Tak Saingi EV, ESDM Beberkan Keunggulan Kendaraan Hidrogen

Beda segmen dari EV, Kementerian ESDM sebut mobil hidrogen dirancang khusus untuk rute jarak jauh.

oleh Idris Rusadi PutraDiterbitkan 21 Juli 2026, 17:37 WIB
China Sukses Produksi 30 Ribu Unit Mobil Hidrogen (Carnewschina)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa pengembangan kendaraan bertenaga hidrogen difokuskan untuk memenuhi kebutuhan transportasi jarak jauh yang tetap menjaga prinsip ramah lingkungan.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi menyampaikan, kendaraan hidrogen memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan kendaraan listrik (electric vehicle/EV). EV dinilai lebih ideal untuk mobilitas dengan rute yang tidak terlalu panjang.

"Jadi konsepnya adalah EV itu kan untuk jarak yang tertentu dan lebih baik me-charge (mengisi daya) itu di rumah. Jadi memang arah dari hasil (penelitian) teman-teman BRIN itu (EV) diarahkan untuk dipakai di siang hari terus-menerus, nanti malam hari balik ke rumah bisa di-charge. Nah, kalau konsepnya hidrogen itu jarak jauh,” kata Eniya dikutip dari Antara, Selasa (21/7/2026).

Dengan perbedaan peruntukan tersebut, Eniya menepis anggapan bahwa mobil hidrogen akan menjadi pesaing utama EV. Keduanya akan berjalan beriringan sesuai dengan segmen dan kebutuhan pengguna di lapangan.

Di sisi lain, Eniya juga menyoroti potensi integrasi teknologi hidrogen maupun EV dengan sumber energi baru dan terbarukan (EBT) lainnya, seperti tenaga surya. Salah satu implementasinya dapat dilihat pada proyek hidrogen di Pulau Rengit yang digarap bersama PT PLN (Persero).

Proyek ini ditujukan untuk menyukseskan program dedieselisasi, yakni mengurangi ketergantungan pada pembangkit listrik tenaga diesel di kawasan pelosok.

Dalam rancangannya, target pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 100 GW dapat dimanfaatkan sebagai pendorong utama produksi hidrogen.

Pangkas Ongkos Produksi

Mengenal Cara Kerja Mobil Hidrogen yang Hanya Menghasilkan Air (ist)

Langkah inovatif ini diproyeksikan mampu memangkas ongkos produksi listrik secara masif. Biaya listrik dari diesel yang semula berada di kisaran Rp 20.000 atau sekitar US$ 1 per kWh, berpeluang ditekan hingga menyentuh angka 25 sen dolar AS per kWh.

"Dengan menggunakan konsep elektrolisa, menggunakan air, menghasilkan hidrogen. Hidrogen dibuat lagi untuk dimasukkan ke baterai pada saat siang hari menggunakan PLTS. Jadi biar tidak terbuang, itu dilarikan ke gas hidrogen, terus dipakai lagi ke malam hari. Jadi ini mengirit baterai, lalu menurunkan biaya diesel," katanya. 

Untuk membuktikan efisiensi tersebut, Eniya meminta seluruh pihak terkait agar melakukan perhitungan dan evaluasi berkala selama 6 hingga 12 bulan ke depan, sehingga data yang dihasilkan dari dedieselisasi ini lebih valid.

"Dan kita lihat ya, nanti apakah ini bergulir terus sampai berbulan-bulan, karena baru beberapa bulan yang lalu dicoba. Saya minta hitung sampai enam bulan, terus sampai satu tahun. Kita buktikan bahwa dedieselisasi itu bisa dilaksanakan juga,” ujar Eniya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya