Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) sempat salah menggunakan indikator dalam menghitung likuiditas perbankan. Temuan itu menunjukkan data yang positif, tetapi kondisi di lapangan berbanding terbalik.
Hal tersebut diungkap Purbaya ketika menceritakan perkembangan ekonomi nasional pada 2025. Ekonomi Indonesia tumbuh pesat ke level 5,39 persen pada kuartal IV 2025 lalu, salah satunya imbas injeksi Rp 200 triliun dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke bank BUMN.
Advertisement
"Walaupun banyak bank yang bilang liquidity ample. Kalau Bapak tanya LPS, OJK, BI, Keuangan semua bilang ample. Tapi itu data mereka salah semua," kata dia dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR, Rabu (15/7/2026).
Dia mengatakan, data yang menyebut likuiditas bank melimpah (ample) sedikit keliru. Maka, dia meminta pihak Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk mencari indikator baru.
"Saya di LPS cukup lama. Saya minta ke orang-orang LPS, coba cari indikator yang pas. Kenapa ample tapi sebetulnya banknya kurang uangnya. Karena kita monitor kadang-kadang interbank itu naik kencang, kadang-kadang juga deposito naik kencang," tuturnya.
"Jadi ada kesalahan data atau indikator yang kita pakai oleh KSSK selama ini. Saya sudah minta tim KSSK untuk perbaiki itu, tapi rupanya masih belum dapat," Purbaya menambahkan.
Indikator Dasar
Kemudian, Bendahara Negara mengukur dengan indikator dasar. Acuan awalnya adalah menghitung base money (M0) dan perkembangannya. Terlihat tak adanya perkembangan signifikan di periode awal 2025 lalu.
"Base money itu adalah uang yang betul-betul dikendalikan oleh bank sentral yang merupakan bibit dari uang-uang yang berikutnya terjadi. Pada waktu itu, uang tumbuhnya 0 Pak, base money 0," ujar dia.
Berdampak terhadap Pertumbuhan Ekonomi
"Di beberapa bulan mungkin, dari April 2025 sampai Agustus itu, pertumbuhan uang sampai hampir 0. Terus sebelumnya juga pertengahan tahun 2023 sampai awal 2025, Januari-Februari, juga di sekitar 0," Purbaya menambahkan.
Data tersebut mengindikasikan kalau ekonomi sedang direm dan tidak menunjukkan pertumbuhan signifikan. Namun, setelah suntikan dana Rp 200 triliun ke sistem perbankan, ada indikator kenaikan dan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi.
"Kita lihat ketika kita inject, uangnya tumbuh dari 0, di September itu naik ke sampai 11 persen sampai mendekat 13 persen. Itu yang membuat ekonomi kita tumbuh menjadi 5,39 persen di triwulan keempat (2025). Triwulan pertama (2026) kita lanjutkan, ekonomi tumbuh 5,61 persen, triwulan kedua agak terganggu sedikit," urainya.
Kesalahan Data di AS Picu Krisis Silicon Valley
Bendahara Negara ini sempat merujuk pada pengalaman bank di Amerika Serikat (AS) yang kolaps karena diduga salah perhitungan. Bank Sentral AS pada 2023 tak memonitor pergerakan base money (M0) tadi, ketika dana ditarik, status M0 anjlok minus 15,3 persen.
"Bank Sentral Amerika pernah melakukan kesalahan yang sama. Dia enggak monitor M0, suatu saat M0-nya ditarik ke bawah minus 15,3 persen, apa yang terjadi? Maret 2023 ada SVB, Silicon Valley Bank," jelas dia.
"Gambarnya itu. Jadi base money itu masih merupakan indikator yang valid untuk melihat apakah uang di sistem ada apa enggak, untung setelah itu Bank Sentral Amerika insaf," imbuhnya.
Kemudian, kata Purbaya, AS menginjeksi dana ke sistem perbankan untuk menjaga likuiditas bank. Hasilnya adalah pertumbuhan ekonomi yang cukup stabil.
"Sehingga itu yang menyebabkan Amerika Serikat bisa tumbuh sampai sekarang walaupun kadang-kadang bunganya agak tinggi. Jadi itu merupakan salah satu acuan yang saya pegang dan sampai sekarang masih lumayan," terangnya.