Spanyol vs Argentina: Bukan Yamal vs Messi, tapi Rodrigo vs Rodrigo

Rodrigo vs Rodrigo menjadi gambaran sesungguhnya final Piala Dunia 2026, terutama jika dipandang dari watak kedua tim yang akan bertarung.

Pemimpin Redaksi Liputan6.com, Titis Widyatmoko

Liputan6.com, Jakarta - Orang akan menjual final Piala Dunia 2026 sebagai Lionel Messi melawan Lamine Yamal. Dua generasi, dua ikon, dua wajah sepak bola dunia. Namun pertandingan ini sesungguhnya menyimpan kisah yang jauh lebih menarik. Final ini adalah Rodrigo melawan Rodrigo, terutama jika dipandang dari watak kedua tim yang akan bertarung.

Dua pemain yang sama-sama menjadi jantung permainan timnya, tetapi lahir dari dua dunia yang hampir bertolak belakang. Melalui mereka, Argentina dan Spanyol memperlihatkan dua cara berbeda memandang sepak bola.

Kita mulai dari Rodrigo pertama: Rodrigo De Paul, selanjutnya disebut De Paul.

Ada satu kebiasaan unik yang selalu dia lakukan sebelum memasuki lapangan. Mulut De Paul tak pernah lepas dari permen. Dalam satu pertandingan, De Paul mengunyah hingga 14 butir permen, jumlah yang pasti.

Banyak orang menganggapnya takhayul, sebagaimana ribuan ritual lain yang hidup di sepak bola. Padahal kebiasaan itu lahir bukan dari keyakinan akan keberuntungan, melainkan dari cinta yang diam-diam disimpan kepada sang kakek, Osvaldo.

Ketika De Paul kecil berlatih, Osvaldo selalu menyelipkan beberapa keping uang agar cucunya dapat membeli permen di kantin klub. Bertahun-tahun kemudian, De Paul baru mengetahui bahwa uang itu bukan uang sisa. Itulah ongkos bus perjalanan pulang sang kakek yang memilih jalan kaki sekitar 50 blok, agar cucunya bisa menikmati rasa manis sebelum mengejar mimpi di lapangan.

Pengorbanan kecil itu bukan kisah yang asing di Argentina.

Di negeri yang berkali-kali dihantam krisis ekonomi, sepak bola sering kali bukan sekadar olahraga. Sepak bola menjadi alat mobilitas vertikal, tangga sosial yang paling mungkin dipanjat keluarga-keluarga pekerja. Orang tua rela mengorbankan ongkos, waktu, bahkan tenaga agar anak-anak mereka dapat terus berlatih. Mereka tahu, satu kontrak profesional bisa mengubah nasib seluruh keluarga.

Jonathan Wilson dalam Angels with Dirty Faces menyebut pengalaman itu sebagai bagian dari budaya potrero, lapangan-lapangan sederhana yang melahirkan pemain penuh improvisasi, keberanian, dan naluri bertahan hidup. Dari sana lahir sepak bola Argentina yang keras, cerdik, dan tak pernah berhenti percaya bahwa kemenangan dapat mengubah kehidupan.

Setiap kali De Paul mengunyah permen sebelum pertandingan, ritual itu terasa seperti cara mengirim kabar kepada seorang lelaki yang tak sempat melihat cucunya mengenakan seragam Albiceleste.

Lalu ada Rodrigo kedua. Rodrigo Hernandez, atau Rodri.

Jika De Paul mengejar sepak bola sebagai jalan keluar dari keterbatasan ekonomi, Rodri tumbuh dalam keluarga profesional kelas menengah atas di Madrid. Ayahnya seorang insinyur, ibunya seorang eksekutif pemasaran. Di rumah mereka, sepak bola tidak pernah menjadi satu-satunya masa depan.

Ketika bakat Rodri mulai menarik perhatian klub-klub besar, keluarganya justru meminta sang anak tetap menyelesaikan pendidikan. Rodri meraih gelar Administrasi Bisnis di Universidad Jaume I sambil bermain profesional bersama Villarreal. Baginya, sepak bola adalah peluang. Pendidikan adalah jaminan apabila suatu hari karier di lapangan berakhir.

Pilihan itu mencerminkan budaya yang lazim di Spanyol, terutama di kalangan keluarga kelas menengah. Anak-anak didorong mengejar prestasi akademik dan olahraga secara bersamaan. Akademi sepak bola dikenal memberi perhatian serius terhadap pendidikan formal pemain mudanya.

 

Harapan dan Keteraturan

Jika De Paul adalah cerita tentang harapan, Rodri adalah cerita tentang keteraturan. Perbedaan latar belakang itu seolah ikut menjelma menjadi cara mereka bermain.

