Liputan6.com, Jakarta - Kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup kembali dibuktikan secara nyata oleh dunia pendidikan di Sumatera Utara. Sivitas akademika Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah (YPSA) Medan berhasil menorehkan prestasi membanggakan yang mengharumkan nama Indonesia di kancah global.
Di bawah bimbingan Dicky Mahaputra Tarigan selaku Guru Pendamping Ekstrakurikuler Penelitian YPSA, tim siswa sukses membuat dua inovasi ramah lingkungan berstandar internasional. Kedua karya brilian tersebut berhasil menyabet medali emas dalam ajang bergengsi Japan Idea Invention Expo (JDIE) di Osaka, Jepang.
Advertisement
Ajang tingkat dunia yang diselenggarakan oleh World Intellectual Properties Association (WIPA) yang berpusat di Taipei, Taiwan, ini diikuti 250 tim dari 15 negara. Di antara 20-an kategori yang dilombakan, inovasi dari YPSA Medan berhasil unggul dan mencuri perhatian dewan juri internasional.
Inovasi pertama yang mencuri perhatian dunia internasional adalah sugarette box. Ide brilian ini bermula dari keprihatinan mendalam atas tingginya limbah puntung rokok di berbagai belahan dunia, serta banyaknya limbah ampas tebu dari para pedagang minuman yang selama ini hanya dibuang atau dibakar tanpa pemanfaatan lebih lanjut.
"Ide awalnya itu dari berita bahwasannya banyak limbah puntung rokok yang dibuang setiap tahunnya. Dan ampas tebu sendiri itu seringkali tidak dimanfaatkan dan hanya dibakar atau menjadi limbah," jelas Dicky Mahaputra Tarigan, Kamis (30/7/2026).
Melalui proses sterilisasi yang aman di sekolah menggunakan zat kimia khusus, kedua jenis limbah tersebut berhasil diolah dan didaur ulang menjadi kemasan karton ramah lingkungan. Tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan dan emisi karbon, inovasi ini juga mendukung penuh penerapan circular economy (ekonomi sirkular).
Keunikan utama dari sugarette box terletak pada kandungan benih tanaman sawi di dalamnya. Setelah kemasan tersebut selesai digunakan, pengguna dapat menanamnya kembali ke dalam tanah sehingga dapat terurai secara alami sekaligus menumbuhkan tanaman baru.
Proses penelitian dan pengerjaan kemasan ini memakan waktu sekitar tiga bulan, yakni dari bulan April hingga Juni. Dari segi legalitas hukum, hak cipta inovasi ini telah didaftarkan dan saat ini tengah dalam proses pengajuan paten.
Keberhasilan ini diraih berkat kerja keras Tim Sugarette Box yang beranggotakan para siswa berbakat Alvaro Aqhtarza Casyavano, Nazwa Nathasya Santosa, Putri Nuri Habibah dan Teuku Keant Anada Mustika.
Tidak kalah gemilang, inovasi kedua lahir dari keresahan terhadap maraknya penggunaan kantong plastik konvensional pada komoditas sayur dan buah di pusat perbelanjaan modern atau supermarket.
Kantong plastik konvensional tersebut dinilai sulit terurai dan mencemari lingkungan. Dari sinilah sekelompok siswa YPSA merancang kantong plastik biodegradable (ramah lingkungan) bernama Sanseplast.
"Keresahan kami terhadap kantong plastik yang biasanya digunakan oleh sayur dan buah yang ada di supermarket. Nah, Bioplastik Sanseplast ini bahan-bahannya dibuat dari tanaman lidah mertua, dan ada beberapa bahan lainnya yang dikombinasikan," ungkap Dicky Mahaputra Tarigan.
Keunikan utama dari bioplastik Sanseplast terletak pada fitur tambahannya, yaitu kandungan anti-bakteri yang bertahan lama. Ketika plastik dibuang atau dimasukkan ke dalam tanah setelah tidak digunakan, materialnya akan terurai secara alami.
“Inovasi ini sekaligus memberikan unsur edukasi bagi masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan,” tambah Dicky.
Riset pembuatan bioplastik ini memakan waktu kurang lebih selama tiga bulan. Tim melibatkan kerja sama dengan laboratorium teknik kimia khusus di Universitas Sumatera Utara (USU) untuk memastikan bahwa produk akhir aman digunakan dan memenuhi standar keselamatan laboratorium (safety lab).
Meskipun saat ini masih berada dalam tahap prototipe skala kecil, bahan baku utamanya tergolong mudah diperoleh dengan biaya produksi yang sangat terjangkau. Dari segi legalitas, inovasi ini juga telah didaftarkan hak ciptanya ke kementerian terkait dan sedang dalam proses pengajuan paten.
Tim peneliti di balik kesuksesan Sanseplast yang merupakan siswa kelas 11 dan 12 ini terdiri dari Nayla Nazhifah Adam Harahap, Ananda Rizky Putra Fandika, Raffa Zahra Ayudina, Rizki Aditya Adha Nasution, dan Talitha Gendis Kesuma.