Liputan6.com, Jakarta - PT Adhi Karya Tbk (ADHI) mencatat kinerja keuangan beragam hingga semester pertama 2026 yang berakhir 30 Juni 2026. Perseroan mencatat pendapatan usaha turun, tetap laba meningkat.
Mengutip keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Adhi Karya Tbk meraup pendapatan Rp 3,11 triliun hingga 30 Juni 2026. Pendapatan usaha tersebut turun sekitar 18,3% dari periode sama tahun sebelumnya Rp 3,81 triliun.
Advertisement
Beban pokok pendapatan turun 25,54% menjadi Rp 2,41 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp 3,23 triliun. Seiring hal itu, perseroan masih mencatat pertumbuhan laba bruto 22,6%. Laba bruto naik menjadi Rp 700,42 miliar hingga semester pertama 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 572,87 miliar.
Beban usaha perseroan naik tipis 0,06% menjadi Rp 384,24 miliar dari periode sama tahun sebelumnya Rp 384,01 miliar.
Seiring hal tersebut, laba usaha Adhi Karya naik 67,41% menjadi Rp 316,17 miliar hingga semester pertama 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 188,85 miliar.
Perseroan mencatat kenaikan laba ventura bersama menjadi Rp 188,4 miliar dari periode sama tahun sebelumnya Rp 186,2 miliar. Namun, beban keuangan perseroan naik menjadi Rp 349,1 miliar dari periode sama tahun sebelumnya Rp 339,81 miliar.
Perseroan mencatat laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 12,5% menjadi Rp 8,49 miliar hingga semester pertama 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 7,54 miliar. Perseroan mencatat laba per saham dasar naik menjadi Rp 1,01 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 0,90.
Total ekuitas perseroan naik menjadi Rp 3,31 triliun hingga Juni 2026 dari Desember 2025 Rp 3,29 triliun. Liabilitas perseroan turun menjadi Rp 24,21 triliun dari Desember 2025 Rp 25,49 triliun. Aset perseroan turun menjadi Rp 27,52 triliun hingga Juni 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 28,7 triliun. Perseroan kantongi kas dan setara kas Rp 813,09 miliar hingga 30 Juni 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 1,7 triliun.
Kontrak Baru Desember 2025
Sebelumnya, PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) mencatat, hingga 31 Desember 2025 perolehan kontrak baru sebesar Rp 18,1 triliun. Berdasarkan lini bisnis perolehan kontrak baru terdiri dari 91% engineering dan konstruksi, 5% manufaktur, 3% properti dan hospitality, dan 1% investasi & konsesi.
Mengutip Keterbukaan Informasi BEI, Selasa (7/4/2026), berdasarkan tipe pekerjaan, 43% pekerjaan Gedung, 15% infrastruktur Sumber Daya Air, 14% Jalan & Jembatan, dan sisanya lainnya.
Berdasarkan sumber pendanaan 69% pemerintah, 23% BUMN, dan sisanya swasta. Total produksi ADHI di sepanjang tahun 2025 senilai Rp 16,6 triliun yang langsung dibukukan sebagai Pendapatan Usaha Non JO sebesar Rp 9,7 Triliun dan sisanya tercermin dari Laba JO sebesar Rp 462 miliar.
Kontribusi terbesar pendapatan usaha ADHI berasal dari proyek infrastruktur seperti proyek Jalan Tol Yogyakarta-Bawen, Jalan Tol Yogyakarta-Solo-Kulon Progo, dan proyek PUSRI III-B.
Ebitda Perseroan
Di sisi lain, ADHI membukukan EBITDA positif sebesar Rp 763,8 miliar yang menunjukkan bahwa kemampuan Perseroan menghasilkan arus kas dari kegiatan usaha operasi pada tahun berjalan.
Biaya non-operasional tersebut merupakan hasil dari tiga langkah penyehatan yang dilakukan serentak. Pertama, penyesuaian nilai wajar aset Perusahaan seiring program penyehatan BUMN Karyadari Danantara.
Penyesuaian ini berdampak dominan pada dua anak perusahaan properti, yaitu Adhi Persada Properti dan Adhi Commuter Properti. Perlambatan bisnis makro properti dan penurunan daya beli masyarakat menyebabkan koreksi Nilai Realisasi Bersih (NRV) berdasarkan appraisal KJPP, yang dicatat sebagai Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN).
Kedua, evaluasi CKPN atas piutang Adhi Persada Gedung, anak perusahaan di bidang kontraktor gedung yang sebagian besar portofolio pelanggannya berada di sektor properti yang mengalami tekanan dan proses kepailitan. Ketiga, tindak lanjut temuan audit yang meminta Perseroan melakukan pencadangan yang cukup dan konservatif.
Aset Perseroan
Adapun total aset ADHI per 31 Desember 2025 tercatat sebesar Rp 28,8 triliun dan liabilitas Perseroan tercatat sebesar Rp 25,5 Triliun. Hal ini disebabkan oleh penurunan liabilitas jangka pendek sejalan dengan pengelolaan kewajiban dan arus kas Perseroan.
Pada laporan laba rugi, ADHI mencatatkan rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 5,4triliun, perubahan ini seluruhnya berasal dari pembukuan biaya non-operasional.
Sementara itu, ekuitas Perseroan tercatat sebesar Rp 3,3 Triliun, sejalan dengan pencatatan biaya penyehatan pada periode berjalan. Rasio DER berbasis Interest Bearing Debt masih di bawah covenant, tercatat sebesar 2,41 kali.
Meskipun mencatatkan penyesuaian nilai, Perseroan memiliki beberapa pondasi untuk pemulihan. ADHI masih memiliki piutang atas beberapa proyek besar yakni LRT Jabodebek dan piutang atas proyek Tol Aceh-Sigli. Realisasi piutang-piutang ini diharapkan berdampak langsung pada penerimaan kas Perseroan.