Liputan6.com, Jakarta - Gelaran akbar Piala Dunia 2026 kini telah mencapai puncaknya. Babak final akan mempertemukan sang juara bertahan, Argentina, dengan jawara Eropa, Spanyol, pada Minggu, 19 Juli 2026 waktu setempat, atau Senin (20/7/2026) dini hari WIB. Pertandingan perebutan trofi paling bergengsi ini akan berlangsung di Stadion New York New Jersey, Amerika Serikat.
Piala Dunia 2026 mencatatkan diri sebagai turnamen terbesar sepanjang sejarah sepak bola karena diikuti oleh 48 negara. Jumlah kontestan ini merupakan format terbaru dalam sejarah turnamen, setelah FIFA memutuskan menambah jumlah peserta putaran final yang sebelumnya hanya diikuti oleh 32 negara.Miliaran Dolar AS Berputar, Siapa yang Paling Diuntungkan?
Advertisement
Sebagai turnamen olahraga terbesar di dunia, ajang ini berhasil memutar dan menghasilkan uang hingga miliaran dolar AS. Melimpahnya pendapatan ini tentu melipatgandakan keuntungan bagi pihak-pihak tertentu. Berdasarkan analisis dari BBC Sport dan Deutsche Bank Research, FIFA, lembaga penyiaran, sponsor utama, serta perusahaan taruhan menjadi pihak-pihak yang paling diuntungkan dari ekspansi format baru ini.
Namun, tidak semua pihak merasakan dampak manis secara finansial. Di balik perputaran uang yang masif tersebut, para suporter, sejumlah kota tuan rumah, serta industri perhotelan lokal justru harus menghadapi berbagai tantangan finansial yang berat akibat tingginya biaya operasional dan inflasi harga selama turnamen berlangsung.
Melansir BBC, Jumat (17/7/2026), berikut adalah daftar pihak yang paling diuntungkan dan dirugikan oleh Piala Dunia 2026:
Pihak yang Untung
1. FIFA
Jumlah uang yang dihasilkan FIFA melalui Piala Dunia sangat fantastis. Piala Dunia 2022 di Qatar mencatat keuntungan sebesar US$ 7,6 miliar, atau sekitar Rp 136,2 triliun (asumsi kurs Rp 17.919 per dolar AS). Angka ini diprediksikan akan meningkat, karena tim yang tadinya berjumlah 32 negara ditambah menjadi 48 negara pada tahun ini.
Analis senior Deutsche Bank Research, Marion Laboure, mengatakan bahwa FIFA “sudah pasti” adalah pemenang utama acara olahraga ini, karena pendapatannya selama siklus periode empat tahun mendekati angka US$ 13 miliar, yaitu sekitar Rp 232,9 triliun, didapat dari penjualan hak siar, hak lisensi dan keramahan, sponsor, serta penjualan tiket.
Laboure menambahkan, FIFA juga merambah pasar sekunder melalui platform penjualan kembali dengan mengambil pajak 15% dari pembeli dan penjual.
Peningkatan ini diprediksi akan berlanjut, karena FIFA berencana melakukan ekspansi lagi dengan mengikutsertakan 64 tim, yang mungkin mencakup China dan India, serta miliaran tambahan penonton dari sana.
2. Lembaga Penyiaran dan Sponsor
FIFA memasukkan jeda minum pada Piala Dunia 2026, yang diklaim Infantino “sepenuhnya kepentingan keolahragaan” tanpa pemasukan tambahan untuk organisasi tersebut. Namun jeda ini memberi kesempatan bagi penyiar dan sponsor untuk menampilkan iklan selama 90 detik.
Fox Sports dikabarkan membayar US$ 485 juta untuk hak siar, dan jeda minum ini mereka sebut “disponsori” oleh sebuah brand. Menurut ahli, iklan 30 detik biasanya diberi harga US$ 200 ribu, sekitar Rp 3,6 miliar, hingga US$ 300 ribu, atau Rp 5,4 miliar. Harganya sempat mencapai US$ 750 ribu, atau sekitar Rp 13,4 miliar pada babak final pertandingan AS.
Artinya, jeda ini bisa menghasilkan untung sebanyak US$ 250 juta, atau sekitar Rp 4,4 triliun di AS jika peraturannya tidak diganti.
“Format ini akan menetap karena skala adalah strategi bisnis FIFA sekarang,” pungkas Laboure.
Sedangkan, penonton dari Inggris yang menonton melalui saluran TV lokal terhindari dari iklan karena peraturan yang berlaku.
Sponsor resmi Piala Dunia juga membayar biaya tak sedikit, namun dapat dipastikan meraih untung finansial, contohnya Adidas dan Coca-Cola yang namanya terpampang di mana-mana.
3. David Beckham
Iklan Adidas juga menampilkan Sir David Beckham yang dihasilkan oleh AI. Meskipun Beckham sudah pensiun lebih dari satu dekade lalu, ia terus menjadi ikon sepakbola.
Klub Amerika miliknya, Inter Miami, diperkirakan menjadi klub terkaya Major League Soccer. Total kekayaannya sebanyak US$ 1,45 miliar, atau sekitar Rp 26 triliun. Oleh karenanya, Beckham dianggap sebagai ‘pemenang’ Piala Dunia dalam segi periklanan.
4. Perusahaan Judi
Piala Dunia 2026 berpotensi menjadi acara judi terbesar sepanjang masa. Firma finansial yang tertarik dengan industri perjudian, Macquarie, memperkirakan sebanyak US$ 500 juta, atau sekitar Rp 9 triliun dipertaruhkan per pertandingan, dan secara total mencapai US$ 50 miliar, atau Rp 895,3 triliun.