Rodri menjadi pusat gravitasi permainan Spanyol. Hingga menjelang final, Opta mencatat peraih Ballon d'Or itu mencatat rata-rata 101 operan dan 94 operan sukses setiap 90 menit. Rodri menyentuh bola 114 kali per laga, serta telah menyelesaikan 655 operan sekaligus rekor terbanyak dalam satu edisi Piala Dunia. Bahkan rata-rata operan suksesnya melampaui catatan Xavi pada Piala Dunia 2010.

Ketika Spanyol membangun serangan, Rodri selalu menjadi simpul pertama. Ketika rekan setim membutuhkan jalan keluar dari tekanan, Rodri selalu menawarkan ruang.

Sebaliknya, statistik De Paul hampir tidak menarik perhatian. Nol gol. Nol assist.

Namun angka-angka itu justru menipu. De Paul memulai seluruh pertandingan Argentina di Piala Dunia ini. De Paul adalah pelindung Messi, mesin penekan lawan, penghubung lini tengah, sekaligus pemain pertama yang berlari ketika Argentina kehilangan bola. Julukannya El Motorcito alias mesin kecil yang menggambarkan perannya dengan sempurna.

De Paul tidak datang ke Piala Dunia untuk mengejar statistik. De Paul datang agar statistik Messi, Lautaro Martinez, dan Julian Alvarez menjadi mungkin.

Jika Messi adalah pena yang menulis sejarah Argentina, maka De Paul menjadi tangan yang memegang kertasnya.

Karena itu, final ini bukan hanya benturan dua tim terbaik. Final ini juga benturan dua cara sebuah bangsa memandang sepak bola.

Spanyol melihat sepak bola sebagai ilmu keteraturan. Sid Lowe, kolumnis yang sering menulis tentang sepak bola Spanyol berkali-kali menggambarkan keberhasilan La Roja sebagai kemenangan organisasi, penguasaan ruang, dan kontrol ritme pertandingan. Penguasaan bola berkembang menjadi keyakinan bahwa struktur lebih penting daripada improvisasi individu.

Argentina memandang sepak bola dari arah yang lain. Sepak bola Argentina lahir dari jalan-jalan sempit, dari keluarga pekerja, dari keyakinan bahwa satu pertandingan dapat mengubah kehidupan. Yang mereka bawa ke lapangan bukan hanya taktik, melainkan juga sejarah keluarga dan pengorbanan orang tua.

Tentu kecenderungan ini tidak berlaku mutlak. Argentina juga melahirkan pemain dari keluarga mapan, sebagaimana Spanyol memiliki pemain yang datang dari latar sederhana. Namun, jika melihat wajah kedua tim secara keseluruhan, polanya cukup jelas. Spanyol lebih banyak menghasilkan pemain yang tumbuh di keluarga kelas menengah dengan budaya pendidikan, akademi, dan perencanaan karier. Di Spanyol, sepak bola menjadi salah satu jalan meraih prestasi, tetapi bukan satu-satunya.

Sebaliknya, Argentina melahirkan lebih banyak pemain dari keluarga pekerja yang memandang sepak bola sebagai kesempatan mengubah kehidupan. Di Argentina, bagi banyak keluarga, sepak bola sering kali menjadi jalan yang paling nyata untuk mengubah nasib. Latar sosial inilah yang ikut membentuk citra Argentina sebagai tim yang lebih emosional, kompetitif, dan bermental petarung.

Maka ketika Spanyol dan Argentina bertemu di MetLife Stadium, yang saling berhadapan bukan sekadar dua sistem permainan. Yang bertemu adalah dua filsafat hidup.

Perbedaan titik berangkat itu tidak menentukan karakter setiap individu, tetapi cukup sering tercermin dalam watak kolektif kedua tim ketika memasuki lapangan.

Satu membangun sepak bola seperti insinyur merancang jembatan: setiap ruang dihitung, setiap umpan memiliki alasan. Yang lain memainkannya seperti seorang petarung yang memahami bahwa setiap duel bisa menentukan masa depan keluarganya.

Opta Analyst memang sedikit lebih mengunggulkan Spanyol. Superkomputer mereka memberi peluang kemenangan 45 persen bagi La Roja, sementara Argentina 26 persen, dengan kemungkinan laga berakhir imbang dalam 90 menit sebesar 29 persen.

Namun sejarah Piala Dunia berulang kali menunjukkan bahwa Argentina adalah tim yang paling gemar mempermalukan probabilitas.

Jika menerjemahkan superkomputer Opta sesuai watak kedua tim sepanjang turnamen, keanggunan kolektif Spanyol diprediksi akan sedikit lebih kuat daripada mental petarung Argentina. Bisa jadi final berlangsung ketat hingga menit-menit akhir.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya