Iran Diduga Jual Minyak hingga Rp 107,7 Triliun Selama Gencatan Senjata

Iran kemungkinan telah menjual sekitar 70 juta barel minyak sekitar Rp 89,7 triliun-Rp 107,7 triliun selama masa gencatan senjata dengan Amerika Serikat (AS).

oleh Tim GlobalDiterbitkan 20 Juli 2026, 18:11 WIB
Ilustrasi minyak mentah. (AP Photo/Leo Correa)

Liputan6.com, Teheran - Iran kemungkinan telah menjual sekitar 70 juta barel minyak senilai US$ 5-6 miliar atau sekitar Rp 89,7 triliun-Rp 107,7 triliun selama kurang lebih satu bulan masa gencatan senjata dengan Amerika Serikat (AS) dan pencabutan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhannya.

Dikutip dari Antara, Senin (20/7/2026), menurut The Wall Street Journal, mengutip para analis dan data dari organisasi nirlaba United Against Nuclear Iran (UANI), penjualan minyak itu memungkinkan Teheran membangun cadangan devisa yang berharga sebelum Washington kembali memberlakukan berbagai pembatasan.

Pada Juni lalu, Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command) mengatakan pasukan AS, atas perintah Presiden Donald Trump, telah mencabut blokade laut terhadap pelabuhan dan wilayah pesisir Iran.

Tak lama kemudian, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan AS telah mencabut pembatasan ekspor minyak Iran, mencairkan sejumlah aset Iran yang sebelumnya dibekukan, serta meluncurkan rencana pemulihan ekonomi negara itu.

Lalu pada Juli, Trump mengatakan dia tidak menyesali keputusan mencabut blokade laut tersebut, seraya mengatakan Washington memberikan kesempatan kepada Teheran untuk mencapai sebuah kesepakatan.

Pada malam 18 Juni, Teheran dan Washington menandatangani sebuah memorandum yang menyerukan penghentian perang yang dipicu oleh agresi militer AS bersama Israel pada 28 Februari. Namun, militer AS dilaporkan kembali melancarkan beberapa serangan terhadap Iran sejak 8 Juli.

Militer Iran kemudian membalas dengan menyerang sejumlah pangkalan militer AS di beberapa negara di Timur Tengah. Teheran juga menuduh Washington telah melanggar perjanjian gencatan senjata. Pada 9 Juli, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata tersebut tidak lagi berlaku.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya