Liputan6.com, Jakarta - Ada perubahan menarik dalam peta investasi hilirisasi Indonesia pada kuartal II 2026. Jika selama ini nikel menjadi sektor dengan investasi terbesar, kini posisi tersebut diambil alih oleh bauksit.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengatakan pergeseran tersebut terjadi seiring meningkatnya pembangunan proyek hilirisasi bauksit, baik oleh investor dalam negeri maupun asing.
Advertisement
"Kalau kita lihat, biasanya itu nikel selalu di nomor satu. Nah sekarang ada shifting, bauksit ini nomor satu. Biasanya kita tahu selalu nikel, nah ini ada shifting bauksit," kata Rosan dikutip Jumat (17/7/2026).
Menurut dia, meningkatnya investasi pada sektor bauksit dipicu pembangunan sejumlah proyek pengolahan yang mulai memasuki tahap realisasi.
Meski demikian, Rosan menegaskan pemerintah tetap ingin memperluas hilirisasi ke berbagai komoditas lain sehingga tidak hanya bergantung pada mineral.
Rosan mengatakan pemerintah kini mendorong hilirisasi komoditas seperti kelapa sawit, karet, kayu, pasir silika hingga sektor perikanan.
Menurut dia, Indonesia telah berhasil membangun ekosistem hilirisasi nikel yang relatif lengkap, mulai dari bijih nikel hingga produksi baterai kendaraan listrik.
"Kita sudah mempunyai the whole ecosystem-nya. Itu juga yang kita ingin laksanakan untuk bauksit juga, turunan dari kelapa sawit dan karet, kayu, pasir silika dan yang lain-lainnya," ujar Rosan.
Investasi Semester I 2026 Tembus Rp 1.010,6 Triliun
Sebelumnya, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi sepanjang semester I 2026 mencapai Rp 1.010,6 triliun. Angka tersebut setara 49,5% dari target investasi nasional tahun ini sebesar Rp 2.041,3 triliun.
"Target di tahun 2026 ini total target secara keseluruhan adalah Rp 2.041,3 triliun dan pada semester pertama atau dari Januari sampai dengan Juni ini di 2026 pencapaian yang sudah dilakukan pengeluaran oleh para investor di Indonesia itu mencapai Rp 1.010,6 triliun atau peningkatan 7,2% year on year. Dan ini target sesuai dengan target kami itu adalah 49,5% dari total target dalam 1 tahun," kata Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, dalam Konferensi Pers di Kantor Presiden, Kamis (16/7/2026).
Ia mengatakan, capaian tersebut diraih di tengah ketidakpastian global akibat tantangan geopolitik dan geoekonomi. Meski demikian, minat investor untuk menanamkan modal di Indonesia tetap terjaga dan sesuai dengan target yang ditetapkan pemerintah.
"Di tengah masih tantangan geopolitik maupun geoekonomi dunia, alhamdulillah bisa saya sampaikan di sini, komitmen dari para investor untuk berinvestasi langsung di Indonesia atau foreign direct investment, ini masih inline dengan target yang dicanangkan, yang kita set up oleh Bapenas kepada kami untuk tahun di 2026 ini," ujar dia.
Secara tahunan, realisasi investasi pada Januari-Juni 2026 tumbuh 7,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Rosan optimistis target investasi sepanjang 2026 dapat tercapai dengan mempertahankan tren investasi pada semester kedua.
Penyerapan Tenaga Kerja Melonjak
Selain mencatat pertumbuhan nilai investasi, realisasi investasi sepanjang semester I-2026 juga memberikan dampak terhadap penciptaan lapangan kerja. Rosan menyebut, investasi yang masuk berhasil menyerap 1.448.862 tenaga kerja. Jumlah tersebut meningkat sekitar 15% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Dan yang paling penting adalah kita bisa lihat di sini penyerapan tenaga kerjanya itu mencapai 1.448.862 orang atau kurang lebih peningkatan 15% dibandingkan tahun sebelumnya," ujarnya.
Dari sisi sumber investasi, kontribusi penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) tercatat hampir seimbang. PMDN mencapai R p502,9 triliun atau 49,8% dari total investasi, sedangkan PMA sebesar Rp 507,6 triliun.