IHSG Sepekan Naik Terbatas ke 6.196, Analis Ungkap Penyebabnya

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menguat selama sepekan meski terbatas pada 20-24 Juli 2026. Berikut sentimen yang mempengaruhi IHSG.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 25 Juli 2026, 10:02 WIB
Pada pekan ini tepatnya 20-24 Juli 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melanjutkan penguatan. (BAY ISMOYO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat terbatas pada perdagangan saham 20-24 Juli 2026. Analis menilai, kenaikan IHSG sepekan didorong faktor internal dan eksternal, terutama konflik Timur Tengah yang kembali memanas.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (25/7/2026), IHSG naik 0,34% menjadi 6.196,43 dari penutupan pekan lalu. Dengan demikian, IHSG melanjutkan kenaikan dari pekan lalu yang melonjak 4,2% di 6.175. Sementara itu, kapitalisasi pasar BEI menguat 1,13% menjadi Rp 10.870 triliun dari Rp 10.749 triliun pada pekan lalu.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG naik 0,34% tetapi muncul adanya tekanan jual. Ia menilai, ada sejumlah faktor yang mempengaruhi pergerakan IHSG. Pertama, memanasnya kembali kondisi Timur Tengah sehingga menyebabkan kenaikan harga minyak mentah dunia mencapai US$ 100 per barel.

Herditya mengatakan, hal itu meningkatkan kekhawatiran investor akan potensi kenaikan inflasi global. Kedua, tekanan IHSG juga dipengaruhi oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang memberlakukan tarif impor baru sebesar 10-12,5% terhadap 60 mitra dagang termasuk Indonesia.

"Faktor ketiga, kenaikan imbal hasil obligasi serta kekhawatiran akan ada potensi bank sentral untuk mempertahankan suku bunga acuannya lebih tinggi atau higher for longer,” kata Herditya saat dihubungi Liputan6.com.

Faktor keempat, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang cenderung stabil setelah suku bunga acuan atau BI Rate bertahan pada level 5,75%. Faktor kelima, Herditya menuturkan, investor juga mencermati rilis laporan keuangan semester I 2026.

 

Investor Asing Lepas Saham pada Pekan Ini

Sementara itu, peningkatan tertinggi dialami rata-rata volume transaksi harian BEI sebesar 66,88% menjadi 43,68 miliar saham dari 26,17 miliar saham pekan sebelumnya. Lalu rata-rata nilai transaksi harian bursa meningkat 41,21% menjadi Rp 19,76 triliun dari Rp 13,99 triliun pada pekan lalu. Rata-rata frekuensi transaksi harian juga melompat 14,4% menjadi 2,67 juta kali transaksi dari 2,33 juta kali transaksi pada pekan lalu.

Pada pekan ini, investor asing melakukan aksi jual saham yang cukup signifikan mencapai Rp 3,37 triliun. Kondisi ini berbeda dari pekan lalu yang terjadi aksi beli oleh investor asing. Pekan lalu, investor asing mencatat pembelian saham Rp 442,05 miliar.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Penutupan IHSG pada 24 Juli 2026

Pengunjung melintas di dekat monitor perkembangan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot hingga penutupan perdagangan saham Jumat, (24/7/2026). Koreksi IHSG hari ini terjadi seiring seluruh sektor saham tertekan dan nilai transaksi harian saham di bawah Rp 20 triliun.

Mengutip data RTI, IHSG hari ini ditutup anjlok 1,88% menjadi 6.196,43. Indeks saham LQ45 merosot 1,97% menjadi 614,78. Seluruh indeks saham acuan tertekan.

Pada Jumat pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 6.268,53 dan level terendah 6.159,14. Sebanyak 587 saham melemah sehingga bebani IHSG. 104 saham menguat dan 105 saham diam di tempat.

Total frekuensi perdagangan 2.256.725 kali dengan volume perdagangan saham 37,9 miliar saham. Transaksi harian saham tidak terlalu seiring transaksi harian saham di bawah Rp 20 triliun. Jelang akhir pekan, nilai transaksi harian saham Rp 17,7 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah di kisaran 17.953.

Seluruh sektor saham tertekan. Sektor saham consumer siklikal merosot 3,04%, dan catat koreksi terbesar. Sektor saham energi turun 2,82%, sektor saham basic melemah 3,02%, sektor saham industri tergelincir 1,47%.

Sektor saham consumer nonsiklikal susut 1,45%, sektor saham kesehatan terpangkas 0,26%, sektor saham keuangan melemah 2%, sektor saham properti melemah 1,16%. Lalu sektor saham teknologi terpangkas 1,41%, sektor saham infrastruktur tergelincir 1,63%, dan sektor saham transportasi merosot 2,7%.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya