Liputan6.com, Jakarta - Rencana integrasi koridor wilayah logistik yang tengah disiapkan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) dinilai menjadi langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi distribusi barang nasional. Salah satu ruas yang menjadi fokus pembahasan ialah Jalan Tol Cibitung-Cilincing (JTCC).
Ruas tol tersebut memiliki peran penting karena menghubungkan kawasan industri di timur Jakarta dan Jawa Barat dengan Pelabuhan Tanjung Priok.
Advertisement
Anggota BPJT dari unsur masyarakat, Tulus Abadi, mengatakan integrasi koridor wilayah logistik pada JTCC merupakan bagian dari upaya pemerintah memperkuat konektivitas logistik nasional melalui jaringan jalan tol. Dia menuturkan, skema tersebut juga akan diterapkan pada sejumlah ruas tol lain yang memenuhi persyaratan.
“Rencana integrasi pada JTCC merupakan bagian dari upaya konektivitas yang lebih luas dan mencakup sejumlah ruas tol lain yang memenuhi persyaratan,” ujar Tulus di Jakarta, dikutip Kamis (16/7/2026).
Sementara itu, pengamat kebijakan publik Agus Pambagio menilai keberhasilan integrasi tidak hanya bergantung pada penyatuan tarif, tetapi juga memerlukan regulasi yang jelas sebagai dasar koordinasi antar Badan Usaha Jalan Tol (BUJT).
“Peraturan Menteri (Permen) memang harus ada sebagai dasar pelaksanaan integrasi. Yang tidak kalah penting adalah tata kelola dan pengawasannya, supaya integrasi berjalan konsisten dan memberikan kepastian bagi semua pihak,” kata Agus.
Ia menambahkan bahwa sistem tarif yang terintegrasi akan membuat layanan jalan tol lebih efisien dan memudahkan pengguna. Namun, efektivitas kebijakan tetap bergantung pada pengawasan yang konsisten.
Kepastian Regulasi
Dari sisi pelaku usaha, Sekretaris Jenderal ALFI Institute Trismawan Sanjaya menilai kepastian regulasi menjadi faktor penting bagi industri logistik dalam menyusun strategi distribusi dan perencanaan bisnis.
“Kalau tarif masih terpotong-potong, itu menjadi high cost bagi industri logistik,” katanya saat dikonfirmasi, Kamis pekan ini.
Dia menilai, integrasi tarif akan menekan biaya logistik sekaligus meningkatkan kepercayaan investor terhadap iklim usaha di Indonesia.
“Kalau tarifnya sudah terintegrasi, pelaku usaha punya lebih banyak pilihan rute, sementara regulasi yang jelas akan meningkatkan kepercayaan dunia usaha dan investor,” ujar Trismawan.