Pemilik Paddy Power, Betfair, dan Sky Bet, Flutter Entertainment, memperkirakan bahwa jumlah taruhan akan dua kali lipat dibanding turnamen sebelumnya. Ini karena akan ada lebih banyak pertandingan, yakni lebih dari 100, serta pertumbuhan di AS dan Brasil.
Analis di Macquarie, Chad Beynon, mengungkap bahwa in-play betting (taruhan langsung) telah menggantikan pre-match punt (taruhan pra-pertandingan).
“Sekarang semuanya tentang menyesuaikan dengan apa yang terjadi di lapangan. Sedangkan, sebelumnya harus menunggu karena taruhan dilakukan sebelum pertandingan,” ujarnya.
Pihak yang Rugi
1. Penonton
Meskipun penonton dapat mencapai mimpi mereka untuk menyaksikan Piala Dunia, beban finansialnya tak dapat dipungkiri. Selain tiket, penonton harus membayar biaya penerbangan, makanan, dan akomodasi.
FIFA sendiri telah dikritik karena strategi penetapan harganya, yakni mendongkrak harga saat permintaan meningkat. Tiket untuk babak final MetLife Stadium di New Jersey dibanderol US$ 32.970, atau Rp 590,7 juta, sedangkan tiket resale dijual lebih dari US$ 2 juta, atau sekitar Rp 35,8 miliar.
Presiden FIFA, Infantino membela hal ini, berpendapat bahwa harganya setara dengan acara keolahragaan AS yang lain.
Sementara itu, Presiden AS, Donald Trump bahkan mengakui bahwa ia “tidak mau membeli” saat ditanyakan tentang kemungkinan harga tiket sebesar US$ 1 ribu, atau Rp 17,9 juta untuk pertandingan pembuka AS dengan Paraguay.
Selain itu, sempat heboh bahwa tiket kereta transit New Jersey meroket dari angka US$ 12.90, atau Rp 231,4 ratus ribu ke US$ 150, atau sekitar Rp 2,7 juta. Meski sudah turun karena respon publik yang buruk, harga tiket perjalanan 30 menit menuju MetLife Stadium tetap lebih tinggi dari biasanya.
2. Negara Penyelenggara
Sebanyak 16 negara penyelenggara di AS, Kanada, dan Meksiko telah kebanjiran penggemar sepakbola dan turis yang meningkatkan bisnis pelayanan, hotel, dan bisnis lokal lainnya. Namun, menurut ahli, efek jangka panjang ekonominya terhitung rendah.
FIFA memperkirakan keuntungan ekonomi global sebanyak US$ 41 miliar, atau sekitar Rp 734,5 triliun, dan US$ 17 miliar atau Rp 304,5 triliun di antaranya untuk AS, dengan terciptanya 185.000 lapangan pekerjaan di bidang perhotelan.
Namun, seorang peneliti di bidang praktik manajemen di Universitas Oxford dan direktur eksekutif perusahaan manajemen proyek Oxford Global Projects, Alexander Budzier, mengatakan bahwa keuntungan dari acara keolahragaan besar tidak terwujudkan.
Justru, negara penyelenggara biasanya mengalami pengurangan pengunjung yang masif karena mereka menghindari keramaian dari pertandingan.
Selain itu, lapangan kerja yang diciptakan hanya untuk pekerjaan bergaji rendah di bidang pelayanan. “Itu hanya menciptakan pekerjaan, bukan kesejahteraan,” ujarnya. Data menunjukkan bahwa lowongan di pub, bar, dan restoran meningkat di bulan Mei, namun itu tidak bertahan lama.
Satu-satunya keuntungan ekonomi bagi Budzier adalah proyek pembangunan kembali dan perumahan yang dibangun di Stratford, London, setelah Olimpiade 2012. Hal seperti itu tidak terjadi tahun ini.
3. Hotel
Permintaan kamar hotel yang diharapkan tidak terwujud, dan berbagai asosiasi industri melaporkan jumlah pemesanan di kota-kota penyelenggara tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun lalu.
Asosiasi Hotel British Columbia menyatakan bahwa meskipun angka pemesanan akhir belum dikonfirmasi, tren pemesanan pada bulan Juni dan Juli “jauh tertinggal dibandingkan tahun-tahun sebelumnya”, meskipun Vancouver menjadi penyelenggara tujuh pertandingan di Kanada.
Asosiasi tersebut menyatakan bahwa turnamen “tidak menciptakan 40 hari berturut-turut di mana hotel-hotel penuh”, melainkan menyebabkan lonjakan permintaan pada tanggal-tanggal tertentu.
Asosiasi Hotel dan Penginapan Amerika (AHLA) menuduh FIFA melakukan pemesanan massal terlalu banyak kamar untuk keperluan sendiri dan menciptakan permintaan palsu. FIFA menyatakan tidak mengakui tuduhan tersebut.
Laboure mengatakan hal serupa terjadi di Prancis pada tahun 1998 ketika permintaan tidak memenuhi ekspektasi.
“Pada bulan April, 80% operator hotel AS mengatakan pemesanan berada di bawah perkiraan awal mereka, dua pertiga pengelola hotel di New York melaporkan pemesanan yang lebih rendah dari yang diharapkan, dan di Seattle hampir 80% melaporkan hal yang sama, dengan banyak di antaranya menyebut turnamen tersebut sebagai ‘bukan peristiwa penting’,” tambahnya.