Harga Emas Sepekan Anjlok 3%, Ini Penyebabnya

Selama sepekan, harga emas alami penurunan terbesar dalam enam minggu. Namun, harga emas ditutup menguat 1,1% jelang akhir pekan.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 18 Juli 2026, 07:26 WIB
Seorang penjual berjalan melewati kalung emas yang dipajang selama festival Hindu 'Akshaya Tritiya', hari keberuntungan dalam kalender Hindu untuk membeli barang-barang berharga, di ruang pamer perhiasan di Chennai, India. (Arun SANKAR / AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas alami koreksi mingguan terbesar dalam enam minggu pada Jumat, 17 Juli 2026 waktu setempat. Tekanan terhadap harga emas dunia seiring meningkatnya konflik Amerika Serikat (AS)-Iran sehingga menekan harga minyak, menambah tekanan inflasi dan memperkuat potensi kenaikan suku bunga AS.

Mengutip CNBC, Sabtu (18/7/2026), harga emas spot naik 1,1% menjadi US$ 4.015,09 per ons, setelah menyentuh titik terendah sejak 1 Juli. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus menguat 0,7% menjadi US$ 4.018,80.

Logam mulia telah merosot 3% pada pekan ini, dan merupakan penurunan terbesar sejak 1 Juni 2026. Hal ini di tengah konflik Timur Tengah mengalahkan dukungan dari inflasi AS Juni yang lebih rendah yang dirilis pekan ini.

“Emas mulai bergerak naik hari ini setelah harga logam tersebut turun di bawah US$ 4.000 menarik minat pembeli,” ujar Chief Market Analyst KCM Trade, Tim Waterer.

Waterer menuturkan, risiko geopolitik di Timur Tengah masih ada. Kekhawatiran inflasi dan imbal hasil menjadi kekuatan dominan yang menahan harga emas.

Harga minyak telah naik sekitar 12% pekan ini karena konflik AS-Iran yang meningkat menimbulkan kekhawatiran pasokan.

Lonjakan harga minyak berisiko memicu kembali kekhawatiran inflasi, dan meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga. Emas yang tidak memberikan imbal hasil biasanya kesulitan dalam lingkungan suku bunga tinggi. Hal ini karena investor cenderung beralih ke aset yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Presiden Federal Reserve Dallas, Lorie Logan, menjadi kolega baru Ketua Fed Kevin Warsh pertama yang secara terbuka menyerukan kenaikan suku bunga. Wakil Ketua Fed, Philip Jefferson, juga mengisyaratkan terbuka untuk menaikkan suku bunga jika tidak ada perbaikan inflasi dalam waktu dekat.

Para pedagang memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 73% pada Desember, menurut CME FedWatch Tool.

Diskon emas di India melebar ke level tertinggi dalam satu bulan pekan ini karena harapan akan harga yang lebih rendah membuat pembeli tetap waspada, sementara premi di China sebagian besar tetap stabil.

Harga Emas Dunia

Ilustrasi Harga Emas Hari Ini di Dunia. Foto: DAVID GRAY | AFP

Sebelumnya, harga emas dunia melemah pada perdagangan Kamis, 16 Juli 2026 (Jumat pagi Jakarta). Koreksi harga emas dunia terjadi seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah mendorong imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) lebih tinggi. Hal itu meningkatkan kekhawatiran inflasi dan memperkuat harapan kenaikan suku bunga AS.

Mengutip CNBC, Jumat (17/7/2026), harga emas spot turun 1,7% menjadi US$ 3.989,95 per ons, setelah turun 2%. Kontrak berjangka emas AS merosot 1,4% menjadi US$ 3.994,30.

Pelaku pasar sekarang memperkirakan sekitar 55% kemungkinan Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada September, menurut CME FedWatch Tool.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun acuan sedikit meningkat. Dolar AS menguat sekitar 0,3%, membuat emas batangan lebih mahal bagi pembeli luar negeri.

 

Sentimen Harga Emas Lainnya

Ilustrasi harga emas dunia hari ini (Foto By AI)

Di sisi lain, Ketua Fed Kevin Warsh minggu ini menyatakan tekadnya untuk menurunkan inflasi tanpa secara spesifik memberikan petunjuk tentang caranya.

Sementara itu, data yang dirilis pada Selasa menunjukkan inflasi konsumen AS melambat pada Juni, sedangkan data dari Rabu menunjukkan penurunan indeks harga produsen.

“Meskipun beberapa data ekonomi jangka pendek melunak, harga energi yang terus tinggi akan menyulitkan The Fed untuk mengadopsi sikap yang lebih lunak. Karena alasan yang sama, investor lebih memilih dolar daripada emas yang tidak memberikan imbal hasil,” ujar Analis Forex.com, Fawad Razaqzada, dalam sebuah catatan.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya