Inflasi Juli 2026 Diproyeksikan Melandai

Penurunan harga pangan diprediksi menekan inflasi IHK Juli 2026 ke level 3,06%–3,08%, sementara neraca perdagangan mulai menunjukkan perbaikan.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 02 Agustus 2026, 19:45 WIB
Warga berbelanja bahan kebutuhan pangan di Pasar Senen, Jakarta. Penurunan harga sejumlah komoditas seperti telur ayam, bawang merah, cabai merah, dan cabai rawit selama musim panen menjadi faktor utama yang menekan inflasi. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juli 2026 diproyeksikan melandai dibandingkan bulan sebelumnya. Permata Bank memperkirakan inflasi tahunan turun menjadi 3,08% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari 3,34% pada Juni 2026. Sementara itu, Bank Mandiri memproyeksikan inflasi berada di level 3,06% (yoy).

Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank, Faisal Rachman, mengatakan bahwa perlambatan inflasi terutama didorong oleh meredanya tekanan pada kelompok harga bergejolak (volatile food).

“Inflasi diperkirakan melandai seiring meredanya tekanan harga pangan. Secara tahunan, inflasi IHK diproyeksikan menurun pada Juli 2026 karena harga pangan mulai melandai,” ujar Faisal di Jakarta, Minggu (2/8/2026).

Menurutnya, penurunan harga sejumlah komoditas seperti telur ayam, bawang merah, cabai merah, dan cabai rawit selama musim panen menjadi faktor utama yang menekan inflasi. Penurunan harga tersebut diperkirakan lebih besar dibandingkan kenaikan harga beras, daging ayam, daging sapi, dan bawang putih.

Secara bulanan (month-to-month/mtm), Permata Bank memperkirakan inflasi turun menjadi 0,05% dari 0,44% pada Juni. Deflasi pada kelompok volatile food diperkirakan menjadi kontributor terbesar dalam perlambatan tersebut.

Meski demikian, inflasi inti diproyeksikan naik tipis menjadi 2,80% (yoy) dari sebelumnya 2,76%. Kenaikan itu dipengaruhi oleh berlanjutnya transmisi biaya produksi ke harga konsumen serta faktor musiman berupa kenaikan biaya pendidikan.

 

Volatile Food Deflasi

Kelompok volatile food mengalami deflasi sebesar 1,12% (mtm), berbalik dari inflasi 0,14% pada Juni. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, memperkirakan inflasi bulanan Juli hanya sebesar 0,03% dengan inflasi tahunan mencapai 3,06%. Menurut Andry, tekanan inflasi dari kelompok harga pangan bergejolak dan harga yang diatur pemerintah (administered prices) mulai mereda setelah penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada bulan sebelumnya.

Ia memperkirakan kelompok volatile food mengalami deflasi sebesar 1,12% (mtm), berbalik dari inflasi 0,14% pada Juni. Penurunan harga cabai merah dan bawang merah menjadi penyumbang utama deflasi tersebut.

“Bank Mandiri memperkirakan Indeks Harga Konsumen (IHK) Indonesia mencatat inflasi sebesar 0,03% secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Juli 2026, melambat dibandingkan inflasi 1,41% mtm pada Juni 2026,” ucapnya di Jakarta, Minggu (2/8/2026).

Di sisi lain, inflasi inti diperkirakan meningkat menjadi 0,29% (mtm) dari 0,23% pada Juni. Peningkatan tersebut terutama dipicu oleh biaya pendidikan pada awal tahun ajaran baru yang diperkirakan menyumbang sekitar 0,06 poin persentase terhadap inflasi bulanan.

 

Prospek Inflasi dan Risiko Paruh Kedua 2026

Potensi peningkatan tekanan harga pangan bisa terjadi pada paruh kedua 2026. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Meski inflasi saat ini masih terkendali, Permata Bank mengingatkan adanya potensi peningkatan tekanan harga pada paruh kedua 2026. Dari sisi domestik, kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG), diperkirakan akan meningkatkan permintaan pangan. Tanpa peningkatan produksi pertanian dan penguatan rantai pasok, kondisi tersebut berpotensi memicu inflasi pangan.

Selain itu, potensi fenomena El Niño yang lebih kuat juga dinilai dapat mengganggu produksi pertanian dan mendorong kenaikan harga komoditas pangan.

Dari faktor eksternal, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah serta arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) masih menjadi risiko utama karena dapat melemahkan nilai tukar rupiah dan meningkatkan inflasi impor (imported inflation).

Permata Bank memperkirakan inflasi pada akhir 2026 berada di kisaran 3,13% dengan asumsi harga energi bersubsidi tetap dipertahankan pemerintah. Dalam skenario dasar tersebut, BI Rate diproyeksikan bertahan di level 5,75%.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya