Liputan6.com, Washington, DC - Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menyebut pertemuannya dengan Presiden Donald Trump di Gedung Putih pada Selasa (28/7/2026) berlangsung sangat baik. Ini merupakan pertemuan langsung pertama keduanya sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel memulai perang bersama melawan Iran.
Pertemuan kali ini disebut menjadi kesempatan bagi Netanyahu untuk meredakan ketegangan yang belakangan mewarnai hubungannya dengan Trump.
Advertisement
Pertemuan tertutup itu berlangsung hampir satu setengah jam. Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyebut pembicaraan tersebut positif dan produktif.
Beberapa jam kemudian, Trump menulis di media sosial bahwa pertemuan itu berjalan sangat baik dan membahas banyak hal penting. Namun, ia tidak menjelaskan lebih jauh topik-topik yang dibicarakan.
Pertemuan tersebut berlangsung ketika Trump dan Netanyahu sama-sama menghadapi tekanan yang semakin besar di dalam negeri.
Netanyahu akan kembali bertarung dalam pemilu dan tengah menghadapi berbagai persoalan politik, salah satunya akibat hubungannya dengan Trump yang memburuk. Sementara itu, Trump didesak mengakhiri perang yang tidak populer di dalam negeri, telah mengacaukan perekonomian, dan mendorong kenaikan harga menjelang pemilu paruh waktu pada November.
Pada Selasa malam, Iran mengakhiri masa tenang yang sempat berlangsung singkat dengan meluncurkan sejumlah rudal balistik ke arah pasukan AS di Timur Tengah. Militer AS mengatakan seluruh rudal tersebut berhasil dicegat.
Seorang pejabat Israel yang mengetahui isi pertemuan di Gedung Putih menuturkan Netanyahu menegaskan kepada Trump dan jajaran kabinetnya bahwa Israel akan membalas apabila Iran menyerang wilayahnya. Namun, di luar kemungkinan tersebut, Israel akan menyerahkan keputusan mengenai langkah selanjutnya kepada Trump.
Pejabat itu meminta identitasnya dirahasiakan karena membicarakan isi pertemuan tertutup.
Meski sebelumnya muncul tanda-tanda ketegangan di antara keduanya, Netanyahu melontarkan pujian tinggi setelah pertemuan. Dalam unggahan di Instagram, ia menekankan bahwa pembicaraan tersebut dihadiri seluruh jajaran pejabat senior pemerintahan Trump.
Wakil Presiden JD Vance turut hadir dalam pertemuan itu. Vance sebelumnya beberapa kali mengkritik Israel. Pada Juni, ia bahkan memperingatkan para pejabat Israel bahwa Trump merupakan satu-satunya teman mereka di antara para pemimpin dunia.
"Ketika saya mengatakan pertemuan itu sangat baik, saya tidak bermaksud sekadar basa-basi," ujar Netanyahu dalam bahasa Ibrani.
"Pembicaraan berlangsung dalam semangat kemitraan penuh, saling mendukung, serta kesamaan pandangan mengenai tujuan bersama untuk memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir, maupun tujuan-tujuan lainnya."
Netanyahu kemudian menghadiri pemakaman Senator Lindsey Graham bersama Trump dan Vance. Dalam acara itu, pemimpin Israel tersebut terlihat berbicara dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, yang sebelumnya bertemu dengan Trump pada hari yang sama.
Trump Tunjukkan Kekesalan ke Netanyahu Jelang Pertemuan
Menjelang pertemuan, Trump secara terbuka menunjukkan kekesalannya terhadap Netanyahu. Ia menanggapi laporan bahwa pemimpin Israel itu akan membahas informasi intelijen mengenai aktivitas Iran di Gunung Pickaxe, lokasi yang diduga berpotensi menjadi fasilitas nuklir. Trump sebelumnya berulang kali mengancam akan menyerang lokasi tersebut.
"Saya tahu persis apa yang sedang terjadi di Pickaxe," kata Trump dalam acara 'Fox & Friends'.
Menurut Trump, aktivitas Iran di lokasi itu bukan persoalan besar. Ia menduga Netanyahu sengaja mengangkat masalah tersebut agar AS tetap terlibat dalam perang Iran.
"Bibi mengatakan hal itu kepada saya karena dia ingin saya tetap terlibat," ujar Trump, menggunakan nama panggilan Netanyahu.
Trump mempertanyakan mengapa informasi tersebut perlu disampaikan kepada publik.
"Mengapa harus mengumumkannya kepada seluruh dunia?" katanya, memperlihatkan kejengkelannya terhadap Netanyahu.
Pejabat Israel yang mengetahui isi pertemuan mengungkapkan Netanyahu kembali menegaskan bahwa Israel akan selalu membagikan informasi intelijen kepada AS. Pejabat yang sama menuturkan Netanyahu juga memahami bahwa Washington memiliki perhitungan sendiri dalam menentukan langkah selanjutnya, termasuk mempertimbangkan dampaknya terhadap negara-negara sekutu AS di kawasan apabila operasi militer ditingkatkan.
Hubungan Trump dan Netanyahu mengalami pasang surut selama bertahun-tahun. Namun, setelah Trump kembali ke Gedung Putih tahun lalu, hubungan keduanya sempat terlihat lebih kuat daripada sebelumnya.
Ketika memulai perang bersama pada Februari, Trump dan Netanyahu menunjukkan sikap yang kompak. Keduanya menggambarkan militer AS dan Israel bekerja bahu-membahu untuk menyingkirkan para pemimpin Iran dan membuka jalan bagi terbentuknya pemerintahan yang lebih bersahabat dengan Barat.
Namun, tekanan terhadap Trump meningkat setelah Iran melawan. Teheran mengirimkan pesawat nirawak dan rudal yang menghantam pangkalan-pangkalan AS serta gedung-gedung tinggi di sejumlah kota di kawasan Teluk. Iran juga menutup Selat Hormuz.
Situasi tersebut membuat Trump mendapat tekanan besar, baik dari dalam negeri maupun dari negara-negara sekutu di kawasan, untuk segera mengakhiri perang.
Sejak saat itu, Netanyahu mulai tersisih ketika Trump berusaha mencapai kesepakatan dengan Teheran. Padahal, Netanyahu ingin melanjutkan pertempuran melawan Iran dan sekutunya, Hizbullah, di Lebanon.
Netanyahu Serahkan Langkah Selanjutnya kepada Trump
Perbedaan pendapat Netanyahu dengan Trump dan Vance mengenai perang di Iran serta sejumlah persoalan lain pun mulai terlihat secara terbuka.
"AS menegaskan kepada Israel bahwa merekalah yang mengendalikan jalannya perang," tulis jurnalis sekaligus analis politik Israel Amit Segal di surat kabar Israel Hayom pada Senin.
"Semua orang memahami bahwa Israel kini hanya menjadi penumpang."
Pada Minggu, Netanyahu menyatakan bahwa keputusan mengenai langkah selanjutnya dalam banyak hal berada di tangan Trump.
"Apabila dia bisa melakukannya tanpa harus kembali pada pertempuran militer besar-besaran, tentu tidak masalah. Mengapa tidak?" katanya.
"Namun, dengan cara apa pun, program nuklir mereka harus diakhiri," kata Netanyahu mengenai Iran dalam wawancara dengan Maria Bartiromo di acara 'Sunday Morning Futures' di Fox News Channel.
Pejabat Israel yang mengetahui isi pertemuan tersebut mengatakan Trump dan Netanyahu juga membahas kerangka kesepakatan yang diteken AS dan Israel dengan Lebanon terkait perang Israel-Hizbullah.
Keduanya turut membahas perluasan Abraham Accords, yaitu rangkaian kesepakatan yang mendorong negara-negara Arab dan negara berpenduduk mayoritas muslim untuk menormalisasi hubungan dengan Israel.
Membuka Jalan bagi Pasukan Stabilisasi Internasional
Netanyahu dinilai berkepentingan meyakinkan Trump bahwa Israel tidak akan menghalangi upaya diplomasi dan rekonstruksi AS di Gaza dan Lebanon.
Trump sebelumnya mengeluhkan bahwa "terlalu banyak orang terbunuh" akibat serangan Israel di kedua wilayah tersebut.
Di Lebanon, tempat militer Israel menduduki sebagian besar wilayah selatan, Israel setuju mengizinkan tentara Lebanon masuk ke sejumlah desa melalui sebuah "program percontohan".
Program itu dirancang untuk menguji kemampuan tentara Lebanon mengamankan daerah-daerah yang sebelumnya menjadi wilayah operasi Hizbullah.
Kementerian Luar Negeri AS mengatakan putaran perundingan berikutnya antara Israel dan Lebanon akan berlangsung pekan depan di Roma. Pembicaraan tersebut akan berfokus pada perluasan program itu.
Di Gaza, kabinet keamanan Israel pada Minggu (26/7) menyetujui sebuah kebijakan yang secara teori memungkinkan anggota pertama pasukan stabilisasi internasional memasuki wilayah tersebut.
Pembentukan pasukan itu sebelumnya tercantum dalam kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang didukung AS tahun lalu.
Namun, sejauh ini baru sedikit negara yang bersedia mengirimkan pasukan. Israel juga akan menilai dan menyetujui masuknya setiap pasukan ke Gaza satu per satu.
Pasukan tersebut, termasuk yang berasal dari Maroko dan Uganda, hanya akan diizinkan beroperasi di sebuah kawasan kecil dan tandus di Rafah, Gaza Selatan. Wilayah itu direncanakan menjadi tempat pemeriksaan dan penampungan bagi sebagian warga Palestina yang mengungsi.
Militer Israel masih terus melancarkan serangan yang mereka klaim menargetkan kelompok militan, tetapi serangan-serangan tersebut juga menewaskan warga sipil.
Dukungan dari kedua partai politik utama AS terhadap Israel telah merosot tajam, terutama akibat perang di Gaza.
Survei AP-NORC yang diterbitkan bulan ini menunjukkan penurunan besar dukungan terhadap Israel di kalangan warga dewasa AS.
Di dekat Gedung Putih, sekelompok kecil demonstran meneriakkan, "Netanyahu, Anda seorang tiran" dan "Bibi, Anda tidak diterima di sini", merujuk pada nama panggilan PM Israel tersebut.