7,7 Juta Pekerja Indonesia Jadi Komuter, Jawa Barat Terbanyak

Pekerja komuter Indonesia mencapai 7,7 juta orang pada 2025. Sekitar tiga dari empat komuter berada di Pulau Jawa.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 27 Juli 2026, 17:15 WIB
Para pengguna KRL Jabodetabek pada jam sibuk. (Dok KAI Commuter)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sebanyak 7,7 juta orang menjadi pekerja komuter di Indonesia pada 2025. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 5,2% dari total pekerja di Tanah Air.

Temuan itu tercantum dalam publikasi BPS bertajuk Analisis Mobilitas Tenaga Kerja Hasil Sakernas 2025. Dikutip dari publikasi tersebut, Senin (27/7/2026), komuter merujuk pada pekerja yang melakukan perjalanan pulang-pergi harian untuk bekerja di luar kabupaten atau kota tempat tinggalnya.

Menariknya, mobilitas pekerja komuter sangat terkonsentrasi secara geografis. Sekitar 90% pekerja komuter berada di Kawasan Barat Indonesia, yang mencakup Sumatera, Jawa, dan Bali. Bahkan, sekitar tiga dari empat pekerja komuter di Indonesia berada di Pulau Jawa.

BPS mencatat konsentrasi pekerja komuter berkaitan dengan wilayah yang memiliki aktivitas ekonomi dan jumlah penduduk bekerja besar. Keberadaan pusat pekerjaan di satu wilayah dan kawasan permukiman di wilayah lain turut membentuk pergerakan tenaga kerja antardaerah.

Meski mencapai jutaan orang, pekerja komuter masih menjadi kelompok minoritas dalam struktur pekerja nasional. Sebanyak 138,8 juta orang atau 94,8% pekerja tergolong nonkomuter pada 2025.

 

Jawa Barat Punya Komuter Terbanyak

PT Kereta Api Indonesia (KAI) berencana untuk menutup operasional Stasiun Karet, Jakarta, untuk naik turun penumpang moda KRL Jabodetabek. (Liputan6.com/Herman Zakharia)
Aktivitas pekerja saat jam pulang kantor di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Jika dirinci berdasarkan provinsi, Jawa Barat menjadi daerah dengan jumlah pekerja komuter terbesar di Indonesia pada 2025, mencapai sekitar 1,89 juta orang. Angka tersebut setara 7,7% dari total pekerja di Jawa Barat.

Posisi berikutnya ditempati Jawa Tengah dengan sekitar 1,15 juta pekerja komuter, disusul Jawa Timur sebanyak 941,5 ribu orang, DKI Jakarta 885,9 ribu orang, dan Banten 565,3 ribu orang.

Namun, urutannya berubah apabila dilihat dari persentase komuter terhadap jumlah pekerja di masing-masing provinsi. DKI Jakarta berada di posisi teratas dengan 17,3% pekerjanya merupakan komuter.

Selanjutnya, DI Yogyakarta mencatat persentase 13,1%, Banten 9,8%, Bali 9,1%, dan Jawa Barat 7,7%. BPS menilai kondisi tersebut menunjukkan intensitas komuter tidak hanya ditentukan besarnya populasi pekerja, tetapi juga karakter wilayah, aglomerasi ekonomi, serta keterhubungan antara kawasan tempat tinggal dan pusat kegiatan kerja.

Pada tingkat kabupaten/kota, daerah tempat tinggal pekerja komuter banyak berada di kawasan penyangga metropolitan, seperti Depok, Bekasi, Bogor, dan Tangerang. Sementara wilayah tujuan banyak didominasi pusat kegiatan ekonomi seperti Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Surabaya, Bandung, Medan, dan Semarang.

 

82,3% Pekerja Komuter Bekerja di Sektor Formal

Pekerja melintas di trotoar Jalan Jenderal Sudirman saat jam pulang kantor. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Karakteristik pekerja komuter juga berbeda dari struktur pekerja nasional secara keseluruhan. BPS mencatat 82,3% pekerja komuter bekerja di sektor formal, sedangkan pekerja komuter di sektor informal hanya 17,7%.

Besarnya porsi pekerja formal menunjukkan mobilitas komuter banyak berkaitan dengan pusat kegiatan ekonomi, kawasan perkantoran, industri, perdagangan, dan jasa yang memiliki pola kerja lebih teratur serta lokasi kerja relatif tetap.

DKI Jakarta mencatat 92,9% pekerja komuternya berada di sektor formal. Kemudian Banten 88%, Kepulauan Riau 86,6%, serta Jawa Barat dan Kalimantan Barat masing-masing 85,4%.

Secara nasional, pekerja komuter juga didominasi kelompok berpendidikan SMA ke atas. BPS menyebut pola tersebut terlihat di sebagian besar provinsi dan berkaitan dengan struktur pekerjaan di wilayah tujuan, termasuk sektor formal, jasa, administrasi, perdagangan modern, serta aktivitas ekonomi perkotaan.

Jumlah pekerja komuter sendiri mengalami pasang surut dalam satu dekade terakhir. Dari 7,1 juta orang pada 2016, jumlahnya meningkat menjadi 8,9 juta pada 2019. Setelah turun menjadi 7 juta pada 2020, jumlah pekerja komuter kembali bergerak naik dan mencapai 7,7 juta orang pada 2025, dari 7,6 juta orang pada 2024.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya