Jangan Sepelekan Kurang Tidur, Berat Badan Bisa Ikut Naik Tanpa Disadari

Tak hanya pola makan dan olahraga, kualitas tidur juga berperan penting dalam menjaga metabolisme, serta membantu mengontrol berat badan.

oleh Alfareza RamadhaniDiterbitkan 16 Juli 2026, 17:00 WIB
Kurang tidur menjadi penyebab makan berlebihan akibat stres. (Sumber: Freepik/benzoix).

Liputan6.com, Jakarta - Jam tidur sering menjadi hal pertama yang dikorbankan saat pekerjaan menumpuk atau aktivitas sehari-hari semakin padat, padahal tidur bukan sekadar waktu bagi tubuh untuk beristirahat setelah beraktivitas.

Di balik itu, tidur berperan penting dalam menjaga keseimbangan berbagai fungsi tubuh, mulai dari proses pemulihan, metabolisme, hingga membantu mengontrol berat badan. Selama ini, kenaikan berat badan lebih sering dikaitkan dengan pola makan yang kurang sehat dan minimnya aktivitas fisik.

Namun, semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa kualitas dan durasi tidur juga memiliki pengaruh besar terhadap berat badan. Saat tubuh terus-menerus kekurangan tidur, berbagai proses biologis yang mengatur rasa lapar, penggunaan energi, hingga metabolisme dapat terganggu dan memengaruhi cara tubuh menyimpan maupun membakar kalori.

Kurang tidur diketahui dapat meningkatkan risiko kenaikan berat badan melalui berbagai mekanisme. Kondisi ini dapat memicu perubahan hormon yang mengendalikan rasa lapar, meningkatkan keinginan mengonsumsi makanan tinggi kalori, serta membuat tubuh lebih mudah lelah sehingga aktivitas fisik pun berkurang.

Sejumlah penelitian juga menemukan bahwa kebiasaan tidur yang kurang secara konsisten berkaitan dengan peningkatan indeks massa tubuh (BMI) dan risiko obesitas dalam jangka panjang, melansir WHOOP, Kamis (16/7/2026).

Temuan tersebut menunjukkan bahwa menjaga berat badan tidak cukup hanya dengan mengatur pola makan dan rutin berolahraga. Memastikan tubuh mendapatkan tidur yang berkualitas dan cukup setiap malam juga menjadi bagian penting dari gaya hidup sehat karena keduanya saling berkaitan dalam menjaga keseimbangan tubuh.

Hormon Pengatur Rasa Lapar Bisa Berubah

Setiap orang memiliki jadwal dan kebutuhan tubuh yang berbeda, sehingga tidak ada satu aturan waktu makan yang bisa berlaku untuk semua. [Dok/freepik.com]

Kurang tidur dapat mengganggu keseimbangan hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang. Saat waktu istirahat tidak mencukupi, produksi hormon ghrelin yang memicu rasa lapar cenderung meningkat.

Sebaliknya, kadar hormon leptin yang memberi sinyal kenyang kepada otak justru menurun. Akibatnya, tubuh lebih cepat merasa lapar meski kebutuhan energi sebenarnya telah terpenuhi.

Kondisi ini juga membuat seseorang lebih mudah mengidam makanan tinggi gula, lemak, dan karbohidrat. Makanan tersebut dianggap mampu memberikan tambahan energi secara instan untuk melawan rasa lelah akibat kurang tidur.

Tanpa disadari, kebiasaan ini dapat meningkatkan total asupan kalori harian karena seseorang lebih sering mengonsumsi camilan atau makanan cepat saji. Jika berlangsung terus-menerus, pola tersebut berpotensi memicu kenaikan berat badan.

Metabolisme dan Aktivitas Fisik Ikut Terpengaruh

Neck tension adalah ketegangan pada otot leher yang sering muncul akibat stres, posisi tubuh yang terlalu lama, atau kebiasaan tidur yang kurang tepat. [Dok/freepik.com]

Kurang tidur tidak hanya membuat tubuh terasa lelah, tetapi juga dapat mengganggu proses metabolisme, yaitu cara tubuh mengubah makanan menjadi energi. Saat waktu istirahat tidak mencukupi, kemampuan tubuh membakar kalori cenderung menurun sehingga keseimbangan antara energi yang masuk dan yang digunakan menjadi lebih sulit dipertahankan.

Di sisi lain, rasa lelah akibat kurang tidur juga membuat seseorang lebih enggan bergerak. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki hingga rutinitas olahraga sering kali terlewat karena tubuh terasa kurang bertenaga.

Akibatnya, jumlah kalori yang dibakar setiap hari ikut berkurang. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, penurunan aktivitas fisik yang disertai metabolisme yang kurang optimal dapat membuat berat badan lebih mudah naik dan semakin sulit dikendalikan dalam jangka panjang.

Tidur Cukup Perlu Jadi Bagian dari Gaya Hidup Sehat

Kurang tidur dapat mempengaruhi mikrobioma usus dan membuat tubuh lebih mudah stres, cemas, serta sulit fokus. (Foto/dok: Freepik)

Tidur yang cukup merupakan salah satu fondasi gaya hidup sehat. Waktu istirahat yang memadai membantu tubuh menjaga keseimbangan hormon, mendukung metabolisme tetap optimal, serta mempercepat proses pemulihan setelah beraktivitas seharian.

Dengan kualitas tidur yang baik, tubuh juga lebih efektif mengatur penggunaan energi dan mengendalikan rasa lapar. Para ahli umumnya merekomendasikan orang dewasa untuk tidur selama tujuh hingga sembilan jam setiap malam.

Namun, durasi saja tidak cukup karena kualitas tidur juga berperan penting. Menjaga jadwal tidur yang konsisten, mengurangi penggunaan gawai sebelum tidur, membatasi konsumsi kafein pada malam hari, serta menciptakan suasana kamar yang nyaman dapat membantu meningkatkan kualitas istirahat.

Kebiasaan sederhana ini tidak hanya membuat tubuh lebih segar saat bangun, tapi juga mendukung upaya menjaga kesehatan dan berat badan dalam jangka panjang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya