Timur Tengah juga terhenti akibat gangguan di Selat Hormuz.

"Hal ini berdampak pada keseluruhan ekonomi," ujar Yergin.

"Ini berdampak pada para petani di Brasil yang menghadapi kenaikan harga solar. Jadi, di situlah letak perebutan pasokan saat ini,” ia menambahkan.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya