Top 3 Tekno: Aplikasi Pendeteksi Kacamata Pintar Paling Dicari

Aplikasi pendeteksi orang di sekitar yang menggunakan kacamata pintar Meta maupun perangkat sejenis lainnya, paling dicari pembaca.

oleh IskandarDiterbitkan 28 Juli 2026, 11:00 WIB
Ilustrasi kacamata pintar (smart glasses). (Doc: UrbanWearables Technology)

Liputan6.com, Jakarta - Aplikasi untuk mendeteksi orang di sekitar yang menggunakan kacamata pintar Meta maupun perangkat sejenis lainnya, paling dicari pembaca di kanal Tekno Liputan6.com, Senin (27/7/2026) kemarin.

Berita lain yang juga populer datang dari kemampuan model AI baru Claude yang disebut hampir mendekati Fable 5.

Lebih lengkapnya, simak tiga berita terpopuler di kanal Tekno Liputan6.com berikut ini.

1. Khawatir Direkam Diam-Diam? Aplikasi Ini Bisa Deteksi Kacamata Pintar di Sekitarmu

Aplikasi buatan Albert Pariente Cohen, Antizuck Smart Glasses Scanner, kini tersedia di iPhone. Aplikasi ini dirancang untuk mendeteksi orang di sekitar yang menggunakan kacamata pintar Meta maupun perangkat sejenis lainnya.

Cara kerjanya adalah dengan memindai sinyal Bluetooth dari perangkat sekitar, seperti kacamata pintar Meta, Snap Spectacles, Meta Quest headsets, RayNeo smart glasses, dan beragam wearable gadget lain. Aplikasi ini kemudian akan memberi tahu jenis perangkat yang berada di dekat pengguna serta mendata apakah perangkat tersebut pernah terdeteksi sebelumnya.

Seperti dilaporkan Lifehacker, Senin (27/7/2026), demi menjaga privasi pengguna, Antizuck tidak mengharuskan pembuatan akun atau pendaftaran email, serta tidak mengirimkan data keluar dari ponsel. Aplikasi ini dijual di App Store seharga US$ 2,99 atau setara Rp 53.587 (estimasi kurs Rp 17.992 per dolar AS).

Dalam pengujian, Antizuck berhasil mendeteksi kacamata Meta maupun headset Quest 3. Aplikasi ini bahkan mampu menampilkan nama serta perkiraan jarak Quest 3 saat berada dalam mode sleep.

Namun, pendeteksian kacamata pintar Meta terbilang tidak semudah itu. Antizuck umumnya baru mendeteksi kacamata Meta saat perangkat tersebut dimatikan lalu dinyalakan kembali, sedang diisi dayanya, atau saat berada dalam proses penyambungan (pairing).

Baca selengkapnya di sini

 

2. Kemampuan Model AI Baru Claude Hampir Mendekati Fable 5, Seberapa Cepat?

Claude AI. Credit: claude.com

Google baru saja meluncurkan model terbaru Gemini 3.6 dan jajaran 3.5 Flash. Tak mau kalah, Anthropic turut menghadirkan model terbaru yang melengkapi seri Opus dan digadang-gadang mampu menyaingi kemampuan Fable 5.

Anthropic memperkenalkan Claude Opus 5 sebagai model yang lebih efisien dibanding model lainnya. Dalam sebuah unggahan di blog, perusahaan mengklaim tingkat kecerdasan model mereka mendekati Fable 5, namun dengan biaya separuhnya.

Disebutkan juga sebagai teknologi mutakhir dalam hal pemrograman dan pekerjaan berhubungan dengan pengetahuan, tetapi masih tertinggal dari Mythos 5 dalam pekerjaan keamanan siber. Demikian sebagaimana dikutip dari Android Authority, Senin, (27/7/2026).

Berdasarkan data Frontier-Bench v0.1., terkait pekerjaan rekayasa perangkat lunak, Anthropic mengklaim performa Opus 5 dua kali lipat lebih unggul dari Opus 4.8 dengan biaya per tugas lebih rendah.

Dari data Anthropic menunjukkan Opus 5 mengungguli Fable 5 dalam beberapa pekerjaan, seperti salah satu contohnya pada pengujian pemrograman, Opus 5 mencapai 43.3% dan Fable 5 hanya di 33.7%.

Baca selengkapnya di sini

 

3. Cegah Pengguna Kabur ke TikTok, Facebook Bakal Ubah Tampilan

Aplikasi Facebook / Sumber: iStock

Facebook sedang merencanakan perubahan besar demi mencegah penggunanya berpaling ke platform pesaing, TikTok. Langkah ini membuat platform besutan Meta tersebut makin terlihat seperti "tiruan" TikTok.

Pimpinan Facebook, Tom Alison, mengumumkan bahwa platformnya akan mulai menguji coba pengalaman yang dirancang ulang pada akhir tahun ini. Pembaruan tersebut akan langsung menampilkan tayangan video layar penuh (full screen) begitu pengguna membuka aplikasi.

Pihak Meta belum membagikan detail tampilan antarmuka terbarunya. Namun, mereka menyebutkan bahwa uji coba akan dimulai di negara-negara dengan tingkat konsumsi video tinggi, sebelum diperluas ke Amerika Serikat pada tahun depan.

Uji coba ini didorong oleh pengamatan Facebook bahwa "video kini menjadi tempat perbincangan terjadi, komunitas terbentuk, dan bahkan aktivitas perdagangan berlangsung." Fenomena inilah yang membuat platform media sosial orisinal milik Meta tersebut mulai tertinggal dari para kompetitornya.

Meski Meta tidak membeberkan rincian angka pengguna di setiap platformnya, data internal perusahaan menunjukkan bahwa Meta kehilangan sekitar 20 juta pengguna secara keseluruhan pada kuartal pertama 2026. Demikian sebagaimana dikutip dari The Verge, Senin (27/7/2026).

Baca selengkapnya di sini

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya