Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek Lapangan Abadi Blok Masela pada Kamis (16/7/2026). Agenda tersebut menandai babak baru proyek gas terbesar di Indonesia yang telah tertunda hampir tiga dekade sejak kontrak awal ditandatangani.
Dirangkum dari catatan Liputan6.com, Lapangan Abadi Blok Masela berlokasi di lepas pantai Laut Arafura, Maluku. Blok Masela merupakan salah satu proyek strategis sektor migas dengan nilai investasi mencapai US$ 20,9 miliar atau sekitar Rp 355 triliun.
Advertisement
Lapangan gas abadi ini diperkirakan memiliki cadangan gas sebesar 6,97 triliun kaki kubik (TCF) dan menjadi salah satu lapangan gas laut dalam terbesar di Indonesia.
Perjalanan proyek ini dimulai pada 16 November 1998 ketika Pemerintah Indonesia menandatangani kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/PSC) dengan Inpex Corporation sebagai operator Blok Masela. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 2000, Inpex menemukan cadangan gas raksasa di Lapangan Abadi.
Meski penemuan cadangan dilakukan sejak awal 2000-an, pengembangan proyek berjalan lama. Pemerintah baru menyetujui Rencana Pengembangan Pertama (Plan of Development/PoD-I) pada 2019.
Persetujuan tersebut mencakup produksi 9,5 juta ton LNG per tahun, 150 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD), serta 35.000 barel kondensat per hari.
Perjalanan proyek semakin panjang setelah pemerintah mengubah konsep pengembangan kilang LNG dari lepas pantai (offshore) menjadi darat (onshore) di Pulau Yamdena pada 2016. Perubahan desain tersebut membuat jadwal proyek bergeser dan menjadi salah satu alasan pemerintah memperpanjang kontrak Inpex.
Kontrak yang semula berakhir pada 2028 diperpanjang menjadi 20+7 tahun hingga 2055. Perpanjangan itu disepakati pada Oktober 2017. Tambahan tujuh tahun diberikan sebagai kompensasi atas perubahan skema pengembangan proyek.
Kepemilikan Berubah
Pada 2020, perusahaan energi Shell plc memutuskan keluar dari proyek dengan menjual seluruh kepemilikan partisipasinya 35% di Blok Masela. Kemudian pada 2023, saham ini diambil alih PT Pertamina Hulu Energi Masela sebesar 20% dan Petronas sebesar 15%.
Pemerintah kemudian menyetujui Revisi II PoD-I yang memasukkan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) sebagai bagian dari pengembangan proyek untuk mendukung pengurangan emisi karbon.
Tahapan proyek berlanjut pada 2025 dengan dimulainya Front End Engineering Design (FEED) untuk fasilitas LNG darat sebagai persiapan memasuki fase konstruksi.
Pemerintah pun memasukkan Blok Masela dalam Proyek Strategis Nasional (PSN). Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya mengaku telah mendesak Inpex Masela Ltd, agar proyek migas Lapangan Abadi Blok Masela memulai produksi pada 2029.
Desakan karena dia menemukan adanya 301 sumur konsesi yang sudah menyelesaikan rencana pengembangan (Plan of Development/PoD), namun tidak kunjung masuk tahap produksi, termasuk Blok Masela. Tak lama kemudian Inpex Masela Ltd mulai melakukan tender.
Proyek tersebut ditargetkan mulai memasuki tahap konstruksi pada 2027. Sementara itu, produksi perdana (on-stream) diperkirakan mulai berlangsung pada 2029. "Tahun 2029 hingga 2030, sudah bisa berproduksi, dan itu salah satu giant yang terbesar di Indonesia," kata Bahlil pada Jumat (26/6/2026).
Target Pemerintah
Menurut Bahlil, proyek tersebut segera memasuki babak baru setelah tertunda selama puluhan tahun. Pemerintah terus mendorong percepatan proyek tersebut agar hambatan investasi yang pernah terjadi tidak kembali terulang.
Ia memastikan bahwa sejumlah tahapan krusial telah menunjukkan perkembangan positif, termasuk proses Front End Engineering and Design (FEED).
Groundbreaking yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis (16/7/2026) menjadi tonggak penting setelah hampir 30 tahun proyek ini berada pada tahap perencanaan dan pengembangan.
Proyek Lapangan Abadi diharapkan tidak hanya memperkuat pasokan gas nasional, tetapi juga membuka lapangan kerja hingga sekitar 10.000 orang serta menjadi proyek LNG pertama di Indonesia yang mengintegrasikan teknologi CCS untuk mendukung transisi energi.