Harga Minyak Tergelincir Usai Ketegangan di Timur Tengah Meningkat

Harga minyak Brent dan WTI kompak melemah seiring gangguan di Selat Hormuz. Akan tetapi, harga minyak masih di kisaran US$ 84.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 17 Juli 2026, 07:36 WIB
Ilustrasi Harga Minyak Dunia Hari Ini. Foto: AFP

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia merosot sekitar 1% pada Kamis, 16 Juli 2026 (Jumat pagi Jakarta). Namun, harga minyak masih mendekati level tertinggi sejak pertengahan Juni karena perang Iran meningkat. Teheran meminta Houthi Yaman bersiap menutup jalur ekspor minyak Laut Merah.

Mengutip CNBC, Jumat (17/7/2026), harga minyak Brent turun 0,85% menjadi US$ 84,23 per barel. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS berjangka terpangkas 0,82% menjadi US$ 78,95 per barel. Pada sesi level tertinggi, kedua kontrak naik lebih dari 1%.

Pada Rabu, harga minyak mentah Brent ditutup pada level tertinggi sejak 12 Juni, dan WTI pada level tertinggi sejak 15 Juni.

Iran telah meminta Houthi untuk bersiap menutup jalur minyak Laut Merah jika AS menyerang infrastruktur listrik Iran, tiga sumber mengatakan kepada Reuters. Pekan ini, Presiden AS Donald Trump mengulangi ancaman untuk menyerang pembangkit listrik dan jembatan Iran.

"Dengan Selat Hormuz yang sudah tertutup, ancaman ini meningkatkan risiko serius terganggunya kedua jalur ekspor minyak utama Timur Tengah secara bersamaan,” kata Direktur di perusahaan pialang StoneX, Alex Hodes.

Total volume minyak bumi yang melewati Bab el-Mandeb mencapai 7,4 juta barel per hari pada bulan Juni, atau sekitar 7% dari produksi minyak global, menurut data Kpler, naik dari 4,2 juta barel per hari tahun lalu.

“Gangguan simultan yang memengaruhi Hormuz dan Bab el-Mandeb akan secara signifikan memperkuat tekanan rantai pasokan, meningkatkan kendala ketersediaan kapal tanker, dan menaikkan premi asuransi,” ujar Financial Markets Strategist Lead Exness, Wael Makarem.

 

Ketegangan di Timur Tengah

Ilustrasi Harga Minyak Dunia. Foto: AFP

Pada Rabu, AS menyerang pertahanan pantai dan situs rudal Iran setelah memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhannya. Teheran mengancam akan menghentikan lebih banyak ekspor energi regional, dengan mengatakan bahwa mereka terlibat dalam "perang eksistensial" dengan Amerika.

Gencatan senjata yang rapuh yang dicapai pada Juni telah runtuh, mengganggu aliran energi melalui Selat Hormuz, yang menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dan LNG global harian sebelum perang dimulai.

Tujuh kapal melewati selat pada Rabu, sehari setelah AS memberlakukan kembali blokade angkatan lautnya terhadap Iran, turun dari 13 kapal pada hari sebelumnya.

"Tidak mungkin (penurunan penyeberangan Selat) berubah tanpa meredanya ketegangan," kata Hodes.

Iran dan AS saling bertukar tembakan yang intensif pada hari Kamis, yang terus menekan harga. Yang membebani harga adalah pembebasan seorang warga negara AS oleh Iran, yang dapat menunjukkan jalan untuk mencegah dimulainya kembali perang habis-habisan.

Dari sisi pasokan, pengiriman minyak mentah Irak meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi rata-rata sekitar 1,2 juta barel per hari pada paruh pertama Juli, menurut data Kpler dan sumber yang memiliki pengetahuan langsung tentang arus tersebut. Hal ini karena ekspor meningkat setelah berbulan-bulan pengiriman dibatasi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya