Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada perdagangan Selasa (28/7/2026) pagi. Rupiah turun 61 poin atau 0,34% menjadi 18.070 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di 18.009 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah perhatian pasar terhadap perkembangan konflik Amerika Serikat dan Iran serta arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
Advertisement
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan, rupiah pada perdagangan Selasa bergerak fluktuatif dan ditutup melemah. Ada sejumlah faktor yang mempengaruhi gerak rupiah hari ini.
Dari eksternal, Ibrahim menyoroti keputusan Washington menghentikan sementara kampanye pengeboman setelah melakukan serangan selama 13 malam berturut-turut. Iran juga dilaporkan akan menangguhkan serangan balasan selama jeda serangan AS tetap berlangsung.
Perkembangan itu memunculkan harapan ketegangan kedua negara mulai mereda. Namun, pelaku pasar masih mencermati risiko geopolitik dan gangguan pengiriman komoditas, termasuk berkurangnya lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz.
Selain geopolitik, pasar menanti keputusan suku bunga The Fed pada pertemuan 28-29 Juli. The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga pada pertemuan tersebut, sedangkan pasar melihat peluang kenaikan suku bunga pada September.
Sentimen Dalam Negeri
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai pasar turut mencermati perkembangan di Bank Indonesia serta kondisi fiskal Indonesia. Ia menyoroti rasio utang pemerintah yang berada di kisaran 40% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Menurut dia, kondisi utang tidak cukup dinilai dari rasio terhadap PDB, tetapi juga perlu mempertimbangkan kemampuan pemerintah membayar pokok dan bunga utang.
Untuk diketahui, pada perdagangan Senin (27/7/2026), rupiah ditutup melemah 46 poin menjadi 18.009 per dolar AS dari posisi sebelumnya 17.963 per dolar AS. Tekanan berlanjut pada Selasa pagi hingga rupiah berada di level Rp 18.070 per dolar AS.